Arsip | Peristiwa RSS feed for this section

Tiada Hari Tanpa Perlawanan

11 Mei

Tiada Hari tanpa Perlawanan. Itu yang tercermin dalam sebuah negeri yang masih dalam kondisi terjajah. Tidak mungkin mereka ikhlas melepas harga dirinya dirampas pihak perampas. Tidak masuk akal juga mereka rela tanah airnya dikangkangi begundal peradaban. Hanya perlawanan, tanpa tau pasti hasil akhirnya, yang bisa mereka ikhlaskan. Sekalipun nyawa taruhannya.

Baru-baru ini, Amerika Serikat kembali menunjukkan kecongkakannya. Afghanistan dibombardir. Bangunan hancur lebur menyisakan puing-puing yang berserakan. Mayat-mayat bergelimpangan. Lagi. Setiap kematian menyisakan isak tangis, janda, yatim, piatu, dan semangat baru untuk terus melawan. Akan selamanya begitu.

Jangan lupakan Gaza!!! Israel, anak kandung Amerika Serikat itu, tak henti-hentinya menebar horor. Sungguh arogan. Sama saja Orang tua dan Anaknya (AS dan Israel). Kita benar-benar heran. Kenapa Amerika mesti mati-matian membela Israel? Ideologi setan macam apakah gerangan Kapitalisme itu? Hingga… demi minyak dan hasil bumi, menafikan nyawa dan kehormatan manusia??? Alangkah lalimnya. Lebih lalim dari binatang.

Perlawanan tak kan surut. Itulah yang akan terjadi. Baik di Palestina, Afghanistan, Irak, Cechnya, dan negeri-negeri yang teraniaya lainnya. Sampai kapan pun, tidak ada sejarahnya manusia yang ikhlas dijajah dan dijarah. Nenek moyang kita pun telah menunjukkannya ketika mengobarkan perlawanan tanpa henti melawan penjajah biadab Belanda. Belanda keparat itu, yang datang membawa aib dan penistaan panjang terhadap negeri ini, terus menerus mendapat perlawanan. Sudah semestinya setiap penajajah, dengan nama dan bentuk apapun, dihalau dengan perlawanan hingga ia pergi membawa virus jahat yang dibawanya.

Indonesia, negara yang merdeka dari kolonialisme pada tahun 1945, keadannya masih sangat mencemaskan. Sangat mencemaskan. Kekayaan alam yang seyogianya dinikmati oleh anak negeri, malah diangkut tanpa perasaan ke negeri-negeri bekas penjajah. Alangkah anehnya budi pekerti kita. Mereka menjajah kita pada periode yang sangat panjang. Setelah susah payah merdeka, kita serahkan pula penguasaan kekayaan alam kita kepada “mantan” musuh kita itu. Apakah mereka telah menjadi teman kita? Yakin? Aneh betul.

Memang hanya akan ada dua pilihan. Melawan kelaliman atau diam. Itu pilihan hidup yang harus disadari oleh setiap anak manusia yang lahir di setiap zaman. Tak terkecuali anak-anak Nusantara ini.

Medan, 8 Mei 2009
Ikhwan Muslim Nasution

PEMILU: Melampaui Wacana Golput atau Tidak Golput

5 Mar

MUI mengharamkan Golput dalam Pemilu. Aneka hujjah dan dalil dilontarkan untuk mengegolkan fatwa pengharaman Golput ini. Ada yang dikumandangkan secara terang-terangan di depan publik. Ada yang dibisik-bisikkan di pengajian dan majelis-majelis taklim dengan alasan tertentu: toleransi, misalnya.

