Arsip | JURNAL POLITIK RSS feed for this section

TEROR AQIDAH OLEH PENGUASA

28 Agu

Negeri Antah Berantah pada Suatu Ketika…

Seperti Kembali pada Titik Suram Perjalanan Sejarah

Ketika Kebenaran Dikebiri, dan Ketidakbenaran Dimaklumi

Perselingkuhan terkutuk antara penguasa, media, dan para teroris aqidah berlangsung secara sistematis. Sebuah konspirasi jahat berlangsung, jauh dari sekedar black campaign biasa. Semua ini dijalankan hanya demi sebuah upaya mempertahankan kursi ‘ashobiyah yang didukung kalangan setan yang terkutuk. Kaum ini, yang lebih takut kehilangan kursi kekuasaan thogutnya daripada takut kepada Allah swt, merupakan kaum Neo Machiavelis yang mengabsahkan segala jalan dalam mencapai tujuan tunggal: memberangus musuh ideologis.

Penguasa, media, dan teroris aqidah berdiri sejajar, rapat, dan mesra di belakang panji ‘ashobiyah yang mereka sebut panji SEPILIS (Sekulerisme, Pluralisme, dan Liberalisme). Yang mengagumkan. Untuk pertama sekalinya dalam sejarah, Kapitalisme bermesraan dengan Sosialisme. Hanya demi satu agenda besar: memberangus satu musuh bersama, the common enemy, yakni ISLAM!

Memang benar, para teroris aqidah dan kompatriotnya itu tidak membunuhi orang-orang islam dan tidak melarang mereka menjalankan agamanya secara membabi buta. Bukan saja karena beberapa dari para teroris aqidah ini sendiri “beragama” Islam, melainkan memang bukan itu agendanya. Setiap orang tetap dijamin hak-haknya untuk “beragama” sepanjang hak-hak itu tidak mengusik landasan aqidah bernegara mereka: SEPILIS .  Urusan system ideologi bernegara pun mutlak milik Tuan-Tuan Besar Kapitalis dan Sosialis. Itu hak prerogative mereka, sesuai kesepakatan mereka. Pokonya bukan Islam!

Islamophobia yang berkarat di hati Tuan-Tuan Besar Kapitalis dan Tuan-Tuan Besar Sosialis, berikut para anteknya tentunya (entah itu penguasa boneka, media, atau bandit-bandit peradaban lainnya), memang sejenis penyakit jiwa yang tergolong berat. Secara administratif kenegaraan, mereka-mereka ini masih “beragama” Islam. Namun soal antinya terhadap Syari’ah Islam, mereka sama. Bagi mereka, Islam tak boleh lebih dari urusan ibadah ritual belaka: shalat, shaum, zakat, dan haji.

Dengan sendirinya, tanpa perlu membentuk Komite Amandemen yang ditetapkan dengan SK Pengangkatan, Al-Qur’an dan As-Sunnah telah dan terus menerus “diamandemen”. Mereka membentuk dewan legislative dan senantiasa merekayasa agar produk-produk lembaga ini bermuatan amandemen terhadap Syari’at Islam. Di atas teror kekuasaan aqidah ummat dieliminir, hingga yang tersisa adalah remah-remah label dan ketakutan menyuarakan Islam. Di bawah bayang-bayang moncong kekuasaannya, para penguasa boneka, antek Tuan-Tuan Besar berfaham SEPILIS, ditetapkanlah secara tegas sebuah kaidah baku: “hukum yang mereka tetapkan wajib dijalankan; barangsiapa yang melanggar hukum itu akan dikenakan sanksi secara tegas”.

