Negeri Antah Berantah pada Suatu Ketika…
Seperti Kembali pada Titik Suram Perjalanan Sejarah
Ketika Kebenaran Dikebiri, dan Ketidakbenaran Dimaklumi
Perselingkuhan terkutuk antara penguasa, media, dan para teroris aqidah berlangsung secara sistematis. Sebuah konspirasi jahat berlangsung, jauh dari sekedar black campaign biasa. Semua ini dijalankan hanya demi sebuah upaya mempertahankan kursi ‘ashobiyah yang didukung kalangan setan yang terkutuk. Kaum ini, yang lebih takut kehilangan kursi kekuasaan thogutnya daripada takut kepada Allah swt, merupakan kaum Neo Machiavelis yang mengabsahkan segala jalan dalam mencapai tujuan tunggal: memberangus musuh ideologis.
Penguasa, media, dan teroris aqidah berdiri sejajar, rapat, dan mesra di belakang panji ‘ashobiyah yang mereka sebut panji SEPILIS (Sekulerisme, Pluralisme, dan Liberalisme). Yang mengagumkan. Untuk pertama sekalinya dalam sejarah, Kapitalisme bermesraan dengan Sosialisme. Hanya demi satu agenda besar: memberangus satu musuh bersama, the common enemy, yakni ISLAM!
Memang benar, para teroris aqidah dan kompatriotnya itu tidak membunuhi orang-orang islam dan tidak melarang mereka menjalankan agamanya secara membabi buta. Bukan saja karena beberapa dari para teroris aqidah ini sendiri “beragama” Islam, melainkan memang bukan itu agendanya. Setiap orang tetap dijamin hak-haknya untuk “beragama” sepanjang hak-hak itu tidak mengusik landasan aqidah bernegara mereka: SEPILIS . Urusan system ideologi bernegara pun mutlak milik Tuan-Tuan Besar Kapitalis dan Sosialis. Itu hak prerogative mereka, sesuai kesepakatan mereka. Pokonya bukan Islam!
Islamophobia yang berkarat di hati Tuan-Tuan Besar Kapitalis dan Tuan-Tuan Besar Sosialis, berikut para anteknya tentunya (entah itu penguasa boneka, media, atau bandit-bandit peradaban lainnya), memang sejenis penyakit jiwa yang tergolong berat. Secara administratif kenegaraan, mereka-mereka ini masih “beragama” Islam. Namun soal antinya terhadap Syari’ah Islam, mereka sama. Bagi mereka, Islam tak boleh lebih dari urusan ibadah ritual belaka: shalat, shaum, zakat, dan haji.
Dengan sendirinya, tanpa perlu membentuk Komite Amandemen yang ditetapkan dengan SK Pengangkatan, Al-Qur’an dan As-Sunnah telah dan terus menerus “diamandemen”. Mereka membentuk dewan legislative dan senantiasa merekayasa agar produk-produk lembaga ini bermuatan amandemen terhadap Syari’at Islam. Di atas teror kekuasaan aqidah ummat dieliminir, hingga yang tersisa adalah remah-remah label dan ketakutan menyuarakan Islam. Di bawah bayang-bayang moncong kekuasaannya, para penguasa boneka, antek Tuan-Tuan Besar berfaham SEPILIS, ditetapkanlah secara tegas sebuah kaidah baku: “hukum yang mereka tetapkan wajib dijalankan; barangsiapa yang melanggar hukum itu akan dikenakan sanksi secara tegas”.
Ketegasan itu ditunjukkan secara nyata bila musuh ideologis menampakkan gejala yang “mengancam” kedaulatan hakimiyah mereka. Aktivis Islam ideologis ditangkapi, dimasukkan ke penjara. Banyak yang dijalankan di luar prosedur. Rekayasa dan fitnah dijadikan dasar pembungkaman suara perjuangan Islam. Seakan memang begitu, Neo Machiavelisme adalah sesuatu yang absah dijalankan ketika berhadapan dengan para pejuang Islam. Jadinya, rakyat lebih takut tidak mematuhi perintah penguasa daripada tidak mematuhi perintah Allah. Rakyat lebih sering memaklumi kebathilan daripada menyuarakan yang haq.
