Arsip | RISALAH HATI RSS feed for this section

Burung Dara II

10 Agu

Orang-orang tua paruh baya itu menemukan keasyikan homogen baru-baru ini: memelihara burung. Percakapan mereka intens dan fokus ketika bersua tema itu: betapa asyiknya memelihara burung. Keasyikan itu menjadi semacam pelipur lara, penghilang suntuk, atau apapun yang mereka akui sebagai penegas motivasinya.

Dari sekian jenis burung, mereka tak ada menyinggung burung dara. Berbeda denganku, meski tak hobi memelihara burung, aku menyukai burung dara. Suaranya mungkin tak seindah burung kebanggaan orang-orang paruh baya itu. Warna bulunya pun mungkin “biasa saja”. Atau, harganya mungkin tak sebanding dengan harga pasar burung mereka. Tapi bagiku, burung dara memiliki nilai lebih dari burung kebanggaan mereka.

Bagiku, burung dara adalah simbol kesederhanaan. Sesederhana mencintainya: bukan karena penilaian orang-orang, bukan karena harga pasarnya, bukan semata parasnya, bukan godaan suaranya, bukan pula semata bentuk fisiknya. Pula, sesederhana jawabanku ketika ada yang bertanya: “kenapa itu?”, lewat jawaban sederhanaku: “karena memang demikian adanya.”

Burung dara bahkan lebih pintar merayu dariku. Beruntunglah, seorang wanita menerimaku ketika aku nekat saja melamarnya dengan suara gagap yang entah terdengar keluar entah tidak. Kadang aku tersenyum sendiri mengenangnya, “betapa suara burung dara lebih jelas dan lebih indah daripada suaraku waktu itu.”

Wanita itu telah melahirkan anak pertamaku: Abdul Karim Nasution. Dan aku berani untuk lebih percaya diri mengatakan: “rayuanku kepada isteriku telah mengalahkan rayuan burung dara kepada betinanya.”

Pematang Siantar, 7 Juli 2011
Ikhwan Muslim Nasution

Merah Jambu

10 Agu

D.F. , yang kutuliskan di telaga warna merah jambu adalah deretan huruf yang membentuk namamu. Pun, disepanjang jalan setapak ke sana, di celah-celah kamboja yang berderet, kutahbiskan juga namamu dalam figura merah jambu. Kau tak harus ditandu dalam keranda merah jambu, tak harus cemas akan adanya kerikil tajam di jalan setapak itu. Bantalan mawar telah menutupi badan jalan. Datang saja, berjalan atau berlari. Telaga warna merah jambu ini milik kita…

Kisaran, 15 Juni 2011
Ikhwan Muslim Nasution

Tembang Penggalang

10 Agu

Tembang lawas itu seakan cermin yang memantulkan simfoni kerinduan pada waktu-waktu yang lampau. Pada sebuah lirik dan melodi, aku serasa berada di sisi api unggun kecil, pada sebuah malam tanpa listrik, di antara ilalang yang merunduk menggigil ditekuk embun malam. Tentang apa itu dasadharma pramuka, dan tembang lawas. Itu sebuah masa lampau dalam setelan pramuka dengan aneka atributnya, masih dengan celana pendek khas penggalang dari SMP yang tak jarang membuatku malu mendekati para senior penegak, apalagi yang puteri. Hingga tak jarang, meminjam celana panjang senior yang baik hati dan tidak galak adalah solusi menegakkan wibawa di acara semi formal di malam hari, terlebih di hadapan penegak puteri. Tembang lawas itu mengalun memecah kesunyian alam, dengan irama gitar alakadarnya, di sisi api unggun kecil yang menghangatkan, oleh dua tiga orang penegak. Aku menyimaknya lamat-lamat. Tapi, mataku tertuju entah kemana. Ah, ini hanya lintasan memori. Tak lebih.

