Arsip | Tokoh RSS feed for this section

Dialog Maya dengan Tan Malaka: (Mengawali) Hakikat Berpikir

14 Apr

Bermula dari Materi, maka kita sebut sajalah ini sebagai bagian dari Materialisme. Materialisme Historis, mengajarkan kepada kita bahwa alam tersusun dari Materi. Bermula dari Materi, bukan dari Ide. Jadi, kita musti menyanggah dengan keras pihak-pihak yang masih terikat pada mistik-mistik masa lalu. Mistik-mistik zaman kegelapan Mesir di bawah bayang-bayang kemahakuasaan Dewa Rah yang, konon, dengan sekali gertakan PTAH! akan mencipta sesuatu sesuka hatinya. Padahal, kepercayaan kuno ini sangat tidak rasional bagi manusia yang memiliki kecerdasan intelektual. Maka dari itu, pembahasan perihal hakikat berpikir ini tidak bisa kita pisahkan dari Materialisme: paham yang mengantarkan manusia ke arah kesadaran mutlak bahwa dia lah yang berkuasa penuh atas dirinya, bukan Dewa Rah atau sembahan-sembahan lainnya. Anda mengerti, Saudara Ikhwan?

*****

Silahkan lanjutkan. Ada waktunya bagiku nanti untuk menanggapi semua kata-katamu ini. Aku akan menyimak dulu. Mencernanya dulu pelan-pelan. Silahkan lanjutkan!

*****

Materi adalah awal kehidupan kita. Sekali lagi, Materi. Bukan Ide. Bukan Logos. Bukan Dewa Rah dengan kalimat sakti Ptah!-nya. Bukan Idealisme ala Hegelian. Marx sudah mempermalukan Hegel dalam hal ini, meski Marx sendiri dulunya berguru dialektika kepada Hegel. Nah, materi ini lah awal pijakan kita dalam memahami hakikat berpikir.

Menurut pemisahan yang diadakan oleh Engels, maka pada barisan idealis, kita dapati penganjur terkemuka sekali seperti Plato, Hume, Berkeley yang berpuncak pada Hegel. Pada barisan materialis, kita dapati Heraklit, Demokrit dan Epikur, di masa Yunani, Diderot, Lamartine di masa revolusi Perancis yang berpuncak pada Marx-Engels. Di antaranya itu didapati banyak ahli filsafat campur aduk scientists, setengah idealis setengah materialis.

Untuk membungkam mulut kaum Idealis, Charles Darwin telah menyempurnakan pembuktiannya tentang teori Evolusi. Manusia adalah evolusi sempurna dari materi. Bukan hasil ciptaan Dewa Rah dengan kalimat Ptah!-nya. Perhatikanlah, Saudara Ikhwan. Alangkah bodohnya manusia-manusia yang percaya otomatis terhadap Firman Maha Dewa Rah tempo doeloe. Demikianlah Firmannya Maha Dewa Rah:

Ptah: maka timbullah bumi dan langit
Ptah: maka timbullah bintang dan udara
Ptah: maka timbullah sungai Nil dan daratan
Ptah: maka timbullah tanah-subur dan gurun

*****

Interupsi, Saudara Tan Malaka!!! Bisa diperingkas ceritera Anda ini hingga terang bagiku penerangan saudara tentang Hakikat Berpikir ini?

*****

Oh, maaf Saudara Ikhwan. Beginilah saya. Saya ini perfeksionis kalau menerangkan sesuatu. Apalagi berhubungan dengan sebuah hakikat. Nanti akan sampai jugalah kita kepada pembahasan itu. Namun ada dasar yang harus diruntuhkan sebelum kita membangun sebuah bangunan pemikiran. Yang harus diruntuhkan itu bernama: bangunan lapuk kepercayaan yang tegak di atas takhayul dan mitos mistik. Sesuatu yang irasional hanya akan membawa ummat manusia kepada kegelapan lorong candu yang merusak akal. Ini musti dirobohkan dulu.

