Arsip | Komentarku RSS feed for this section

Lady Gaga

10 Apr

Apa relevansi konser Lady Gaga dengan anarkisme? Jika anarkisme diartikan sebagai suatu kondisi tanpa adanya otoritas yang mengatur kehidupan massa, maka patut kita pertanyakan posisi pemegang otoritas saat ini sebagai apa dan untuk apa.

Tak lekang dari ingatan ketika orang-orang semacam Hidayat Nur Wahid kasak-kusuk “mengompor-ngompori” Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk melontarkan fatwa haram golput. Alasannya klise, dikhawatirkan pemerintah kehilangan kredibilitas di hadapan massa yang mulai jijik berurusan dengan muka-muka tanpa rasa malu politikus busuk.

Jika suara-suara para legislator saja sudah tak dipandang, apa gunanya ruang legislatif? Lalu, ketelan dimana itu suara Menteri Agama, yang tak lain tak bukan adalah bagian dari eksekutif?

Sesaat, kita dipaksa merenung oleh keadaan: pementasan sandiwara ini pasti ada endingnya. Sembari menunggu endingnya, kita diberitau: tiket konser Lady Gaga sold out!

Kisaran, 20 Maret 2012
Ikhwan Muslim Nasution

si Narji

10 Apr

Bisa kau saksikan, Narji. Mereka-mereka yang meluruskan jari telunjuknya ke bawah itu, yang bau mulutnya melampaui bangkai berbelatung, adalah orang-orang yang telah dengan teramat sangat salah ditempatkan zaman pada posisi orang-orang terhormat. Mereka berpetuah atau bermukadua, berperintah atau ber-antah, bersumpah atau berserapah, berbicara atau berdusta, sudah tak ada bedanya lagi. Atas nama formalitas, kita dipaksa tunduk dalam bayang-bayang pengingkaran terhadap realitas. Kita mesti duduk takzim memperhatikan kalimat-kalimat penuh etika mereka sembari menelan ludah yang hendak kita semburkan ke wajah-wajah mereka. Entah bermula darimana, nyatanya memang mereka telah diposisi orang-orang terhormat. Kadang-kadang timbul pikiran liar di alam sadar kita, ini orang apa dulu semasa di sekolahan pernah ranking, kok pikirannya goblok bener? Ini orang kok bisa-bisanya jadi orang terhormat?

Narji, itu, ada yang namanya persis dengan namamu. Tapi pola pikirnya, Narji, goblok betul. Pokoknya mendingan ente lah dari yang itu. Tapi maaf ni, Narji. Soal nasib, beda betul dengan ente. Ente orang kulian, dia sekarang menjabat sebagai orang top di kuliahan. Nasibmu, Narji.

Kisaran, 28 Pebruari 2012
Ikhwan Muslim Nasution

Target Man

10 Apr

Target-target yang kita rancang, juga yang dirancangkan kepada kita, adalah beban yang harus dipikul. Beberapa pihak yang memiliki antusiasme lebih dari rata-rata orang memandandangnya sebagai tantangan. Apapun penamaannya, nyatanya: ia membebanimu. Ia menyita perhatian, waktu, dan tenagamu. Belum lagi kita bicarakan “ongkos” yang harus dikeluarkan untuk itu.

Terus terang, saya tak habis pikir jika ada orang yang secara finansial tampak sangat mapan, tergolong kelas jet-set lah, masih “rela” berkutat dengan setumpuk beban yang semestinya tak perlu lagi ia pikul. Ia, menurut hematku, sudah bolehlah menikmati hari-harinya dengan nyaman. Mengingat perjuangannya berpuluh tahun mencicil kredit kepuasan duniawi itu, sudah masanya lah ia menikmatinya.

Nyatanya memang tak sejalan dengan logika warasku. Ia, tampaknya, lebih menikmati hidupnya dengan tetap memikul beban. Ia tampak puas ketika target-targetnya, beban demi beban itu, tercapai. Sebaliknya, mimik wajahnya tak mampu menyembunyikan kecemasan dan kegusaran manakala target-target tersebut belum tuntas.

Saya bukan tak paham tentang teori kepuasan yang ada di rak-rak literatur akademis. Akal sehatku hanya masih memandang perilaku semacam itu sebagai perilaku tak waras. Mungkin, pada waktunya, entahlah, akal sehatku bisa berdamai dengan mentalitas semacam itu.

Kisaran, 13 Oktober 2011
Ikhwan Muslim Nasution

Amphibi

10 Agu

Ada celetukan kami ketika menyaksikan beberapa manusia malam dalam tampilan yang menipu. Dari penampakannya, mereka-mereka ini dari jenis gender wanita. Tak taunya bukan.

