Arsip | REVIEW RSS feed for this section

from the IN TIME

10 Apr

Aku masih terkesima sehabis film “IN TIME” ini berakhir. Seperti disadarkan kembali, bahwa waktu kita, penggunaan nyawa kita, sangat berbatas. Bahwa perebutan “alat tukar” di kehidupan ini, adalah satu hal yang membuat kita bergairah menjalani hidup. Hal lainnya, sistem pengoperasian dan pengendalian “alat tukar” itu sedemikian rupa menggiring kebanyakan kita untuk menjadi budak bagi segala tetek bengek sistem itu. Kita terjebak dalam bayang-bayang iming-iming (harapan) dan rasa was-was (ketakutan). Dalam pada itu, sesungguhnya, kita tidak sedang menikmati detik demi detik hidup kita. Kita hanya melebur dalam ilusi harapan dan ketakutan: melalui hidup dalam kungkungan dinding penjara sistem kapitalisme yang kokoh. Dimana kebahagiaan jika setiap hari kita memikirkan inflasi, biaya, dan resiko? Akhirnya kita kompak menjawab, inilah dunia, fana. Orang-orang yang mengendalikan sistem ini, seperti dalam film tersebut, menciptakan surganya bermodalkan pencurian-pencurian sistemik atas harkat dan martabat mayoritas orang. Dalam sejarah kita dipahamkan, bahwa “war against the system” senantiasa hal yang mutlak di setiap lintasannya.

 

 

Kisaran, 07 Desember 2011

Ikhwan Muslim Nasution

MERAH SAGA

20 Jan

(By: Shoutul Harokah)

Saat langit berwarna merah saga
Dan kerikil perkasa berlarian
Meluncur laksana puluhan peluru
Terbang bersama teriakan takbir

Semua menjadi saksi
Atas langkah keberanianmu
Kita juga menjadi saksi
Atas keteguhanmu

Ketika yahudi-yahudi membantaimu
Merah berkesimbah ditanah airmu
Mewangi harum genangan darahmu
Membebaskan bumi jihad palestina

Perjuangan telah kau bayar

Dengan jiwa, syahid dalam cinta-NYA

Perjuangan telah kau bayar

Dengan jiwa, syahid dalam cinta-NYA

WE WILL NOT GO DOWN (Song for Gaza)

20 Jan

(by: Michael Heart)

A blinding flash of white_light
Lit up the sky over Gaza tonight
People running for cover
Not knowing whether they’re dead or alive

They came with their tanks and their planes
With ravaging fiery flames
And nothing remains
Just a voice rising up in the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

Women and children alike
Murdered and massacred night after night
While the so called leaders of countries afar
Debated on who’s wrong or right

But their powerless words were in vain
And the bombs fell down like acid rain
But through the_tears and the blood and the pain
You can still hear that voice through the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

Tantangan dari Kaum Syi’ah Iran

31 Des

iranflag

Prof. Dr. Morteza Muthahhari, seorang ulama dan cendekiawan Syi’ah Iran, menulis dalam bukunya Al-‘Urwat Al-Wutsaqa (hal. 223-224) sebagaimana ditampilkannya kembali di dalam bukunya yang berjudul Hawla Al-Tsaurah Al-Islamiyah (diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi: Transformasi Ideologi Islam Yang Menakutkan Amerika),

“…, kendati pun para ulama Sunniy telah berhasil memecahkan berbagai masalah dan melakukan berbagai pembaharuan lebih banyak ketimbang ulama’ Syi’ah, namun mereka tidak berhasil menciptakan gerakan pembaharuan yang mendalam seperti yang ada di kalangan ulama’ Syi’ah. Jadi, kendatipun ulama Syi’ah relatif lebih sedikit melakukan pembaharuan, namun untuk masa satu abad terakhir ini mereka memimpin pergerakan-pergerakan revolusioner yang belum pernah ditemukan padanannya di kalangan Sunni.” (Hal. 192)

Pernyataan salah satu tokoh intelektual di lingkungan Republik Islam Iran ini tentu menggelitik kesadaran intelektual kita sebagai kaum Sunni. Kaum Sunni, seperti yang kita ketahui, merupakan mayoritas dari umat Islam. Lantas, apa yang ‘salah’ dengan kita, kaum Sunni, sehingga dalam ukuran dan batasan ‘tertentu’, bisa dikatakan dengan sangat jelas bahwa kita masih ‘gagal’ dalam memperbaiki peradaban dan sejarah? Kenapa justru kaum Syi’ah “yang tidak seberapa itu” yang sanggup secara gemilang melancarkan Revolusi Islam (Syi’ah)???

