Arsip | Mafahim Islamiyah RSS feed for this section

Ruhaniyah dan Jawwu Imani

30 Sep

Mafahim Islamiyah

Mafahim Islamiyah

Kesadaran hubungan seorang manusia dengan Allah swt (idrak shillah billahi) merupakan pangkal dari ketaatan manusia kepada Tuhan-nya. Melalui ketaatan inilah seorang manusia akan mencapai keluhuran tingkah laku. Dan sebaliknya, melalui ketidaktaatan ini pula lah manusia mengawali tindak-tanduknya di muka bumi ini sebagai manusia yang berakhlak bejat.

Allah swt mengajak manusia untuk berpikir tentang keadaannya dan sekitarnya. Merenungkan fenomena-fenomena alam. Bagaimana dia tercipta. Bagaimana langit dan bagaimana gunung. Bagaimana kematian datang secara tiba-tiba. Dan tentang berbagai hal yang terdekat hingga yang terjauh dari jangkauan inderanya.

“Hai manusia, jika kalian dalam keraguan tentang kebangkitan dari kubur, maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menciptakan kalian dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, supaya Kami jelaskan kepada kalian, dan Kami tetapkan dalam rahim apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kalian sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) sampailah kalian pada kedewasaan…” (QS. Al-Hajj: 5)

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhan-mu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah”. (QS. Al-‘Alaq: 1-2)

“Sesungguhnya dalam penciptaan semua langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” (QS. Ali Imran: 190)

Kesadaran manusia digugah dengan mengajaknya berpikir dan merenungi keadaan diri dan sekitarnya. Memahami hakikat alam semesta. Dari penciptaannya hingga kematiannya. Dan akan seperti apa keadaan hari yang kemudian kelak. Setelah kesadarannya digugah, manusia pun diberi peringatan tentang hubungannya dengan Allah swt dan semua makhluk. Hubungan ini disebut hubungan penciptaan (shillatu khalqi).

Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan. Dan langit bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan? Dan bumi bagaimana ia dihamparkan. Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya engkau hanyalah orang yang memberi peringatan”. (QS. Al-Ghasyiyah: 17-21)

Islam dihadirkan untuk menuntut ummat manusia. Tuntutan itu berisi suatu perintah yang tegas agar manusia mengikatkan diri pada segala perintah Allah swt dan segala larangan-Nya. Suatu tuntutan yang tegas agar manusia memadukan materi (ingat! Manusia adalah sistem hidup yang terbentuk dari materi) dengan kesadaran hubungannya dengan Allah swt (idrak shillah billahi).

“Ikutilah apa yang diturunkan kepada kalian dari Tuhan kalian dan janganlah kalian mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya” (QS. Al-A’raf: 3)

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang beriman dan tidak (pula) bagi perempuan yang beriman, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka.” (QS. Al-Ahzab: 36)

Melalui aktivitas berpikir tentang dirinya, sekitarnya, dan alam semesta, manusia akan menemukan dirinya dalam kekerdilan yang nyata dibanding Yang Maha Agung. Perasaan manusia akan keagungan, kekuasaan dan pengetahuan dari Yang Maha Agung, yakni Allah swt, ini merupakan nilai rohani (ruhaniyah). Ketika perasaan ini terus berkesinambungan, manusia bisa hidup dalam kondisi iman (jawwu imani). Perasaan ini akan mendorong manusia untuk mengikatkan diri dengan segala perintah dan larangan Allah swt. Dengan penuh kesadaran, keridhoan, dan ketenangan (thuma’ninah). Sedangkan aspek ruhiyah (spritual) pada segala sesuatu ialah segala sesuatu itu merupakan makhluk dari al-Khaliq, yakni Allah swt. Aspek ruhiyah ini hanya bisa dipahami oleh mereka-mereka yang beriman kepada eksistensi al-Khaliq.

Wallohu a’lam bi ash-showaab…

Kisaran, 29 September 2009

Ikhwan Muslim Nasution

Bahan bacaan: Mafahim Islamiyah karya Muhammad Husain Abdullah

Ruh sebagai Sirrul Hayat

29 Sep

Fenomena

Fenomena

“Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: ruh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kalian diberi pengetahuan (tentang ruh) melainkan sedikit..” (QS. Al-Isra’: 85)

“(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat, sesungguhnya Aku telah menyempurnakan kejadiannya dan Ku tiupkan padanya ruh (ciptaan) Ku, maka hendaklah kalian tersungkur dengan bersujud kepadanya” (QS. Shad: 71-72)

Indera manusia yang serba terbatas tidak mampu memahami realita ruh ini. Manusia hanya mampu memahami eksistensi ruh itu melalui penampakan-penampakannya (mazhahir). Mazhahir ruh itu antara lain tumbuh, bergerak dan bereproduksinya manusia. Ketika mazhahir ini sudah tidak ada pada diri manusia, maka dikatakan manusia itu tidak hidup lagi dan pada dirinya sudah tidak terdapat ruh.