Biasanya musuh proletar, menerjemahkan dan menyamarkan “materialisme” itu sebagai ilmu yang berdasar atas daya upaya mencari kesenangan hidup tak terbatas; makan sampai muntah, minum sampai mabuk, kawin dan cerai sesukanya saja. Sedangkan idealisme itu diterjemahkan dan dijunjung tinggi sebagai satu ilmu berdasarkan kesucian yang paling tinggi, lebih memperhatikan berpikir dari pada makan, dan kebudayaan yang sampai menjaduhi kaum ibu seperti seorang santri, resi. Dalam keadaan yang benar, dalam kehidupan mereka, kita tidak sekali dua kali berjumpa, dengan seorang yang memangku paham idealis berlaku sebaliknya dari persangkaan itu, sedangkan dalam kalangan materialis banyak kita dapati orang hidup dengan segala sederhana dan seperti suami dan bapak yang setia.

Baiklah, saya peringkas:
Materi, bukan Ide, yang menjadi awal cerita alam. Logika Mistika harus dibuang jauh-jauh dari alam kesadaran umat manusia, khususnya kaum proletar. Logika Mistika hanyalah candu perusak sebagaimana ditekankan dengan sangat jelas oleh Karl Marx bersama co-creator Marxisme-nya, Engels: Agama adalah candu. Kita, bangsa Indonesia jangan terjebak pada pandangan kuno Hindu, Budha, Kristen, dan Islam. Materialisme, sebagai pijakan dasar kita dalam membangun pola pikir harus dipupuk sedari dini.

****Bersambung lagi ya… :)

Dialog Maya dengan Tan Malaka: (Menuju) Hakikat Berpikir

14 Apr

Saya persilahkan saudara Tan Malaka memberi penjelasan terlebih dahulu tentang Hakikat Berpikir. Saya akan simak baik-baik. Akan coba pahami pelan-pelan. Silahkan “jembatan keledai” yang Saudara gunakan untuk mengingat banyak hal selama berpetualang dihempangkan di hadapanku. Akan kuikuti dengan pengamatan penuh gerak-gerik Saudara meniti “jembatan keledai” itu. Silahkan dimulai…

*****

Alles was besteht ist wert,
dass es zu Gruende geht.
(Mephistopheles)
Asia sudah bangun!

Baiklah Saudara Ikhwan, perkenankanlah Saya, Tan Malaka, memberikan penerangan seputar Hakikat Berpikir sebagaimana permintaan Anda. Saya ada menulis banyak buku semasa hidup saya. Seperti telah diutarakan Saudara Ikhwan Muslim Nasution pada posting pertama, ada di antara buku saya itu Aksi Massa, Naar de Republiek Indonesia, MADILOG, Gerpolek, SI Semarang dan Onderwijs, Islam dalam Tinjauan Madilog, Thesis, Muslihat, Politik, Semangat Muda, dll. Pembahasan tentang Hakikat Berpikir terutama sekali saya cantumkan di dalam MADILOG. MADILOG ini adalah untuk “Undang Kaum Proletar Berpikir”.

MADILOG, ialah paduan dari permulaan suku kata : (MA)-TTER, (DI)-ALECTICA dan (LOG)-ICA. “Mater’’ saya terjemahkan dengan “benda’’, dialektika dengan pertentangan atau pergerakan dan logika dengan undang berpikir. Paduan dalam bahasa Indonesia tiadalah begitu enak didengar dan tiada pula membuka pikiran baru seperti “jembatan keledai’’ saya. Sebab segala kata di atas sudah begitu umum dalam bahasa negara besar-besar di Eropa, walaupun bahasa cangkokan dari bahasa Latin dan Yunani, maka tiadalah perlu kita segan mencangkok kata itu ke dalam bahasa kita.