Ketegasan itu ditunjukkan secara nyata bila musuh ideologis  menampakkan gejala yang “mengancam” kedaulatan hakimiyah mereka. Aktivis Islam ideologis ditangkapi, dimasukkan ke penjara. Banyak yang dijalankan di luar prosedur. Rekayasa dan fitnah dijadikan dasar pembungkaman suara perjuangan Islam. Seakan memang begitu, Neo Machiavelisme adalah sesuatu yang absah dijalankan ketika berhadapan dengan para pejuang Islam. Jadinya, rakyat lebih takut tidak mematuhi perintah penguasa daripada tidak mematuhi perintah Allah. Rakyat lebih sering memaklumi kebathilan daripada menyuarakan yang haq.

Satu contoh sederhana, misalnya. Jihad adalah bagian dari yang haq. Namun perhatikanlah, setiap muballigh pikir-pikir dulu kalau mau menyampaikannya kepada jama’ahnya. Agar tetap tampak sebagai pengajian yang sebenarnya, diputar-putarlah kajian yang telah lalu, berpuluh-puluh kali bahkan beratus-ratus kali, tentang keutamaan menuntut ilmu dan tentang fadhilah ibadah shalat tahajjud. Ini satu contoh betapa tidak proporsionalnya muballigh kita. Dia tak ambil pusing risalah jihad dinistakan, pengajian jalan terus, dengan topik yang tak jauh-jauh dari soal ibadah ritual saja. Kalau Ustadnya saja sudah begitu, akan seperti apakah jama’ahnya? Satu contoh lain lagi, hudud dan qishash itu bagian dari yang haq. Namun di atas landasan HAM yang mereka peroleh di sekolah-sekolah mereka, putera-puteri Islam lebih meninggikan HAM dibandingkan hudud dan qishash. Lebih meninggikan pemikiran kufur daripada perintah Allah. Bahkan tak jarang memperolok-olok Syari’at Islam. Semua ini adalah buah yang telah matang dari pokok terorisme aqidah oleh penguasa negara.

Kedaulatan Hakimiyah itu sesungguhnya hanyalah milik Allah swt. Al-Qur’an menyatakan, Inil hukmu Illa billah”. Secara lebih tegas dinyatakan dalam Surat Al-Maidah:

“Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir” (Ayat 44)

 

“Barangsiapa yang tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim” (Ayat 45)

 

“Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik” (Ayat 47)

Berbekal kekuasaan, konspirasi jahat bertubi-tubi dialamatkan kepada para pejuang Islam. Citra mereka dirusak dengan berbagai cara. Mulai dari jalan mengimpor terorisme hingga rekayasa media. Tiap kegiatan dipantau. Hasilnya dibeberkan ke media setelah melalui serangkaian rekayasa dan fitnah.

Aktivis Islam yang ikhlas berjuang diinfiltrasi. Kehadiran intelijen thogut yang menyamar di tengah-tengah para pejuang yang ikhlas namun berbekal ilmu pas-pasan ini ibarat musang berbulu ayam. Bahkan lebih keji lagi. Upaya radikalisasi dijalankan. Setelah emosi aktivis Islam ini dikuasai, digarami lagi dengan provokasi yang lebih terfokus. Pada puncaknya diberikan dana yang cukup. Tentu saja, setelah itu skenario cerita selanjutnya berada dibawah kendali mereka.

Bom yang kekuatannya cuma bisa merusak sebuah rumah reyot berubah menjadi bom penghancur kawasan. Si Aktivis hanya terbengong-bengong. Dia yang cuma punya ilmu petasan, atau penyusup yang ahli termonuklir yang menyabotase pengeboman? Wallohu a’lam…

Aparat penguasa pun bergerak meniup-niup peluit disana-sini. Upaya generalisasi opini dijalankan. “Setiap yang berjubah dan berjenggot dicurigai, ditangkapi. Setiap yang berceramah tentang jihad, curigai, fitnah, tangkap!” Risalah jihad diidentikkan dengan terorisme. Media yang notabene kebanyakan mengambil peran sebagai  juru bicara peradaban jahiliyah mendukung upaya blow-up dan pengkait-kaitan kesana-kemari. Kaidah jurnalistik dinafikan. Nurani dipermainkan. Ayat-ayat Allah diperolok-olok.