Ruh adalah rahasia kehidupan (sirrul hayat). Bukan bagian dari diri manusia, sebagaimana anggapan orang Barat dan orang-orang sebelum mereka, yakni orang-orang Yunani pada masa lampau. Mereka, Barat dan Yunani tempo doeloe, menyatakan bahwa manusia terbentuk dari materi dan ruh. Ruh itu sendiri merupakan pancaran (emanasi) dari zat Allah swt. Luhur tidaknya tingkah laku seseorang ditentukan oleh seberapa kuat pengaruh ruh pada materi. Apabila ruh menguasai materi, maka manusia menjadi luhur tingkah lakunya mendekati kesempurnaan ketuhanan (kamal ilaahiyah), dan sebaliknya.

Ruh yang mereka propagandakan eksistensinya tidak ada sama sekali. Ruh tersebut—yang mereka maksudkan—bukanlah rahasia kehidupan (nyawa), karena secara faktual manusia itu tidak terbentuk dari materi dan ruh. Ruh (rahasia kehidupan) tidak bertambah dan berkurang dikarenakan merosot atau meningkatnya keluhuran manusia. Atau dengan penjelasan lain: ruh itu tidak bertambah atau berkurang sehingga mempengaruhi keluhuran dan kebejatan manusia.

Yang mempengaruhi luhur tidaknya tingkah laku manusia bukanlah ruh sebagai sirrul hayat (rahasia kehidupan), melainkan kesadaran hubungan dengan Allah swt (idrak shillah billahi). Kesadaran hubungan dengan Allah swt ini merupakan sifat thariaah (sifat buatan yang melekat). Manusia dapat meraihnya dari luar dirinya yang mana sifat inilah yang mempengaruhi luhur atau bejatnya tingkah laku manusia. Dengan sifat ini manusia bisa mengontrol naluri-naluri (gharizah) dan kebutuhan-kebutuhan jasmaninya.

Jadi, ruh yang dipropagandakan oleh orang-orang Barat itu bukan merupakan bagian dari manusia, melainkan suatu sifat yang bisa ia peroleh dari luar dirinya yang merupakan kesadaran hubungan dengan al-Khaliq, Allah swt. Ruh tidak bertambah dan tidak berkurang, dan tidak mempengaruhi baik tidaknya tingkah laku seseorang.

Wallohu a’lam bi ash-showaab

Kisaran,   September 2009

Ikhwan Muslim Nasution

Bahan bacaan: Mafahim Islamiyah karya Muhammad Husain Abdullah

Pengantar “Mafahim Islamiyah”

25 Sep

Bismillahirrohmaanirrohiiim

Washsholaatu wassalaamu ‘alaa rosuulillaah…


ich_sada@yahoo.com673Sebagaimana telah kita pahami bersama, satu hal yang paling mencolok yang menjadikan manusia berbeda dari makhluk Allah swt yang lain adalah kemampuan manusia untuk berpikir. Kemampuan ini adalah keunggulan tersendiri bagi manusia sebagai makhluk terbaik yang Allah swt ciptakan. Tumbuhan dan hewan tidak diberi karunia ini. Demikian juga dengan Malaikat dan Syaithon. Adapun Syaithon, mereka “terlahir untuk menyesatkan ummat manusia”, bukan untuk berpikir layaknya manusia.

Sederhananya, berpikir adalah menghukumi atas realita. Adapun sarana berpikir adalah bahasa. Bahasa itu sendiri bukanlah merupakan suatu pemikiran, melainkan hanyalah alat untuk menggambarkan suatu pemikiran. Sebuah pemikiran bisa memiliki pemahaman, bisa juga tidak. Contoh sederhananya, perkataan “Manusia adalah hewan yang berbicara” dapat disebut pemikiran. Hal ini dikarenakan kalimat tersebut memiliki penunjukan (madlul), yang mana penunjukan ini adalah pemikiran. Penunjukan ini sendiri memiliki realita eksternal yang dimengerti oleh akal manusia: bahwa secara fisik manusia memiliki kemiripan dengan hewan (kera), dan manusia bisa berbicara (dalam bentuk bahasa dan dialog). Terlepas dari shahih tidaknya pemahaman ini, ia adalah sebuah pemikiran yang memiliki pemahaman.