“Madilog’’ saya maksudkan terutama ialah cara berpikir. Bukanlah suatu Waltanschauung, pemandangan dunia walaupun cara berpikir dan pemandangan dunia atau filsafat adalah seperti tangga dengan rumah, yakni rapat sekali. Dari cara orang berpikir itu kita dapat duga filsafatnya dan dari filsafatnya kita dapat tahu dengan cara dengan methode apa dia sampai ke filsafat itu.

*****

Interupsi!!!
Maaf, Saudara Tan Malaka!!! Kita jangan bertele-tele lagi. Saya tidak sedang meminta Saudara untuk mempromosikan MADILOG kepadaku. Saya mau ke inti persoalan saja. Langsung saja ke Hakikat Berpikir. Tidak perlu lagi dijabarkan pembuktian Theorema Phytagoras tentang segitiga siku-siku seperti yang Anda cantumkan di MADILOG. Juga tidak perlu kita berbelit-belit dengan penerangan tentang Silogisme, Induktif, dan Deduktif… Terimakasih!

*****

Maaf, Saudara Ikhwan. Saya kira kita perlu jelaskan secara pelan-pelan. Secara rinci. Biar jelas dan gamblang. Anda tahu sendiri kan, Saya itu menulis MADILOG kurang lebih 8 bulan dari 15 Juli 1942 sampai dengan 30 Maret 1943 (berhenti 15 hari), 720 jam, ialah kira-kira 3 jam sehari. Bagaimana saya diminta menjelaskannya secara gamblang jika hanya diberi sedikit waktu buat menerangkannya?

*****

Tidak perlu detailnya. Saya mau intisarinya saja. Soal detal-detailnya bisa Anda jelaskan belakangan, jika Anda berharap saya masih mau bertemu dengan Anda. Bisa???

*****

Baiklah, saya jelaskan intisarinya saja. Kalau mau lebih lengkap dan detail, silahkan Saudara cari dan baca buku-buku saya.

*****

Silahkan.

*****

………………….bersambung………………..……………………....

Medan, 1 April 2009
Ikhwan Muslim Nasution

Dialog Maya dengan Tan Malaka: “Pengantar Menuju Pertengkaran Ideologis”

31 Mar

tan-malaka

Sutan Ibrahim Datuk Tan Malaka, Putera Minangkabau yang dijuluki “Guru Bangsa” oleh Goenawan Mohamad dan orang-orangnya, sayang sekali saya tidak sampai berjumpa dengan Anda. Tentu akan sangat mengagumkan jika saja saya sempat berdialog barang sekata dua kata dengan Anda. Belajar banyak hal dari Anda, dari heroisme petualangan Anda, yang diagung-agungkan si Goen dan orang-orangnya itu. Akan jauh lebih berkesan jika saya sempat “bertengkar” dengan Anda. Tentang banyak hal. Tentang Filsafat Materialisme. Tentang Dialektika Materialisme. Tentang Dialektika Historis. Tentang Marxisme. Tentang Buku-Buku Anda yang “terlanjur” dijadikan “Kitab Petunjuk Jalan” oleh orang-orang kiri di belakang hari: Madilog, Aksi Massa, Gerpolek, Naar de Republiek Indonesia, Semangat Muda, Muslihat, dll.

Jujur, saya sangat kagum pada pilihan kata-kata Anda dalam “Kitab-Kitab Kaum Kiri Nusantara” itu. Mengagumkan! Lebih mengagumkan lagi bagi saya, ketika menelisik dari jarak zaman yang tidak dekat, kiprah petualangan Anda di segala penjuru mata angin. Nomaden semacam gelandangan ideologis kiri. Tergesa-gesa bergerak di bawah ancaman bayonet musuh. Merangkak di lorong-lorong gelap persembunyian. Menyamar dengan identitas yang berbeda di tiap daratan yang kau jejak. Mengagumkan. Dalam tataran pemikiran ideologis, menurutku, Che Guevara masih setingkat di bawah Anda.