“Itu amphibi”, kata kawan di sebelah. Istilah itu merujuk pada dualisme kepribadian si orang yang diistilahkan. Mengumbar sensualitas di trotoar selarut itu, apa maksudnya coba?

Rupanya demikian. Kehidupan ini sudah sedemikian pekatnya sehingga tak sedikit anak manusia tak lagi ‘pede’ dalam satu kepribadian saja.

Pematang Siantar, 8 Juli 2011
Ikhwan Muslim Nasution

Kenangan dan Doa

10 Agu

Mereka telah pergi, memenuhi apa yang telah termaktub di Lauhil Mahfuz. Segala yang patut dikenang, kan tetap dikenang. Segala yang tak patut dikenang, bahkan lewat bisikan terhalus yang mungkin dihembuskan nafas, elok lah dimaafkan. Anak manusia itu kini berada di “pemberhentian sementara”, sembari menantikan “pemberhentian akhir”. Alam rahim yang singkat, alam dunia yang pendek, alam kubur yang sementara, lalu alam akhirat yang menantikan kita semua…

Segala obsesi terhenti secara mendadak. Segala angan-angan buyar. Segala rancangan tinggal rancangan. Tanpa embel-embel duniawi, ia diantar ke liang kuburnya. Apakah tempat itu kan menjadi salah satu dari taman-taman surga? Ataukah salah satu dari lembah-lembah neraka? Wallôhu a’lam. Doa manusia yang ditinggalkan tentu baik, sebagai cermin dari pengharapan si pendoa kalau-kalau ia kelak telah sampai pada status yang sama dengan si ahli kubur: penghuni alam kubur.

Doa yang baik-baik saja, tanpa diiringi perasaan takut yang mendorong istighfar, sejujurnyalah melenakan. Lambat laun, kita jadi lalai oleh doa-doa yang baik itu. Mengkristal jadi semacam dogma: bahwa semuanya kan baik-baik saja. Eloklah kita imbangi doa-doa yang baik itu dengan muhasabah, agar ketika kita berdoa, kalimat-kalimat doa itu menjadi lebih menghunjam dalam. Sehingga, kita tak asal berdoa yang baik secara formil, tapi juga benar2 lahir dari kesadaran yang utuh.

Semoga, ahli kubur dari kaum muslimin dan muslimat, mukminin dan mukminat, mendapat kelapangan kubur dari Allah swt. Kuburnya menjadi salah satu dari taman-taman surga, bukan salah satu dari lembah-lembah neraka. Begitupun dengan kita kelak. Âmîn yâ robbal ‘âlamîn…

:. in memoriam: Lini Siska Utami (kakak kelas, kakak kos, merangkap mentor yang baik semasa di LALA KOST, Pandan, Tapanuli Tengah).:

Kisaran, 21 Juni 2011
Ikhwan Muslim Nasution

Ikhwanul Muslimin (Mesir)

1 Mar

Jika Ikhwanul Muslimin nanti, bi-iznillah, berhasil mengambil alih tampuk pemerintahan Mesir, semoga Ikhwanul Muslimin mampu menjaga amanah Hasan Al-Banna dan Sayyid Quthb, serta tidak terusik oleh perkara-perkara bodoh seperti koalisi manipulatif dan politik kotor seperti yang dipertontonkan banyak Partai “Islam”–yang mengaku-ngaku anak ideologis dari Ikhwanul Muslimin–di belahan bumi ini, termasuk di Indonesia ini. Semoga, IM!!!

 

Kisaran, 4 Pebruari 2011

PEMFITNAH BERJANGGUT LEBAT dan BERJUBAH PANJANG

6 Sep

Untukmu, wahai anak Adam. Ketakwaan tak sama dengan kejahilan. Kebodohan yang dipertontonkan bukanlah dzikir sunnah yang dilantunkan. Ada jarak panjang antara keduanya: jurang yang menganga dengan api yang menyala-nyala. Lolongan anjing malam di pemakaman tua, lebih indah daripada fitnah-fitnah keji yang engkau rangkai di majelis-majelis ilmu. Kalau bukanlah karena engkau anak Adam, tentulah engkau Burung Pemakan Bangkai. Kalau bukanlah engkau dilahirkan dari keturunan2 yang terlahir dari rahim Hawa, tentulah engkau Binatang Ternak yang bebal dalam memfitnah. Ketakwaan itu tidak cukup dgn engkau mencukupkan pada janggut lebat, jubah panjang, sorban melilit, dan celana menggantung. Islam lebih luas dari itu. Lebih luas dari itu. Lebih luas dari itu!