Satu contoh sederhana, misalnya. Jihad adalah bagian dari yang haq. Namun perhatikanlah, setiap muballigh pikir-pikir dulu kalau mau menyampaikannya kepada jama’ahnya. Agar tetap tampak sebagai pengajian yang sebenarnya, diputar-putarlah kajian yang telah lalu, berpuluh-puluh kali bahkan beratus-ratus kali, tentang keutamaan menuntut ilmu dan tentang fadhilah ibadah shalat tahajjud. Ini satu contoh betapa tidak proporsionalnya muballigh kita. Dia tak ambil pusing risalah jihad dinistakan, pengajian jalan terus, dengan topik yang tak jauh-jauh dari soal ibadah ritual saja. Kalau Ustadnya saja sudah begitu, akan seperti apakah jama’ahnya? Satu contoh lain lagi, hudud dan qishash itu bagian dari yang haq. Namun di atas landasan HAM yang mereka peroleh di sekolah-sekolah mereka, putera-puteri Islam lebih meninggikan HAM dibandingkan hudud dan qishash. Lebih meninggikan pemikiran kufur daripada perintah Allah. Bahkan tak jarang memperolok-olok Syari’at Islam. Semua ini adalah buah yang telah matang dari pokok terorisme aqidah oleh penguasa negara.
Kedaulatan Hakimiyah itu sesungguhnya hanyalah milik Allah swt. Al-Qur’an menyatakan, “Inil hukmu Illa billah”. Secara lebih tegas dinyatakan dalam Surat Al-Maidah:
“Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir” (Ayat 44)
“Barangsiapa yang tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim” (Ayat 45)
“Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik” (Ayat 47)
Berbekal kekuasaan, konspirasi jahat bertubi-tubi dialamatkan kepada para pejuang Islam. Citra mereka dirusak dengan berbagai cara. Mulai dari jalan mengimpor terorisme hingga rekayasa media. Tiap kegiatan dipantau. Hasilnya dibeberkan ke media setelah melalui serangkaian rekayasa dan fitnah.
Aktivis Islam yang ikhlas berjuang diinfiltrasi. Kehadiran intelijen thogut yang menyamar di tengah-tengah para pejuang yang ikhlas namun berbekal ilmu pas-pasan ini ibarat musang berbulu ayam. Bahkan lebih keji lagi. Upaya radikalisasi dijalankan. Setelah emosi aktivis Islam ini dikuasai, digarami lagi dengan provokasi yang lebih terfokus. Pada puncaknya diberikan dana yang cukup. Tentu saja, setelah itu skenario cerita selanjutnya berada dibawah kendali mereka.
Bom yang kekuatannya cuma bisa merusak sebuah rumah reyot berubah menjadi bom penghancur kawasan. Si Aktivis hanya terbengong-bengong. Dia yang cuma punya ilmu petasan, atau penyusup yang ahli termonuklir yang menyabotase pengeboman? Wallohu a’lam…
Aparat penguasa pun bergerak meniup-niup peluit disana-sini. Upaya generalisasi opini dijalankan. “Setiap yang berjubah dan berjenggot dicurigai, ditangkapi. Setiap yang berceramah tentang jihad, curigai, fitnah, tangkap!” Risalah jihad diidentikkan dengan terorisme. Media yang notabene kebanyakan mengambil peran sebagai juru bicara peradaban jahiliyah mendukung upaya blow-up dan pengkait-kaitan kesana-kemari. Kaidah jurnalistik dinafikan. Nurani dipermainkan. Ayat-ayat Allah diperolok-olok.
Preman jalanan disewa untuk memfitnah, memperolok-olok, dan membubarkan pengajian Islam yang berbau perjuangan penegakan Islam di bumi Allah ini. Ustad-ustad yang mengajarkan Syari’at Islam kepada ummat yang masih mau menerima kebenaran Islam diteriaki sebagai teroris. Yang meneriaki Ustad yang ikhlas lillahi ta’ala ini adalah komplotan bandit jalanan, para penjudi, ahli maksiat, dan peminum minuman keras yang mengatasnamakan dirinya sebagai pemilik sah rumah Allah di muka bumi ini.
