Masyarakat kita terbelah ke dalam dua kubu dalam penyikapan atas demonstrasi besar yang bergulir di kota-kota besar di negeri ini. Tanpa bermaksud membela kubu yang pro maupun yang kontra, baiklah kita renungkan saja perjalanan sejarah bangsa ini maupun bangsa-bangsa lainnya.
Apabila kita mengutuki aksi mahasiswa sebagai sesuatu yang negatif, maka mari kita renungkan peristiwa ’98 yang menjadi akhir dari Orba. Perlu pula kita renungan peristiwa ‘people power’ di Filipina yang menjungkalkan penguasa korup pada masa itu. Bagi yang telah sempat membaca ‘Aksi Massa’-nya Tan Malaka, dia seyogianya akan lebih bisa merenungkannya. Pelaku aksi, bagaimanapun, adalah pejuang bagi idealisme yang tak ternilai.
Apabila kita menjadi pihak yang mendukung aksi besar-besaran ini, maka renungkanlah alur aksinya seperti apa. Aparat keamanan adalah juga manusia yang bekerja tidak semata-mata demi pengabdian thok! Mereka adalah para pejuang bagi penghidupan keluarganya. Mencederai mereka sama saja mencederai isteri dan anak-anak mereka. Perusakan atas fasilitas umum akan menimbulkan pengeluaran negara untuk memperbaiki maupun menggantinya. Lagi-lagi anggaran akan terkuras untuk suatu hal yang tak seharusnya dikeluarkan.
Mari kita saling mendukung dalam perenungan kita masing-masing.
Kisaran, 30 Maret 2012
Ikhwan Muslim Nasution