Para Tokoh Parpol peserta pemilu girang bukan kepalang. Mulai dari PKS hingga PDS. Mulai dari Yang nasionalis sekuler hingga yang merasa diri religius. Mulai dari yang semi religius hingga yang semi ateis. Fatwa ini, di mata mereka, seperti seruan Jihad yang pernah dikumandangkan lewat berbagai media dan kesempatan kepada rakyat untuk bangkit berjuang melawan para kolonialis imperialis di masa pergerakan: Ambil lah contoh di masa berkobarnya semangat Arek-Arek Suroboyo tempo doeloe.
Pro dan kontra mencuat. Ini persoalan Khilafiyah ataukah persoalan politik? Ummat dibuat bingung: “Klo gak ikut milih di Pemilu 2009 nanti berdosa?” Beragam keluhan dan kritik dari pihak-pihak yang kontra dilontarkan, sahut menyahut dengan kata-kata sambutan para pemimpin partai yang rata-rata sama sepakat dan mendukung penuh fatwa MUI tersebut. Apalagi, konon, pengambilan fatwa itu sudah “didesain” atas dasar “pesanan parpol tertentu”. Aktivitas duga-menduga ini, konon, diperkuat dengan tidak diundangnya sejumlah kelompok Islam yang dari awal sudah diperkirakan tidak akan mendukung fatwa tersebut. Begitulah, duga-menduga pun terus berlangsung. Satu demi satu fakta akan tersingkap di bilik waktu.
Saya pribadi termasuk dalam pihak yang tidak sepakat dengan fatwa tersebut. Memilih di dalam pemilu itu adalah hak dan bukan kewajiban. Ini yang saya percayai. Melampaui dalil-dalil dan hujjah-hujjah yang dilontarkan MUI. Bukan karena para Ulama yang terlibat dalam pembahasan ini memiliki kepentingan di parpol mereka di 2009 nanti. Memilih untuk mengikuti atau tidak mengikuti fatwa ini sendiri adalah pilihan. Dan pilihan ini pun harus didasarkan pada hujjah dan dalil syara’. Ini yang saya pahami. Setidaknya, sampe sejauh ini. “Memilih itu Hak”.
Memilih itu bisa menjadi Haram. Haram jika digunakan untuk memilih para begundal dan pecundang politik yang hendak melacurkan negeri ini ke pasar Kapitalisme (dan atau Sosialisme). Haram jika digunakan untuk memilih para bajingan dan mafioso politik yang hendak melacurkan negeri ini ke pasar Sekularisme (apalagi Ateisme). Haram…
Pemilu itu jangan hanya dilihat dari kacamata buram, apalagi kacamata hitam tebal: hingga seakan-akan awan akan selalu mendung di langit negeri ini jika orang-orang tidak datang ke TPS memberikan suaranya. Jangan juga pemilu itu dijadikan ajang untuk mengada-ada dengan pandangan yang ada-ada saja: Seolah Kiamat sudah menanti jika orang-orang memilih Golput dalam Pemilu.
Lagi pula, rakyat kan sudah mulai cerdas. Sudah mulai bisa membaca. Meski program wajib belajar 9 tahun masih terseok-seok di negeri ini. Rakyat sudah mulai pintar. Pintar membaca petunjuk-petunjuk, isyarat-isyarat, dan tanda-tanda pemiskinan yang saban hari menghampirinya. Hari berganti hari. Bulan bolak-balik dari Sabit ke Purnama balik ke Sabit tak lelah-lelah. Tahun berganti Tahun. Dari Pemilu ke Pemilu. Presiden gonta ganti. Bosan Yang Cowok, Gantian Yang Cewek. Hasilnya? Rakyat tak melihat perubahan apa-apa.
Belum lagi klo mereka melihat tingkah polah para wakil rakyat yang semasa kampanye intensif dan jor-joran pasang muka, berbusa-busa berpidato mengaduk-aduk emosi warga, bahwa mereka adalah Laskar Wong Cilik. Memilih mereka berarti memperjuangkan kemakmuran bagi kaum melarat di negeri ini. Tidak memilih mereka berarti petaka besar bagi rakyat negeri ini. Lagi-lagi, rakyat sudah sama-sama mendengar penuturan jujur sang Demokrasi itu sendiri: “Aku bukan jalan menuju kesejahteraan. Akulah jalan menuju ketidakadilan, ketidakdamaian dan ketidaksejahteraan”.
Tapi memang dasar mental kita masih mental “otomatis setuju pada pemikiran orang berkulit putih dan berambut pirang dengan latar belakang kebarat-baratan”, kita akan merasa kuno dan terbelakang jika tidak membebek pada jalan demokrasi yang telah dihempangkan secara Global. Sebagai bagian dari penduduk dunia yang ramah, toleran, inklusif, dan modern, kita pun harus memuluskan laju kereta demokratisasi di segala bidang kehidupan menuju globalisasi peradaban. Payah! Sungguh Payah!!!
Maka, dimulailah kata-kata absurd, kontradiktif, dan ugal-ugalan di sejumlah tempat di persada jiwa anak-anak negeri ini. Mulai dari yang mantan komunis hingga yang mantan rohis: Demokrasi adalah jalan yang kita sepakati bersama untuk memperjuangkan nilai-nilai luhur kita secara konstitusional, beradab, dan santun. Seolah-olah: Demokrasi adalah juga jalan Menuju Sorga. Yang tidak ikut akan masuk neraka. Seolah-olah begini…
Substansi demokrasi adalah pemisahan antara politik dengan agama. Politik dimaknai sebagai bagian dari aktivitas di luar ketentuan suci agama. Politik itu cenderung kepada keculasan, kekotoran, dan perebutan dominasi yang sifatnya ambisius dan Machiavelis. Sementara agama adalah sesuatu yang sakral dan transendental. Tak layak yang kotor dan suci diaduk. Kira-kira begitu propaganda gelap yang kadang-kadang tidak disadari oleh para pelaku demokrasi itu sendiri.
Memang, ada juga yang paham secara gamblang. Namun karena alasan siasat, digunakan jugalah demokrasi sebagai “Jalan Yang disepakati bersama”. Sebut saja sebuah contoh yang terang dan gamblang. Pak Anis Matta, tokoh teras PKS itu, ada menulis sebuah buku yang sangat memikat dari segi pilihan kata-kata dan retorika: Menikmati Demokrasi. Tapi lagi-lagi ummat akan menilai, betulkah Pak Anis Matta dan kawan-kawan ini tengah bersiasat menggunakan jalan demokrasi menuju pencapaian target penerapan nilai-nilai luhur yang diusung secara taktis ataukah memang telah terlanjur basah main air dengan demokrasi? Apa namanya persetujuan terhadap UU Penanaman Modal Asing yang sangat kental aroma Kapitalismenya itu? Sebut saja satu buku garang yang dengan serius mempertanyakan Undang-Undang ini: Agenda Mendesak Bangsa, Selamatkan Indonesia. Pak Amien Rais, sang penulis buku ini, memaparkan bahwa Undang-Undang ini lebih Kapitalis dari Undang-Undang Negara Kapitalis! Belum lagi klo kita runut satu-satu sepak terjang para wakil rakyat kita: ini masih bagian dari siasat ataukah memang sudah nekat sepakat?
Dari sisi Ekonomi, muncul lagi anak bangsa yang “menggugat” demokrasi. Dialah Pak Zaim Saidi yang terhormat. Lewat bukunya, ILUSI DEMOKRASI, beliau yang terhormat mengungkap skandal ekonomi yang dengan rutin dipraktekkan secara sadar di negara-negara demokrasi.
Jadi, Pemilu itu bukan sekadar wacana Golput-tidak Golput. Kita butuh ruang yang lebih lebar untuk mendiskusikan ulang persoalan-persoalan bangsa ini. Tidak melulu terjebak pada pemikiran sempit dan dangkal: Pokonya pemilu dulu…
Seolah-olah kita lupa, sebuah negara dengan luas dan besar yang belum lagi tertandingi hingga kini pernah berjaya di segala bidang tanpa Pemilu. Seolah kita lupa, reformasi lahir tanpa Pemilu. Seolah kita lupa, Kuba berdaulat tanpa Pemilu. Seolah kita lupa, Iran maju berdaulat tanpa Pemilu. Seolah kita lupa, USA yang sibuk pemilu itu adalah si raja perang dengan aneka pengangguran yang membengkak di negara itu… Seolah akhirnya kita betul-betul lupa: Indonesia merdeka tanpa pemilu… Seolah-olah kita sudah sangat renta dan hilang ingatan: KITA MAKHLUK TERBAIK YANG DICIPTAKAN-NYA…
Mengapa masih mengurung akal kesadaran kita dalam ranah sempit pemilu???