Burung Dara

10 Agu

Ia yang melenggang di pucuk-pucuk kayu, yang saban waktu membahanakan kicauannya, terbang rendah di liukan ilalang petang hari. Kusambangi ia tak sekali dua kali, menyapanya tanpa suara, mencoba membuntutinya lewat pandangan. Ia makhluk yang lincah dan bebas. Menari di ranting-ranting kayu, menyanyi dengan merdu, dan melayang dengan anggunnya. Setiap aku merindukannya, kudatangi pokok kayu itu: diam-diam tanpa mengusiknya.

Kisaran, 8 Juni 2011
Ikhwan Muslim Nasution

Tentangmu

30 Des

Tentangmu, wahai matahari kecil yang melukiskan bayang-bayangku ketika menatapmu sejarak sedepa.

Waktu-waktu yang kusisihkan untuk meraih sinar dan kehangatanmu mulai memerangkapku lagi.

Kini.

Esok.

Beberapa waktu ke depan.

Berikanlah padaku mentari kecil yang mungil untuk kugendong kesana kemari.

Untuk kudekap melawan angin subuh yang menusuk.

Berikanlah padaku.

Minta kepada Tuhanmu, Tuhanku, Tuhan mentari mungil yang hendak kugendong: Allôhu robbul ‘âlamîn…

Sitinjak, 26 Desember 2009
Ikhwan Muslim Nasution

DOA SEORANG SUAMI PADA SUATU MALAM

4 Des

Bismillahirrohmaanirrohiiim…

Alhamdulillahi robbil ‘aalamiiin…

Ashsholaatu wassalaamu ‘alaa rosuulillaah…

Terimakasih, yaa Robbiii… Engkau telah menyatukan kami dalam ikatan pernikahan ini. Menghalalkan yang sebelumnya belum halal atas kami. Mengharamkan yang sebelumnya belum haram atas kami. Mengikuti sunnah Rasul-Mu. Menyempurnakan separuh dien-Mu. Menyemai ibadah dalam bilik kemesraan kami. Sembari terus–menerus mengharapkan ridho dan ampunan-Mu…

Penantian panjang yang kami jalani dengan harap-harap cemas bersama doa-doa yang dilantunkan di sudut hening malam, di pagi berkabut, maupun di terik siang yang membakar peluh, telah Engkau usaikan dalam majelis pernikahan yang sederhana dan takzim itu. Ijab Qabul dan Ikrar suci yang diucapkan lirih pada sore hari itu, merambatkan segala rasa yang terpatri dalam di lubuk batin kami. Menggema memenuhi rongga kepala dan hati kami. Hingga air mata haru dan isak tangis kami pun tak kan mampu melukiskannya.

Sembari terus-menerus mengharapkan ridho dan ampunan-Mu, atas dosa-dosa yang telah dan mungkin akan terjadi, kami memohon kepada-Mu, dengan segenap harapan dan kerendahan hati, sudilah kiranya Engkau menuntun kami ke jalan yang Engkau ridhoi. Jauhkanlah kami dari jalan orang-orang yang Engkau murkai. Jauhkanlah kami dari jalan orang-orang yang sesat. Jauhkanlah kami dari jalan orang-orang yang dzhalim. Jauhkanlah kami dari jalan orang-orang yang fasik. Jauhkanlah kami dari jalan orang-orang yang kafir. Selamatkanlah kami dalam kehidupan kami di dunia dan di akhirat kelak.

Yaa Robbiii… Jadikanlah isteriku isteri yang taat menjalankan perintah-Mu, dan tegas meninggalkan larangan-Mu. Jadikanlah ia isteri yang taat kepadaku dalam perjalanan menggapai ridho-Mu. Jauhkanlah ia dari sifat-sifat buruk dan bejat, dari sifat ujub dan khianat, dari sifat dzhalim dan fasik, dan sifat-sifat yang mendatangkan murka-Mu. Jadikanlah ia isteri shalehah, sebaik-baik perhiasan dunia bagiku. Jadikanlah ia sahabat terbaikku dalam mengarungi hidup dan kehidupan ini. Jadikanlah ia sahabat terbaikku dalam menuntut ilmu. Menjadi guruku. Menjadi muridku. Menjadi teman belajarku. Menjadi rekan sejawatku dalam berlomba-lomba di jalan kebaikan.

