Arsip | OPINIKU & KOMENTARKU RSS feed for this section

Merenungkan Aksi Massa

10 Apr

Masyarakat kita terbelah ke dalam dua kubu dalam penyikapan atas demonstrasi besar yang bergulir di kota-kota besar di negeri ini. Tanpa bermaksud membela kubu yang pro maupun yang kontra, baiklah kita renungkan saja perjalanan sejarah bangsa ini maupun bangsa-bangsa lainnya.

Apabila kita mengutuki aksi mahasiswa sebagai sesuatu yang negatif, maka mari kita renungkan peristiwa ’98 yang menjadi akhir dari Orba. Perlu pula kita renungan peristiwa ‘people power’ di Filipina yang menjungkalkan penguasa korup pada masa itu. Bagi yang telah sempat membaca ‘Aksi Massa’-nya Tan Malaka, dia seyogianya akan lebih bisa merenungkannya. Pelaku aksi, bagaimanapun, adalah pejuang bagi idealisme yang tak ternilai.

Apabila kita menjadi pihak yang mendukung aksi besar-besaran ini, maka renungkanlah alur aksinya seperti apa. Aparat keamanan adalah juga manusia yang bekerja tidak semata-mata demi pengabdian thok! Mereka adalah para pejuang bagi penghidupan keluarganya. Mencederai mereka sama saja mencederai isteri dan anak-anak mereka. Perusakan atas fasilitas umum akan menimbulkan pengeluaran negara untuk memperbaiki maupun menggantinya. Lagi-lagi anggaran akan terkuras untuk suatu hal yang tak seharusnya dikeluarkan.

Mari kita saling mendukung dalam perenungan kita masing-masing.

Kisaran, 30 Maret 2012
Ikhwan Muslim Nasution

Perang Fosil

10 Apr

Sampai kapan kita menggantungkan gerak individu dan mobilitas sosial pada fosil-fosil purba kala? Sampai sejauh mana upaya kita ke arah pemanfaatan energi yang terbarukan? Matahari masih setia menerangi bumi, panas bumi masih belum dingin, aliran air masih mengitari kita, dan aneka sumber bahan bakar nabati demikian berlimpah.

Aksi massa seputar BBM itu akan terus berlanjut hingga kita tak lagi terikat pada fosil-fosil purbakala. Terasa miris jika kita harus beradu parang gara-gara fosil purbakala yang kian menipis. Akan tibakah masanya, kita berperang memperebutkan areal fosil?

Kisaran, 29 Maret 2012
Ikhwan Muslim Nasution

Jangan Bicara…

10 Apr

Antara koalisi dan oposisi itu secara alamiah memang tak seharusnya akur. Palsu, jika koalisi dan oposisi se-iya se-kata. Tapi masak iya juga, menjadi bagian dari koalisi wajib sepakat? Apa akan selamanya masuk akal juga yang oposisi kekal berseberangan?

Saya kira, masyarakat kita tidak bodoh-bodoh amat lah untuk menilai gerak-gerik maupun manuver politik di negeri ini. Hanya saja, jangan sampai parlemen itu sekedar menjadi tempat berbasa-basi yang tak jelas mentalitasnya seperti apa.

Beberapa muka yang itu-itu juga dipajang di media, yang bersilat lidah mendayu-dayu, perlu kiranya ‘dirumahkan’ dulu. Suasana lagi keruh begini, tak lagi penting-penting amatlah bagi rakyat mendengar irama sajak, pantun, istilah, maupun pepatah mereka.

Soal mau itu koalisi atau oposisi, mentalitasnya yang benar aja lah. Jangan ada dusta di antara kita. Itu aja dulu yang paling penting.

Kisaran, 27 Maret 2012
Ikhwan Muslim Nasution

B O M

10 Apr

Dalam kondisi apapun (damai atau perang), ledakan bom senantiasa menyisakan dua sisi yang berlawanan: sisi duka dan sisi suka.

Bagi target pemboman akan ada suasana muram nan mencekam, nyawa yang lepas dari jasad, luka-luka pada organ tubuh, lolongan panjang penderitaan akibat kehilangan maupun rasa sakit yang melekat, atau trauma psikologis yang merenggut keceriaan hidup.

Bagi pelaku pengeboman, ledakan bom dipandang sebagai penuntasan sebuah misi penting yang melegakan, puncak dari perayaan kemenangan yang sarat emosi, dan gambaran terang akan sebuah penegasan eksistensi kekuatan kepada pihak ‘musuh’.