Medan, Februari 2009
Ikhwan Muslim Nasution

Persamaan Israel dengan Amerika

16 Jan

USA tegak di atas tanah jajahan, setelah penduduk lokal dibantai dan disudutkan. Kaum Indian Amerika, merupakan komunitas manusia yang terancam punah oleh ekspansi kaum kulit putih Eropa. Adalah kerakusan material dan ketumpulan nurani yang menyebabkan manusia-manusia ras Indian (apa pun nama asli sukunya: karena Indian hanyalah nama yang diberikan pihak di luar komunitas mereka secara sepihak) dipunahkan secara sistematis dengan alasan: kaum kulit putih hanya berusaha membela diri dari serangan barbar kaum primitif Indian.

Kalau pun kini sisa-sisa dari kaum Indian masih ada, mereka ditempatkan di semacam kebun manusia (sebutan yang mirip-mirip dengan kebun binatang). Agar lebih formal, kebun manusia ini disebut Reservasi Indian.

300px-bia-map-indian-reservations-usa

Bayangkanlah: Tiba-tiba Indonesia kedatangan orang asing. Mau mengambil tanah kita. Kita melawan. Tapi karena keterbatasan persenjataan, kita pun kalah. Sementara itu, kebanyakan dari kita telah bergelimpangan menjadi mayat. Mungkin beberapa di antaranya menjadi santapan anjing-anjing buas mereka. Lalu, suatu ketika, setelah mereka memproklamirkan negeri tumpah darah kita menjadi negeri mereka, kita pun digiring ke sebuah wilayah yang dikapling-kapling. “Kalian tinggal di sini,” Kata petugas Reservasi. Sementara negeri kita yang luas kini menjadi milik mereka. Kita diperbolehkan hidup hanya agar kita bisa dilihat-lihat, sewaktu orang-orang asing (yang kini mengklaim sebagai warga negara yang sah (di negeri yang dulunya negeri kita, negeri nenek moyang kita) berekreasi ke kebun manusia, eh maksudnya kawasan Reservasi. Atau, kita-kita ini akan dijadikan sebagai semacam peninggalan sejarah yang masih hidup: LEGENDA HIDUP!

