Bermula dari Materi, maka kita sebut sajalah ini sebagai bagian dari Materialisme. Materialisme Historis, mengajarkan kepada kita bahwa alam tersusun dari Materi. Bermula dari Materi, bukan dari Ide. Jadi, kita musti menyanggah dengan keras pihak-pihak yang masih terikat pada mistik-mistik masa lalu. Mistik-mistik zaman kegelapan Mesir di bawah bayang-bayang kemahakuasaan Dewa Rah yang, konon, dengan sekali gertakan PTAH! akan mencipta sesuatu sesuka hatinya. Padahal, kepercayaan kuno ini sangat tidak rasional bagi manusia yang memiliki kecerdasan intelektual. Maka dari itu, pembahasan perihal hakikat berpikir ini tidak bisa kita pisahkan dari Materialisme: paham yang mengantarkan manusia ke arah kesadaran mutlak bahwa dia lah yang berkuasa penuh atas dirinya, bukan Dewa Rah atau sembahan-sembahan lainnya. Anda mengerti, Saudara Ikhwan?
*****
Silahkan lanjutkan. Ada waktunya bagiku nanti untuk menanggapi semua kata-katamu ini. Aku akan menyimak dulu. Mencernanya dulu pelan-pelan. Silahkan lanjutkan!
*****
Materi adalah awal kehidupan kita. Sekali lagi, Materi. Bukan Ide. Bukan Logos. Bukan Dewa Rah dengan kalimat sakti Ptah!-nya. Bukan Idealisme ala Hegelian. Marx sudah mempermalukan Hegel dalam hal ini, meski Marx sendiri dulunya berguru dialektika kepada Hegel. Nah, materi ini lah awal pijakan kita dalam memahami hakikat berpikir.
Menurut pemisahan yang diadakan oleh Engels, maka pada barisan idealis, kita dapati penganjur terkemuka sekali seperti Plato, Hume, Berkeley yang berpuncak pada Hegel. Pada barisan materialis, kita dapati Heraklit, Demokrit dan Epikur, di masa Yunani, Diderot, Lamartine di masa revolusi Perancis yang berpuncak pada Marx-Engels. Di antaranya itu didapati banyak ahli filsafat campur aduk scientists, setengah idealis setengah materialis.
Untuk membungkam mulut kaum Idealis, Charles Darwin telah menyempurnakan pembuktiannya tentang teori Evolusi. Manusia adalah evolusi sempurna dari materi. Bukan hasil ciptaan Dewa Rah dengan kalimat Ptah!-nya. Perhatikanlah, Saudara Ikhwan. Alangkah bodohnya manusia-manusia yang percaya otomatis terhadap Firman Maha Dewa Rah tempo doeloe. Demikianlah Firmannya Maha Dewa Rah:
Ptah: maka timbullah bumi dan langit
Ptah: maka timbullah bintang dan udara
Ptah: maka timbullah sungai Nil dan daratan
Ptah: maka timbullah tanah-subur dan gurun
*****
Interupsi, Saudara Tan Malaka!!! Bisa diperingkas ceritera Anda ini hingga terang bagiku penerangan saudara tentang Hakikat Berpikir ini?
*****
Oh, maaf Saudara Ikhwan. Beginilah saya. Saya ini perfeksionis kalau menerangkan sesuatu. Apalagi berhubungan dengan sebuah hakikat. Nanti akan sampai jugalah kita kepada pembahasan itu. Namun ada dasar yang harus diruntuhkan sebelum kita membangun sebuah bangunan pemikiran. Yang harus diruntuhkan itu bernama: bangunan lapuk kepercayaan yang tegak di atas takhayul dan mitos mistik. Sesuatu yang irasional hanya akan membawa ummat manusia kepada kegelapan lorong candu yang merusak akal. Ini musti dirobohkan dulu.
Biasanya musuh proletar, menerjemahkan dan menyamarkan “materialisme” itu sebagai ilmu yang berdasar atas daya upaya mencari kesenangan hidup tak terbatas; makan sampai muntah, minum sampai mabuk, kawin dan cerai sesukanya saja. Sedangkan idealisme itu diterjemahkan dan dijunjung tinggi sebagai satu ilmu berdasarkan kesucian yang paling tinggi, lebih memperhatikan berpikir dari pada makan, dan kebudayaan yang sampai menjaduhi kaum ibu seperti seorang santri, resi. Dalam keadaan yang benar, dalam kehidupan mereka, kita tidak sekali dua kali berjumpa, dengan seorang yang memangku paham idealis berlaku sebaliknya dari persangkaan itu, sedangkan dalam kalangan materialis banyak kita dapati orang hidup dengan segala sederhana dan seperti suami dan bapak yang setia.
Baiklah, saya peringkas:
Materi, bukan Ide, yang menjadi awal cerita alam. Logika Mistika harus dibuang jauh-jauh dari alam kesadaran umat manusia, khususnya kaum proletar. Logika Mistika hanyalah candu perusak sebagaimana ditekankan dengan sangat jelas oleh Karl Marx bersama co-creator Marxisme-nya, Engels: Agama adalah candu. Kita, bangsa Indonesia jangan terjebak pada pandangan kuno Hindu, Budha, Kristen, dan Islam. Materialisme, sebagai pijakan dasar kita dalam membangun pola pikir harus dipupuk sedari dini.
****Bersambung lagi ya…


