
Mafahim Islamiyah
Kesadaran hubungan seorang manusia dengan Allah swt (idrak shillah billahi) merupakan pangkal dari ketaatan manusia kepada Tuhan-nya. Melalui ketaatan inilah seorang manusia akan mencapai keluhuran tingkah laku. Dan sebaliknya, melalui ketidaktaatan ini pula lah manusia mengawali tindak-tanduknya di muka bumi ini sebagai manusia yang berakhlak bejat.
Allah swt mengajak manusia untuk berpikir tentang keadaannya dan sekitarnya. Merenungkan fenomena-fenomena alam. Bagaimana dia tercipta. Bagaimana langit dan bagaimana gunung. Bagaimana kematian datang secara tiba-tiba. Dan tentang berbagai hal yang terdekat hingga yang terjauh dari jangkauan inderanya.
“Hai manusia, jika kalian dalam keraguan tentang kebangkitan dari kubur, maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menciptakan kalian dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, supaya Kami jelaskan kepada kalian, dan Kami tetapkan dalam rahim apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kalian sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) sampailah kalian pada kedewasaan…” (QS. Al-Hajj: 5)
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhan-mu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah”. (QS. Al-‘Alaq: 1-2)
“Sesungguhnya dalam penciptaan semua langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” (QS. Ali Imran: 190)
Kesadaran manusia digugah dengan mengajaknya berpikir dan merenungi keadaan diri dan sekitarnya. Memahami hakikat alam semesta. Dari penciptaannya hingga kematiannya. Dan akan seperti apa keadaan hari yang kemudian kelak. Setelah kesadarannya digugah, manusia pun diberi peringatan tentang hubungannya dengan Allah swt dan semua makhluk. Hubungan ini disebut hubungan penciptaan (shillatu khalqi).
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan. Dan langit bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan? Dan bumi bagaimana ia dihamparkan. Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya engkau hanyalah orang yang memberi peringatan”. (QS. Al-Ghasyiyah: 17-21)
Islam dihadirkan untuk menuntut ummat manusia. Tuntutan itu berisi suatu perintah yang tegas agar manusia mengikatkan diri pada segala perintah Allah swt dan segala larangan-Nya. Suatu tuntutan yang tegas agar manusia memadukan materi (ingat! Manusia adalah sistem hidup yang terbentuk dari materi) dengan kesadaran hubungannya dengan Allah swt (idrak shillah billahi).
“Ikutilah apa yang diturunkan kepada kalian dari Tuhan kalian dan janganlah kalian mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya” (QS. Al-A’raf: 3)
“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang beriman dan tidak (pula) bagi perempuan yang beriman, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka.” (QS. Al-Ahzab: 36)
Melalui aktivitas berpikir tentang dirinya, sekitarnya, dan alam semesta, manusia akan menemukan dirinya dalam kekerdilan yang nyata dibanding Yang Maha Agung. Perasaan manusia akan keagungan, kekuasaan dan pengetahuan dari Yang Maha Agung, yakni Allah swt, ini merupakan nilai rohani (ruhaniyah). Ketika perasaan ini terus berkesinambungan, manusia bisa hidup dalam kondisi iman (jawwu imani). Perasaan ini akan mendorong manusia untuk mengikatkan diri dengan segala perintah dan larangan Allah swt. Dengan penuh kesadaran, keridhoan, dan ketenangan (thuma’ninah). Sedangkan aspek ruhiyah (spritual) pada segala sesuatu ialah segala sesuatu itu merupakan makhluk dari al-Khaliq, yakni Allah swt. Aspek ruhiyah ini hanya bisa dipahami oleh mereka-mereka yang beriman kepada eksistensi al-Khaliq.
Wallohu a’lam bi ash-showaab…
Kisaran, 29 September 2009
Ikhwan Muslim Nasution
Bahan bacaan: Mafahim Islamiyah karya Muhammad Husain Abdullah

Sebagaimana telah kita pahami bersama, satu hal yang paling mencolok yang menjadikan manusia berbeda dari makhluk Allah swt yang lain adalah kemampuan manusia untuk berpikir. Kemampuan ini adalah keunggulan tersendiri bagi manusia sebagai makhluk terbaik yang Allah swt ciptakan. Tumbuhan dan hewan tidak diberi karunia ini. Demikian juga dengan Malaikat dan Syaithon. Adapun Syaithon, mereka “terlahir untuk menyesatkan ummat manusia”, bukan untuk berpikir layaknya manusia.