Yaa Robbiii… Jadikanlah aku imam bagi keluargaku. Imam yang adil dan mengajak kepada jalan yang Engkau ridhoi. Bimbinglah aku dalam memimpin. Tegurlah aku dikala lalai dari tanggung jawabku, dengan teguran Rahman dan Rahim-Mu. Jauhkanlah aku dari sifat-sifat buruk dan bejat, dzhalim dan fasik, dari sifat ujub dan khianat, dan dari segala sifat yang mendatangkan mudharat dan murka-Mu. Kuatkanlah keimananku, sebagai obor penerang bagi keluargaku dalam mengarungi gelapnya kehidupan akhir zaman ini. Bimbinglah kami, yaa Robbal ‘aalamiiin…

Yaa Robbiii… Ampunilah dosa-dosa kami sebelum dan sesudah hari pernikahan kami. Ampunilah dosa-dosa kami sebelum dan sesudah hari pernikahan kami. Ampunilah dosa-dosa kami sebelum dan sesudah hari pernikahan kami. Baik yang kami sadari maupun yang tidak kami sadari. Ampunilah dosa Ibu dan Bapak kami. Ampunilah dosa saudara-saudara kami. Ampunilah dosa kerabat-kerabat kami. Ampunilah dosa sahabat-sahabat kami. Ampunilah dosa guru-guru kami. Ampunilah dosa seluruh kaum muslimin dan muslimat, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal.

Yaa Robbiii… Karuniailah kami keturunan yang shaleh dan shalehah. Anak-anak yang taat menjalankan perintah-Mu dan tegas meninggalkan larangan-Mu. Anak-anak yang berbakti kepada kedua orangtuanya. Karuniailah kami keturunan yang akan teguh memperjuangkan tegaknya dien-Mu di bumi ciptaan-Mu ini.

Yaa, Robbiii… Karuniailah kami keturunan yang menggenggam erat sunnah Rasul-Mu. Memperjuangkan kembalinya kehidupan Islam di persada bumi ini. Generasi yang siap mengorbankan segala yang ada padanya untuk mempertahankan aqidahnya, memperjuangkan al-Haq dan mengingkari al-bathil.

Robbanaa aatinaa fid dunyaa hasanah wa fil aakhiroti hasanah waqinaa ‘adzaaban naar…

Allohummaghfirlanaa bikaroomika ajma’iiin, watubuwazaqi wa’fu ‘an man yaquulu aamiiin aamiiiin aaamiiin….

Washollollohu ‘alaa sayyiidinaa Muhammad wa ‘alaa aalihi ajma’iiin

Walhamdulillahi robbil ‘aalamiiin…

Kisaran, 03 Desember 2009

IKHWAN MUSLIM NASUTION

Sebuah Nama dalam Doa Malamku

24 Nov

Ingin kupejamkan mataku,

Bersama alunan rerintik gerimis dini hari ini,

Saat ingatku akanmu menggelitik pelupuk mataku,

Saat ingatku akanmu menjalari rongga-rongga kepalaku…

 

 

Ingin kurebahkan kepalaku,

Di atas tumpukan lelah yang menggumpal,

Ketika bayangmu menyeruak ke alam sadarku,

Dan aneka imaji berseliweran di depan mataku…

 

 

Bismillaaah…

Lewat doa selepas sujud malamku,

Kuselipkan namamu di antara doa-doa harapan

Aaamiiin yaa robbal ‘aalamiiin…

 

 

 

 

Kisaran, 24 Nopember 2009 Dini Hari

IKHWAN MUSLIM NASUTION

Sindiran Untuk Para Suami

23 Nov

Kalaulah kutitipkan ia pada malam,
ia kan tenggelam dalam kegelapan.
Menjadi hitam.
Membaur dengan yang hitam.
Yang gelap.
Tak bergaris tepi.
Apalagi bentuk lagi.