Seperti yang tercantum di Wikipedia, “Ada sekitar 300 reservasi Indian di AS, dan itu berarti tidak semua suku Indian yang diakui di AS, yang jumlahnya lebih dari 500 suku, mempunyai sebuah daerah reservasi. Sebagian suku malah mempunyai lebih dari satu daerah reservasi, sementara yang lainnya sama sekali tidak. Selain itu, karena penjualan dan pembagian tanah di masa lalu, sebagian reservasi sangat terpecah-pecah.”


Artinya, jika kondisi itu terjadi di negeri ini, sebahagian dari saudara-saudara kita di negeri asal kita ini: TIDAK DIAKUI atau DIPUNAHKAN??? Karena kita saja diakui hanya sebagai basa-basi moral atau sekedar sebagai keperluan penampakan legenda hidup dari masa lalu. Apa yang saudara-saudara pikirkan dan rasakan menerima kenyataan ini: ANDA TIDAK DIAKUI DI NEGERI ANDA !

Ini jugalah kini yang terjadi di Palestina. Zionisme Internasional dengan dukungan penuh dari Kapitalisme Internasional telah berhasil mencaplok tanah Palestina secara bertahap dan sistematis. Di atas tanah rampasan ini ditegakkanlah sebuah negara yang kemudian memproklamirkan diri sebagai ISRAEL.

Negara ini, Israel, adalah negara yang dari kacamata moral dan etika: ILLEGAL. Darah, air mata, dan bangkai rakyat Palestina telah menyatu dengan tanah Al-Quds seiring dengan keganasan sang Teroris Nomor Satu di Abad ini: Israel. Sebahagian dari rakyat tak berdosa menjadi santapan anjing-anjing pemburu Israel. Manusia dijadikan makanan anjing.

Ketika pejuang Palestina bergerak mempertahankan tanah air mereka, kaum Zionis dan Kapitalis melabeli para pejuang dengan sebutan-sebutan yang terasa kontradiktif dengan kenyataan historis dan realitas: TERORIS. Oleh karena itulah, para pejuang Hamas dan mujahidin lainnya kerapkali dilabeli dengan aneka sebutan yang menyesakkan. Seakan-akan faktanya jadi terbalik: pejuang palestina adalah pemberontak anarkis yang mengganggu kedaulatan Israel yang sah. Persis dengan yang dialami kaum Indian di Amerika sana.


Rakyat Palestina memang bukan rakyat Indian Amerika yang akhirnya menyerah kepada penjajah dengan memasrahkan diri ditempatkan di wilayah isolasi serupa kebun binatang itu. Gaza perlahan tapi pasti akan diarahkan menjadi semacam Reservasi bagi komunitas Palestina. Petugas Zionis akan berkata, “Kalian akan tinggal di sini (saja)”, secara bengis dan sinis. West Bank juga akan mengalami nasib yang sama dengan Gaza: dijadikan wilayah isolasi untuk komunitas Palestina. Seperti Reservasi komunitas Indian di Amerika. Yang namanya binatang di kebun binatang, suatu saat bisa dibunuh atau disingkirkan, jika hanya akan menyusahkan pihak pengelola, misalnya.
palestinian_land_loss_map
Rakyat Palestina bukan masyarakat primitif yang kehilangan orientasi. ” ‘isy karimaan au mut syahiidan “, menggema diseantero negeri. Ya, Hidup Mulia atau Mati Syahid memang sebuah pilihan yang wajib di bumi Al-Quds.

Medan Polonia, 16 Januari 2009

Ikhwan Muslim Nasution

ISRAEL MENYERANG GAZA !!!

30 Des

palestina-ruyat-134-b32

“ISRAEL menyerang Gaza, 300 orang Islam di Palestina tewas (TV One, 28/12/2008).

KOM:

(1) Pemerintah Mesir hanya bs mengecam keras, pdhl sebelumnya merekalah yg menutup pintu masuk dr Gaza ke Mesir, dan kaum Muslim dibantai di dpn mata mereka, mereka hanya diam.

(2) syuhada’ itu telah menghadap Allah, dan mereka kelak akan bersaksi di hadapan-Nya:

(Kami kecewa dg sikap para penguasa kaum Muslim yg pengecut dan pengkhianat. Kami kecewa dg sikap kaum Muslim, yg tetap tidak bersatu untuk menegakkan Khilafah, guna mengenyahkan entitas Yahudi itu dari muka bumi).

Allahummashad fainna qad ballaghna..”

(Tulisan tersebut murni berasal dari sms dari dua orang Sahabat pada hari yang sama: Muhammad Irsyad dan Andi Subianto  pada 29/12/2008).

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.