Kisaran, 16 Maret 2010

Seorang wanita muda, berbakat, mandiri, dan mapan…

16 Sep
Edisi Terbatas!!!

Edisi Terbatas!!!

Seorang wanita muda, berbakat, mandiri, dan mapan bercerita pada seorang wanita muda yang tak seberuntung dirinya dari hitung-hitungan kalkulator zaman: masih muda, pembantu, dan hidup seadanya. Tentang keindahan kota-kota turis yang telah dilanconginya. Tentang ceritera karier dan beban kerja di kantor. Tentang penghasilan yang jauh di atas rata-rata. Tentang kemapanan yang tiada tara. Tentang bintangnya yang terang benderang. Dengan satu intonasi yang sama: tentang superioritasnya dibanding si jongos…

Di bilik lain kehidupannya pun demikian. Kepada semua manusia yang berjenis kelamin laki-laki diproklamirkan: kalian semua sama, tak lebih dari sekumpulan buaya darat yang bisa kutaklukkan! Sebuah tamparan tendensius kepada lain jenis: termasuk Ayah dan Kakek kandungnya sendiri tentunya!!! Kepada semua wanita di luar komunitasnya dikumandangkan: bintang kalian meredup seketika di sisiku. Sebuah kebinalan yang nyata meski dibungkus dengan aneka rupa bentuk dan warna.

Suatu kali, pada sebuah perjalanan ke sebuah kota besar di Nusantara, si wanita muda, berbakat, mandiri, dan mapan itu kembali unjuk gigi. Bukan di hadapan seorang jongos muda seusianya, tapi di sekeliling sesama abdi negara yang tak seberuntung dirinya. Egosentris yang kembali mengundang kontroversi di ruang sempit zaman: tentang ke—the best—an dirinya dibanding khalayak. Lagi-lagi masih soal melukai hati sesama: tentang kesombongan dan keangkuhan yang dipentaskan, lagi-dan lagi. Gonjang-ganjing miring tentang dirinya pun merebak: bahwa ada masalah dengan kesehatan jiwanya, bahwa wanita waras tidak demikian, bahwa…

Menyedihkan sebetulnya, ketika sebuah talenta muda berbakat menjadi antagonisme pada secarik tema ringkas yang hilir mudik di arus zaman: KESOMBONGAN dan KEANGKUHAN. Seakan lupa, bahwa manusia yang satu tak lebih mulia dari manusia lainnya dalam pandangan Allah swt, kecuali dari takaran taqwanya. Seakan lupa, bahwa keglamouran hidup akan berakhir di bilik sempit-sunyi di bawah kulit bumi yang dipijaknya. Seakan lupa, bahwa sekeras apapun suara dalam mempropagandakan keangkuhan duniawi akan berhenti pada satu titik: kematian.

Dan, beberapa masa sebelum ajalnya menjemput: dia telah mendahului ajal dalam hati manusia-manusia waras di sekitarnya. Wal’iyazu billah…

Kisaran, 16 September 2009 / 26 Ramadhan 1430 H
Ikhwan Muslim Nasution

MANDI AIR SELOKAN

12 Mar

“Terlanjur basah kena cipratan air selokan, haruskah sekalian menyegaja basah bermandi air selokan?”, demikian yang terbayang di benakku saat ini. Saat ini. Saat ini. Saat kembali fatwa MUI tentang haramnya Golput disosialisasikan secara massiv oleh Ustad-Ustad yang pro “status quo demokrasi”.

Sang Ustad, yang mengisi pengajian di Masjid Gedung Keuangan Negara (GKN) Medan, tau benar “ketidakcocokan” Sistem Demokrasi dengan Sistem Islam. Tapi… Kesimpulannya sangat memiriskan. Sangat memilukan. “Saya berpendapat, bahwa Golput itu haram…Fatwa MUI itu sudah tepat”.

Seakan hendak menunjukkan kepada khalayak bahwa dia “tau banyak” tentang pemikiran politik Islam, dia pun menyinggung konsep Khilafah sekenanya. Sekenanya. Dengan kesimpulan yang memilukan dan dangkal (menurutku!!!): “Tapi, klo pun kita semua sepakat mendirikan Khilafah, tak diakui!!!”, dengan logat peralihan Melayu-Batak Medan Yang Khas. Kuulangi: “Tak Diakui!!!”, dengan penekanan khas Medan!!!