Tak bisa kubayangkan betapa murkanya Allah swt melihat kejadian-kejadian seperti ini. Sang pengusa hanya bisa mencerca dan mengutuki apa yang dia identifikasi sebagai teroris yang menghendaki kematiannya. Secara lantang dia kembali angkat suara, “Negara tidak boleh kalah dari para teroris itu”. Sama kerasnya dengan gertakannya ketika menanggapi pernikahan poligami seorang Ustad kondang di negeri Antah Berantah itu: mengecam dan cenderung mengharamkan poligami yang tidak diharamkan oleh Allah swt.
Alangkah anehnya, entah kemana suara kerasnya, kecaman dan gertakannya ketika teroris aqidah yang berjamuran dalam aliran-aliran sesat menyesatkan kian berani menampakkan wujud munafiknya. Entah kemana pula gertakan dan kecamannya ketika majalah porno yang ditentang keras oleh ummat Islam tidak mengindahkan suara-suara para Ulama. Dia itu, sebentar-sebentar garang (kalau kaitannya dengan agenda membungkam pejuang Syari’at Islam), sebentar-sebentar bisu (kalau kaitannya dengan penistaan terhadap Syari’at Islam). Semacam penyakit jiwa kompleks bagi seseorang yang mengaku “beragama” Islam. Schizofrenia generasi millennium barangkali???
Penguasa Negeri Antah Berantah itu adalah sosok yang sempurna dari sosok penguasa boneka. Hanya memikirkan jabatannya, tak mengindahkan pertanyaan dan tantangan Allah dalam Al-Qur’anul Kariiim:
“Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS. Al-Maidah: 50)
Alangkah malangnya nasib rakyat Negeri Antah Berantah itu. Meraka dihujani dengan teror aqidah. Pagi, siang, sore, hingga malam hari, saban hari, dari berbagai penjuru: kurikulum sekolah, aturan kewarganegaraan, ajaran HAM, undang-undang yang mencampakkan nilai-nilai Islam, media cetak dan elektronik, dan pemutarbalikan fakta yang berlangsung secara sistematis, massif, dan kontinyu.
Banyak yang akhirnya “salah paham” terhadap agamanya (Islam). Tanpa sadar telah tercuci otaknya. Tak sadar jadi pengikut Islam Amandemen: suatu aliran Islam yang disesatkan lewat proyek Amandemen tak kasat mata terhadap keyakinan beragama kaum muslimin. Selalu di bawah aqidah setan: SEPILIS (Sekulerisme, Pluralisme, dan Liberalisme).
Masih lebih beruntung rakyat Palestina, Afghanistan, dan Cechnya. Mereka memang terjajah secara fisik. Namun mereka merdeka dalam bathinnya sebagai muslim sejati. Bangkit berjihad, lalu syahid sebagai muslim sejati. Jauh dari paham Islam Amandemen sebagaimana kini yang melanda Negeri Antah Berantah. Merdeka secara fisik, namun terjajah secara pemikiran dan keyakinan (aqidah). Terbuai dalam cekokan paham-paham setan. Secara tak sadar tersedot ke arah Islam Amandemen: Islam yang dilabeli moderat oleh penguasa, namun jauh dari kesejatian dan kemurniannya.
Muncullah Wahn. Suatu sikap yang mencintai dunia secara berlebihan dan takut pada kematian. Parahnya, mereka berlomba bungkam ketika Islam diperolok-olok, difitnah, dan dihujat. Sebaliknya, mereka meleburkan diri ke arus penguasa, menjadi moderat, menjadi pengikut Islam Amandemen. Hanya demi keselamatan hidup di dunia belaka.
Mahasuci Allah swt yang telah berfirman:
“Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran(daripadanya).” (QS. Al-A’raaf: 3)
Wallohu a’lam…
Kisaran, 6 Ramadhan 1430 H / 27 Agustus 2009
Ikhwan Muslim Nasution






