Tiada Hari tanpa Perlawanan. Itu yang tercermin dalam sebuah negeri yang masih dalam kondisi terjajah. Tidak mungkin mereka ikhlas melepas harga dirinya dirampas pihak perampas. Tidak masuk akal juga mereka rela tanah airnya dikangkangi begundal peradaban. Hanya perlawanan, tanpa tau pasti hasil akhirnya, yang bisa mereka ikhlaskan. Sekalipun nyawa taruhannya.
Baru-baru ini, Amerika Serikat kembali menunjukkan kecongkakannya. Afghanistan dibombardir. Bangunan hancur lebur menyisakan puing-puing yang berserakan. Mayat-mayat bergelimpangan. Lagi. Setiap kematian menyisakan isak tangis, janda, yatim, piatu, dan semangat baru untuk terus melawan. Akan selamanya begitu.
Jangan lupakan Gaza!!! Israel, anak kandung Amerika Serikat itu, tak henti-hentinya menebar horor. Sungguh arogan. Sama saja Orang tua dan Anaknya (AS dan Israel). Kita benar-benar heran. Kenapa Amerika mesti mati-matian membela Israel? Ideologi setan macam apakah gerangan Kapitalisme itu? Hingga… demi minyak dan hasil bumi, menafikan nyawa dan kehormatan manusia??? Alangkah lalimnya. Lebih lalim dari binatang.
Perlawanan tak kan surut. Itulah yang akan terjadi. Baik di Palestina, Afghanistan, Irak, Cechnya, dan negeri-negeri yang teraniaya lainnya. Sampai kapan pun, tidak ada sejarahnya manusia yang ikhlas dijajah dan dijarah. Nenek moyang kita pun telah menunjukkannya ketika mengobarkan perlawanan tanpa henti melawan penjajah biadab Belanda. Belanda keparat itu, yang datang membawa aib dan penistaan panjang terhadap negeri ini, terus menerus mendapat perlawanan. Sudah semestinya setiap penajajah, dengan nama dan bentuk apapun, dihalau dengan perlawanan hingga ia pergi membawa virus jahat yang dibawanya.
Indonesia, negara yang merdeka dari kolonialisme pada tahun 1945, keadannya masih sangat mencemaskan. Sangat mencemaskan. Kekayaan alam yang seyogianya dinikmati oleh anak negeri, malah diangkut tanpa perasaan ke negeri-negeri bekas penjajah. Alangkah anehnya budi pekerti kita. Mereka menjajah kita pada periode yang sangat panjang. Setelah susah payah merdeka, kita serahkan pula penguasaan kekayaan alam kita kepada “mantan” musuh kita itu. Apakah mereka telah menjadi teman kita? Yakin? Aneh betul.
Memang hanya akan ada dua pilihan. Melawan kelaliman atau diam. Itu pilihan hidup yang harus disadari oleh setiap anak manusia yang lahir di setiap zaman. Tak terkecuali anak-anak Nusantara ini.
Medan, 8 Mei 2009
Ikhwan Muslim Nasution