Bagaimana bisa fatwa muncul dari rasa khawatir belaka? Khawatir pada apa? Khawatir salah satu ayat Al-Qur’an tentang larangan mengambil pemimpin yang tidak se-Aqidah dilanggar. Kok bisa?

Jadi, begini. Dalam mekanisme demokrasi, semua orang berhak menjadi “pemimpin ummat”. Dalam Islam, tidak dibenarkan yang menjadi “pemimpin ummat itu dari yang selain Islam”. Inilah faktanya. Para Ulama pasti masih ingat betul hadis beserta perawinya beserta matan-matannya bahwa adalah terlarang mengangkat pedang memberontak kepada seorang “pemimpin ummat” selama ia masih SHOLAT!!! Kata “Sholat” sendiri masih terjadi khilafiyah di kalangan Ulama. Jadi, sebetulnya, tidak ada yang perlu dikhawatirkan, bukan???

Terus, dalam demokrasi, “suara terbanyak adalah suara Tuhan”. Adalah Undang-Undang yang mengikat jika suara terbanyak menyatakan: SEPAKAT! Hal ini tidak berlaku dalam Islam. Kaidah Syara’ menyatakan, “Al-Ashlu fil Af’ali at-Taqoyyad”. Setiap amal itu terikat. Terikat pada hukum syara’. Pembuatan Undang-Undang pun harus terikat pada hukum Syara’. Jadi, dalam Islam: “suara para pemabuk, penjudi, koruptor, dan semacamnya (termasuk suara para Kiai, Sesepuh, Syekh dan yang lainnya) bukanlah dasar pembuatan Undang-Undang”. Inilah yang sebetulnya. Dan ini disadari benar oleh sebahagian ulama ummat.

Namun, karena sudah “terlanjur salah jalan dari awal”, dikemukakanlah ide-ide rasionalisasi terhadap “kesalahan kolektif pendahulu kita di masa lampau”. Ujung-ujungnya lahirlah fatwa di atas fondasi kekhawatiran. Kekhawatiran yang sebetulnya tidak perlu didramatisasi, tidak perlu digeneralisir.

Justru, aneh. Aneh karena alih-alih mengakui kesalahan masa lampau dan bergegas menyadarkan ummat atas “kekhilafan masa lalu itu”, ummat malah ditarik lebih jauh ke pusaran kesalahan tersebut. Secara halus dan berbudi, implisit, ajakan itu sejatinya berbunyi, “Mari kita Akui Demokrasi sebagai Sistem Yang Sah, berpartisipasi aktif di dalamnya dengan segenap kekuatan dan potensi yang kita miliki, DARIPADA…”

Anda mengerti sambungan kata DARIPADA ini, bukan?

Begitulah. Mereka tau, tapi menyuarakan Yang Lain. Mereka tau, tapi tidak mau surut langkah.

Ah, apakah jika saya terlanjur terkena air selokan yang kotor, lantas harus mengajak orang lain bermandi air selokan?

Demokrasi itu adalah “Air Selokan”. Pemilu itu jalannya. Jalan menuju pemandian massal air selokan. Gratis!!! Gratis?????? “Biaya berdemokrasi itu MAHAL, Saudara-Saudara…”

Disampaikan dengan kesadaran penuh atas KEKURANGPAHAMAN, KEKURANGTAATAN pada Syara’, dan KEDHOIFAN yang teramat sangat…
Medan Polonia, Maret 2009
Ikhwan Muslim Nasution

ISRAEL MENYERANG GAZA !!!

30 Des

palestina-ruyat-134-b32

“ISRAEL menyerang Gaza, 300 orang Islam di Palestina tewas (TV One, 28/12/2008).

KOM:

(1) Pemerintah Mesir hanya bs mengecam keras, pdhl sebelumnya merekalah yg menutup pintu masuk dr Gaza ke Mesir, dan kaum Muslim dibantai di dpn mata mereka, mereka hanya diam.

(2) syuhada’ itu telah menghadap Allah, dan mereka kelak akan bersaksi di hadapan-Nya:

(Kami kecewa dg sikap para penguasa kaum Muslim yg pengecut dan pengkhianat. Kami kecewa dg sikap kaum Muslim, yg tetap tidak bersatu untuk menegakkan Khilafah, guna mengenyahkan entitas Yahudi itu dari muka bumi).

Allahummashad fainna qad ballaghna..”

(Tulisan tersebut murni berasal dari sms dari dua orang Sahabat pada hari yang sama: Muhammad Irsyad dan Andi Subianto  pada 29/12/2008).

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.