Muthahhari pun menambahkan, “Para pemimpin agama harus melipat-gandakan jihad dan dakwah mereka sebab awal revolusi kita mirip dengan masa-masa awal Islam, yang karena itu kita mesti menggedor dan meruntuhkan istana para penguasa. Tahap ini, dengan demikian, adalah tahap jihad dan perjuangan.” (Hal. 194)

Republik Islam Iran, yang dihuni kaum Syi’ah, telah menegaskan terhadap dunia internasional bahwa “Islam harus berdaulat”. Hegemoni Barat, sang penjajah peradaban, harus dihentikan. Sebab, sebagaimana diutarakan Muthahhari, “Penjajahan peradaban, tidak diragukan lagi, adalah penjajahan paling berbahaya dibanding penjajahan-penjajahan dalam bentuk lainnya.” (Hal. 172)

Tragedi kemanusiaan berupa penjajahan peradaban kini melanda negeri-negeri Islam di sentero dunia. Seperti saudara-saudara “Sunni” kita di Palestina yang baru-baru ini dibombardir pasukan udara Israel di Jalur Gaza. Lebih dari 250 orang meninggal dunia dan ratusan lainnya luka-luka.

Barat dan antek-anteknya yang jumawa, angkuh danb pongah telah menciptakan tatanan dunia dalam tingkatan kelas yang menyedihkan. Mereka, Barat dan antek-anteknya, memposisikan dirinya sebagai “Tuan-Tuan dan Penguasa-Penguasa Terhormat”, dan Kita, kaum Muslimin dan kaum-kaum terdzhalimi lainnya (di luar kaum muslimin) sebagai “Budak Jelata Yang Terjajah dan Terhina”.

Mengenai hal ini, Muthahhari menegaskan, “Pandangan sepintas terhadap peta dunia internasional, memberi kejelasan kepada kita bahwa sebagian dari negara-negara itu merupakan tuan-tuan dan penguasa-penguasa, sedangkan yang lain tunduk pada kekuasaannya, sekalipun acap disebut sebagai negara merdeka.”

Keterjajahan dan penghinaan berkepanjangan yang ditanggungkan oleh saudara-saudara kita di Palestina, Afghanistan, Cechnya, Somalia, Irak dan negeri-negeri lainnya, merupakan fakta yang teramat sangat jelas yang tidak bisa disembunyikan lagi. Penjajahan peradaban dan tragedi kemanusiaan masih akan terus berlangsung jika tidak ada upaya dari kita untuk membebaskan diri dari kaum penjajah terlaknat itu.

Bayi-bayi akan terlahir dalam keadaan tidak mengenal orang tuanya. Mereka menjerit menyayat hati di antara puing-puing bangunan yang berserakan. Bau bangkai dan darah semerbak. Mereka menghiba memanggil-mangggil yang tak kan kembali, “…Abiiiiiiiiiiii… Ummiiiiiiiiiiiiiiiiii…”

Akan semakin banyak wanita muslimah yang menjadi janda. Banyak yang kan menjadi korban perkosaan serdadu penjajah terlaknat itu sebagaimana ramai diberitakan telah terjadi di Irak. Akan banyak wanita yang menjadi pemuas birahi mereka. Akan semakin banyak lagi wanita yang hak-haknya terampas…

Kaum lelaki akan menjadi budak jelata. Anak-anak lelaki yang putus sekolah akan menjadi jongos yang hina dina. Ah, Kehormatan ummat ini…

Ancaman “Loss Generation” di depan mata kita!!!

Membayangkan kondisi seperti ini, menarik menyimak sebuah tantangan dari kaum Syi’ah Iran (yang kerap dicap sesat dan telah keluar dari millah yang lurus ini oleh kebanyakan kaum Sunni) kepada seluruh ummat manusia, khususnya ummat Islam, lebih khusus lagi kaum Sunni (KITA),

“Apabila sesuatu negara ingin berdiri pada kaki sendiri dan menentukan nasibnya sendiri, maka dengan kemauan keras dan semangat ksatria mereka pasti berhasil memutuskan belenggu-belenggu yang mengikat mereka.” (Transformasi Ideologi Islam Yang Menakutkan Amerika, 171)

Dari Meja Makan Sederhana,

Dari Dapur Sederhana,

Dari Rumahku Yang Sederhana,

Untuk Dunia!!!!!

Kotanopan, 28 Desember 2008

Ikhwan Muslim Nasution

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.