Apabila pemikiran itu tidak memiliki penunjukan seperti perkataan, “Manusia itu terbentuk dari materi dan ruh”, maka pemikiran ini tidak memiliki pemahaman dikarenakan indera manusia tidak dapat menemukan realita penunjukan ini. Akal manusia tidak dapat menemukan pembenaran yang pasti tentang terbaginya manusia ke dalam jasmani dan ruh yang disebut sebagai pembentuk manusia. Oleh karena itu, pemikiran yang menyatakan bahwa “Manusia itu terbentuk dari materi dan ruh” adalah pemikiran yang tidak memiliki pemahaman. Bisa dikatakan, bahwa pemikiran-pemikiran Plato dalam bukunya Republik bukanlah pemahaman-pemahaman karena penunjukan dari pemikiran-pemikiran Plato dalam buku tersebut—pemikiran yang diekspresikan dalam bahasa dalam buku tersebut—tidak memiliki realita yang bisa diindera dalam kehidupan. Dengan perkataan lain, pemikiran tersebut tidak berdasar dan karenanya disebut tidak memiliki pemahaman selain rekaan semata.

Mafahim (pemahaman-pemahaman) itu bisa diperoleh dari tiga jalur. Yang pertama, pemahaman yang diperoleh dari penunjukan-penunjukan pemikiran yang dapat ditemukan secara langsung oleh akal manusia di dalam realita eksternal. Seperti perkataan, ”Manusia itu terbentuk hanya dari materi”. Ungkapan ini bukan hanya makna-makna lafadz, tetapi merupakan ekspresi dari pemahaman yang memiliki penunjukan di dalam realita eksternal, dan akal manusia dapat menemukannya secara langsung.

Yang Kedua, pemahaman-pemahaman itu dapat diperoleh dari penunjukan-penunjukan pemikiran yang akal tidak dapat menemukannya secara langsung. Hanya saja, akal dapat menemukannya melalui jejaknya (atsar) atau dari penampakan-penampakannya (mazhahir), seperti pada perkataan, “Pada diri manusia terdapat potensi (khasiyat) yang dinamai naluri seksual (gharizatun nau’)”. Manusia dengan akalnya tidak dapat menemukan naluri seksual secara langsung karena indra-indranya tidak bisa menjangkaunya. Hanya saja, akal dapat menemukan penampakan-penampakannya. Akal sehat kita mengerti, bahwa manusia sangat mencintai anak-anaknya, menyayangi orang tuanya , dan cenderung kepada lawan jenis. Dengan adanya mazhahir inilah akal kita memahami bahwa spesies manusia akan terjaga keberlangsungannya. Akal memahami keberadaan potensi ini, yakni naluri seksual (gharizatun nau’). Termasuk ke dalam kategori yang kedua ini adalah pemahaman tentang ruh (rahasia kehidupan/nyawa). Manusia menemukan eksistensi ruh dengan menemukan keberadaan penampakan-penampakannya, yaitu bereproduksi, tumbuh, dan bergerak. Ditambah lagi, seorang mukmin dikuatkan oleh dalil naqli (yang merupakan jalur Yang Ketiga) yang berasal dari Al-Qur’an dan hadits mutawatir yang memberi kepastian tentang pemahaman akan ruh.

Yang Ketiga, seperti disinggung di atas, ada pemahaman-pemahaman yang diperoleh melalui pemberitaan dalil naqli yang telah dipastikan keabsahannya. Keabsahannya tidak mampu lagi ditentang oleh akal sehat kita, meski akal sehat kita tidak mampu menjangkau apa yang disampaikan dalil naqli itu secara langsung atau melalui atsar dan mazhahir. Seperti perkara ghaib tentang surga, neraka, dan malaikat yang disampaikan oleh ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits mutawatir. Dalil naqli tersebut memberikan penunjukan yang pasti sehingga pengertian lafadz-lafadznya tidak dapat dipahami selain hanya satu arti.

Tak bisa dipungkiri, tingkah laku manusia senantiasa bertalian dengan pemahaman-pemahamannya tentang kehidupan, karena mafahim itu merupakan standar bagi tingkah laku. Upaya mengubah tingkah laku manusia dari tingkah laku yang rendah kepada tingkah laku yang luhur, harus berangkat dari upaya yang sungguh-sungguh untuk mengubah mafahim-nya tentang kehidupan: dari mafahim yang keliru dan mundur kepada mafahim yang benar dan luhur. Setiap muslim senantiasa harus menanamkan di dalam dirinya bahwa sebaik-baik mafahim adalah Mafahim Islamiyah. Bukan yang lain!

Wallohu a’lam bi ash-showaab.


Kisaran, 24 September 2009

Ikhwan Muslim Nasution

Bahan bacaan:

Mafahim Islamiyah karya Muhammad Husain Abdullah

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.