 

 

Kalaulah ia kuamanatkan pada siang,
ia kan gosong dipanggang matahari.
Hangus.
Tanpa debu dan arang.
Jangankan bentuk dan rupa.

 

 

Kalaulah aku harus menjaganya saban waktu,
terus terang,
tentulah aku tak sanggup.
Menjaga diriku sendiri pun aku ngos-ngosan.
Konon lagi menjaganya saban waktu?
Kalau diusut-usut dengan paksaan,
bisa-bisa aku dicap berhala oleh Pak Kiai
kalau sampai nekat aku gagah-gagahan
bilang,
“Dinda, Kanda kan menjagamu
di setiap waktu dan tempat.
Kanda janji.”

 

 

Tentu saja ini bukan perkara
mangkir dari kewajiban.
Kesanggupan itulah hakikat kewajiban.
Di luar itu,
kepasrahan namanya.
Tawakkal.

 

 

Makanya,
pasrah sudah aku menitipkannya.
Pada Dia sang Mahapemilik, Mahapencipta.

Aaamiiin.

 

 

 

Kisaran, 22 Nopember 2009

IKHWAN MUSLIM NASUTION

Bulan Madu yang Tertunda

1 Jun

Selepas lagu-lagu kemesraan dilantunkan,

di temaram langit kerinduan,

kukabarkan kembali kepadamu,

tentang gundukan rindu yang kini menggunung…

Di sini, masih dalam bekapan cuaca yang sama,

terasa benar jurang nuansanya.

Karena tanpamu, Belahan Jiwa

Lagu-lagu kemesraan terdengar sumbang tanpa nada.

Esok, Dikau ‘kan terbangun dalam nuansa pagi,

Langit masih akan cerah, mendung, atau berawan

Hari masih akan panas, gerah, ataukah dingin

Nuansa ‘kan lebih terasa

hanya karena kita tidak berpijak di atas daratan yang sama…

Tidak ada yang hilang dalam pelukan nuansa itu,

Hanya soal waktu saja, Belahan Jiwa

Dan tentang beberapa episode hidup yang musti kita lakoni

Maka terciptalah sebuah alur sederhana di bawah sub judul:

“Bulan Madu yang Tertunda”

Kemarilah merapat, biar kubisikkan mesra kepadamu,

“Bulan Madu itu ‘kan sempurna hanya jika Allah menghendaki,

Maka, untuk harapan kita tentang hari esok yang lebih indah,

marilah kita berdoa,

berdoa, berdoa, berdoa…”

Medan Deli,

23 Mei 2009

Untuk sang Belahan Jiwa di Bumi Allah ,

Ikhwan Muslim Nasution

Ketika Detik-Detik pun Menjadi Ketika pada Suatu Ketika

14 Apr

Ketika detik-detik pun menjadi ketika pada suatu ketika,
Semoga dikau masih akan tetap ada di sisiku
Untuk suatu ketika yang panjang
Sepanjang bentangan sajadah biru musim dari hulu
Menanti takdir si Pemilik musim yang bergulung-gulung…

Ketika detik-detik pun menjadi ketika pada suatu ketika,
Ku ingin dikau masih setia membacakan risalah-risalah perjalanan kita
Melongok lembar-lembar cerita kita
Menonton kisah-kisah kita berdua
Memandangi keping-keping jejak kita sepanjang masa…

Ketika detik-detik pun menjadi ketika pada suatu ketika,
Dan si Pemilik takdir memutus paksa kebersamaan kita
Hanya doa-doa panjang yang tersisa
Melumatkan rasa sakit-sepi di bilik sunyi
Menanti harap-harap cemas: akan bertemukah kami kembali, Ilahi Robbi???

Medan, 03 April 2009
Ikhwan Muslim Nasution

Untuk Matahariku: Tetaplah di Sisiku sampai Takdir Berbicara!!!

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.