Bom adalah senjata yang lahir dari intelijensia manusia untuk kepentingan manusia dalam usaha mempertahankan diri dan apa-apa yang melekat pada dirinya. Bom hanyalah sebuah benda tak bernyawa yang digunakan antara lain untuk ‘mencabut’ nyawa.

Tak di Timur tak di Barat, tak di Utara tak di Selatan, pelaku dan target pengeboman itu adalah manusia. Peneror dan yang diteror adalah manusia. Yang berduka akibat bom adalah manusia. Yang bersuka cita akibat bom pun juga manusia.

Seiring dengan perjalanan sejarah, bom menjadi identik dengan teror politik dan pesan ideologis.

fa’tabirû yâ ulil albâb…

Kisaran, 21 Maret 2012
Ikhwan Muslim Nasution

Lady Gaga

10 Apr

Apa relevansi konser Lady Gaga dengan anarkisme? Jika anarkisme diartikan sebagai suatu kondisi tanpa adanya otoritas yang mengatur kehidupan massa, maka patut kita pertanyakan posisi pemegang otoritas saat ini sebagai apa dan untuk apa.

Tak lekang dari ingatan ketika orang-orang semacam Hidayat Nur Wahid kasak-kusuk “mengompor-ngompori” Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk melontarkan fatwa haram golput. Alasannya klise, dikhawatirkan pemerintah kehilangan kredibilitas di hadapan massa yang mulai jijik berurusan dengan muka-muka tanpa rasa malu politikus busuk.

Jika suara-suara para legislator saja sudah tak dipandang, apa gunanya ruang legislatif? Lalu, ketelan dimana itu suara Menteri Agama, yang tak lain tak bukan adalah bagian dari eksekutif?

Sesaat, kita dipaksa merenung oleh keadaan: pementasan sandiwara ini pasti ada endingnya. Sembari menunggu endingnya, kita diberitau: tiket konser Lady Gaga sold out!

Kisaran, 20 Maret 2012
Ikhwan Muslim Nasution

Pion dan Pembesar

10 Apr

Pion berbaris rapi di garda depan, berjejer rapat memagari para pembesar imperium (benteng, kuda, menteri, ratu, dan sang raja). Gerak pion adalah gerak searah untuk memasrahkan hidup-matinya dalam penerobosan brikade musuh. Ia tak bisa mengelak dari laras senapan lawan dan hanya dibekali sebilah belati untuk menusuk dalam jarak satu jangkau tusukan menyerong maju. Ia bahkan tak bisa menusuk musuh yang teronggok teler tepat di hadapannya, apalagi menghadapi musuh yang mengendap-endap di belakangnya. Perintah untuknya hanyalah perintah maju, tak dapat surut.

Pion, dalam pertarungan hegemoni dua imperium di papan catur, adalah tumbal tingkat pertama. Nilai nyawanya dipandang lebih murah dan tidak terlalu penting. Pion adalah tameng hidup dalam menahan gempuran musuh. Pion adalah tikus got yang sengaja dilepas ke tanah lapang untuk menguji keamanan medan dari ranjau musuh. Termasuk di dalam tugas pokok dan fungsinya adalah memancing perhatian musuh demi kelancaran langkah para pembesar menjalankan muslihat.

Akan tetapi, sudah mulai tak jarang pula, pion-dengan keberuntungan yang melingkupinya dan dukungan pembesarnya-membunuh pembesar musuh. Yang paling menarik, ada beberapa pion dalam sejarah yang telah berhasil membunuh Raja, meski belum pernah terjadi pion membunuh pembesarnya atau rajanya sendiri. Dalam dinamika percaturan politik sebenarnya, warna loyalitas itu tak seterang perbedaan warna bidak hitam dan putih di papan catur. Sebagaimana para pembesar yang tak kunjung memberi jaminan rasa aman atas nyawa si pion, siapa yang kan menjamin si pion tak kan membunuh pembesarnya atau bahkan rajanya, pada suatu ketika?