Ingin juga aku bertanya, Di manakah gerangan Anda belajar banyak hal di masa bergejolak seperti itu? Tahukah Anda, kami yang hidup tenang di zaman ini, amat sedikit mendapat pengajaran yang layak tentang banyak hal? Kami lebih sering berkeluh kesah dengan keadaan daripada mendalami keluh kesah itu sendiri sembari mencari pemecahan atas problematika yang menimpa kami. Lebih sering terlibat pertengkaran alot dari hal-hal sederhana. Lupa belajar banyak hal. Isi kepala dari kebanyakan kami paling-paling berisi hal-hal yang diajarkan di kelas-kelas formal tertutup semisal: pelajaran berhitung, pelajaran menulis, pelajaran membaca, pelajaran berdeklamasi, pelajaran seni termasuk menari dan bersandiwara, pelajaran moral pancasila dan agama, pelajaran manut-patuh-dan bungkam pada realitas status quo seburam apa pun itu. Kira-kira, inilah isi otak kami di zaman ini.

Beberapa dari kami memang agak beruntung. Pelajaran di alam terbuka yang membuka cakrawala berpikir kami peroleh di halaqoh-halaqoh yang bukan sembarang pengajian belaka. Halaqoh ini bukan seperti wiridan orang-orang tua yang biasanya tak jauh-jauh dari aktivitas yasinan, tahlilan, dan seruan-seruan moral belaka. Ini lain, Tan Malaka. Ini seperti kuliah ideologis di tengah arus pragmatis yang melanda jiwa anak-anak muda negeri ini. Itulah kenapa saya katakan di awal, Akan jauh lebih berkesan jika saya sempat “bertengkar” dengan Anda.

Ada juga dari kami yang mendapat pengajaran di alam terbuka dari mentor-mentor kiri, yang menjadikan buku-buku Anda, di samping buku-buku-nya Marx-Engels, sebagai Kitab Petunjuk Jalan. Mereka ini sekali dua kali menampakkan diri dalam aksi-aksi anarkis. Seakan dunia sekitarnya ini adalah hutan lebat Amerika Latin tempatnya Che Guevara dulu bergerilya. Filosofi dasar dialektika material tentang pertentangan kelas antara kaum proletar dan kaum kapitalis menjadi alat bedah mereka di dalam memahami dan menganalisa realitas sosial. Namun yang lebih banyak adalah mereka yang diajarkan pada jalan pragmatisme: Entah mereka dari Islam ataukah Nasionalis tulen. Macam-macam lah pokoknya.

Pertengkaran kita itu, seandainya terjadi, bukanlah yang sifatnya debat kusir ala kaum pragmatis. Bukan tentang berapa persen target rasional agar suara yang diperoleh di pemilu legislative berpengaruh di ruang tertutup. Bukan juga tentang wacana koalisi yang sarat kepentingan jangka pendek dan pragmatis belaka. Bukan tentang siapa Capres-Cawapres favorite. Bukan tentang strategi kampanye dan aktivitas menempel-nempel poster dan pamflet dan menancapkan bendera parpol borjuis pragmatis. Tapi, kita musti bertengkar sampai larut malam tentang perbedaan mendasar ideology yang kita anut. Tentang masa depan yang akan diupayakan diwujudkan. Tentang hakikat kehidupan. Tentang hakikat berpikir. Tentang hakikat alam. Tentang bagaimana mensejahterakan rakyat. Tentang bagaimana metode yang tepat untuk mengubah realitas masyarakat. Tentang perubahan dan transformasi social. Tentang banyak hal yang tersangkut paut dengan ideology yang kita anut secara berbeda.

Saya mau kita bertemu pada sebuah kesempatan untuk memulai dialog maya ini dengan sebuah “pertengkaran” tentang: HAKIKAT BERPIKIR!!! Kapan pun Anda muncul dalam imajinasiku, kita akan memulainya!!! Sampai jumpa, Tan Malaka!!!

Medan, 31 Maret 2009

Ikhwan Muslim Nasution

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.