Kisaran, 13 Maret 2012
Ikhwan Muslim Nasution

Front Batin

10 Apr

Beberapa hal yang mengusik hati itu berawal dari rasa tak puas atas suatu gugatan sosial yang tidak pada tempatnya terhadap suatu penampakan dalam kehidupan. Dalam beberapa kasus, gugatan-gugatan sosial itu mendapat padanan lawan dalam bentuk tanya-jawab yang beradu ngotot di kedalaman diri. Hasilnya bukanlah mutlak hasil dalam bentuk jawaban terstruktur. Kadang-kadang jadi bias. Kadang-kadang jadi kabur. Bahkan tak jarang ia menjadi rangkaian pergumulan tak bertepi dalam beberapa front yang batas-batasnya telah pupus. Sebab akibat yang tak berkesudahan, adu argumen dalam rasionalisasi yang paling tidak bisa dijabarkan ratusan mil dari jarak bicara, dan aksi reaksi yang tak jarang berujung bentrok. Kesemuanya itu berproses dari pemantik yang bisa dengan ‘sepele’ ditemui dalam hidup.

Wallôhu a’lam…

Kisaran 07 Maret 2012
Ikhwan Muslim Nasution

TIKUS

10 Apr

Satu dua tikus yang lalu lalang di sebuah toko makanan tentu membuat jengkel para penghuni dan pemilik toko. Geram betul mendapati kondisi ini. Dari sekian ide emosional yang muncul, ingin benar membakar habis tikus-tikus tersebut. Bagaimana caranya? Tentu saja tidak logis bagi seorang yang tengah emosi sekalipun untuk membakar toko tersebut gara-gara kemunculan tikus-tikus yang merugikan.

Bagaimana pula jika ternyata tikus yang dipikir semula tikus beneran itu ternyata tikus berbentuk manusia, karyawannya pula? Wah, bisa kalap betul. Ingin betul mencekik tikus tersebut sampai biji matanya keluar.

Tak perlu kita panjang-lebarkan percakapan seputar tikus-tikus kecil yang dibesar-besarkan media. Dungu betul klo kita digiring ke isu teri, sementara apa cerita hiu kita alpa. “Politikus” dalam makna sebenarnya sebagai “konglomerasi tikus besar” memegang saham terbesar dalam pembodohan, penyesatan, dan penyengsaraan ummat manusia di kolong jagat ini. Puncak kegeraman dan amuk amarah dalam ambang batas kewarasan sepatutnya dimuarakan ke konglomerasi ini.

Wallôhu a’lam…

Kisaran, 4 Maret 2012
Ikhwan Muslim Nasution

si Narji

10 Apr

Bisa kau saksikan, Narji. Mereka-mereka yang meluruskan jari telunjuknya ke bawah itu, yang bau mulutnya melampaui bangkai berbelatung, adalah orang-orang yang telah dengan teramat sangat salah ditempatkan zaman pada posisi orang-orang terhormat. Mereka berpetuah atau bermukadua, berperintah atau ber-antah, bersumpah atau berserapah, berbicara atau berdusta, sudah tak ada bedanya lagi. Atas nama formalitas, kita dipaksa tunduk dalam bayang-bayang pengingkaran terhadap realitas. Kita mesti duduk takzim memperhatikan kalimat-kalimat penuh etika mereka sembari menelan ludah yang hendak kita semburkan ke wajah-wajah mereka. Entah bermula darimana, nyatanya memang mereka telah diposisi orang-orang terhormat. Kadang-kadang timbul pikiran liar di alam sadar kita, ini orang apa dulu semasa di sekolahan pernah ranking, kok pikirannya goblok bener? Ini orang kok bisa-bisanya jadi orang terhormat?

Narji, itu, ada yang namanya persis dengan namamu. Tapi pola pikirnya, Narji, goblok betul. Pokoknya mendingan ente lah dari yang itu. Tapi maaf ni, Narji. Soal nasib, beda betul dengan ente. Ente orang kulian, dia sekarang menjabat sebagai orang top di kuliahan. Nasibmu, Narji.

Kisaran, 28 Pebruari 2012
Ikhwan Muslim Nasution

I S U

10 Apr

Dalam kesimpangsiuran berita, tersebutlah nama. Menggenapi desas-desus inisial yang berdengung di lobang telinga. Mendadak betul, hingga menarik perhatian khalayak. Dari beberapa detik orang-orang menahan nafas, kerumunan kembali beriuh rendah. Sungguh peralihan isu yang cepat, melampaui kecepatan gerak tarikan dan hembusan asap rokok. Dari sudut terabaikan itu, sembari menikmati kerumunan yang terbius isu terkini, sang perokok mengagumi sang pengatur ritme isu. “Siapa dia? Bagaimana caranya? Apa dia juga tengah merokok?”

Kisaran, 25 Pebruari 2012
Ikhwan Muslim Nasution

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.