Preman jalanan disewa untuk memfitnah, memperolok-olok, dan membubarkan pengajian Islam yang berbau perjuangan penegakan Islam di bumi Allah ini. Ustad-ustad yang mengajarkan Syari’at Islam kepada ummat yang masih mau menerima kebenaran Islam diteriaki sebagai teroris. Yang meneriaki Ustad yang ikhlas lillahi ta’ala ini adalah komplotan bandit jalanan, para penjudi, ahli maksiat, dan peminum minuman keras yang mengatasnamakan dirinya sebagai pemilik sah rumah Allah di muka bumi ini.

Tak bisa kubayangkan betapa murkanya Allah swt melihat kejadian-kejadian seperti ini. Sang pengusa hanya bisa mencerca dan mengutuki apa yang dia identifikasi sebagai teroris yang menghendaki kematiannya. Secara lantang dia kembali angkat suara, “Negara tidak boleh kalah dari para teroris itu”. Sama kerasnya dengan gertakannya ketika menanggapi pernikahan poligami seorang Ustad kondang di negeri Antah Berantah itu: mengecam dan cenderung mengharamkan poligami yang tidak diharamkan oleh Allah swt.

Alangkah anehnya, entah kemana suara kerasnya, kecaman dan gertakannya ketika teroris aqidah yang berjamuran dalam aliran-aliran sesat menyesatkan kian berani menampakkan wujud munafiknya. Entah kemana pula gertakan dan kecamannya ketika majalah porno yang ditentang keras oleh ummat Islam tidak mengindahkan suara-suara para Ulama. Dia itu, sebentar-sebentar garang (kalau kaitannya dengan agenda membungkam pejuang Syari’at Islam), sebentar-sebentar bisu (kalau kaitannya dengan penistaan terhadap Syari’at Islam). Semacam penyakit jiwa kompleks bagi seseorang yang mengaku “beragama” Islam. Schizofrenia generasi millennium barangkali???

Penguasa Negeri Antah Berantah itu adalah sosok yang sempurna dari sosok penguasa boneka. Hanya memikirkan jabatannya, tak mengindahkan pertanyaan dan tantangan Allah dalam Al-Qur’anul Kariiim:

“Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS. Al-Maidah: 50)

 

Alangkah malangnya nasib rakyat Negeri Antah Berantah itu. Meraka dihujani dengan teror aqidah. Pagi, siang, sore, hingga malam hari, saban hari, dari berbagai penjuru: kurikulum sekolah, aturan kewarganegaraan, ajaran HAM, undang-undang yang mencampakkan nilai-nilai Islam, media cetak dan elektronik, dan pemutarbalikan fakta yang berlangsung secara sistematis, massif, dan kontinyu.

Banyak yang akhirnya “salah paham” terhadap agamanya (Islam). Tanpa sadar telah tercuci otaknya. Tak sadar jadi pengikut Islam Amandemen: suatu aliran Islam yang disesatkan lewat proyek Amandemen tak kasat mata terhadap keyakinan beragama kaum muslimin. Selalu di bawah aqidah setan: SEPILIS (Sekulerisme, Pluralisme, dan Liberalisme).

Masih lebih beruntung rakyat Palestina, Afghanistan, dan Cechnya. Mereka memang terjajah secara fisik. Namun mereka merdeka dalam bathinnya sebagai muslim sejati. Bangkit berjihad, lalu syahid sebagai muslim sejati. Jauh dari paham Islam Amandemen sebagaimana kini yang melanda Negeri Antah Berantah. Merdeka secara fisik, namun terjajah secara pemikiran dan keyakinan (aqidah). Terbuai dalam cekokan paham-paham setan. Secara tak sadar tersedot ke arah  Islam Amandemen: Islam yang dilabeli moderat oleh penguasa, namun jauh dari kesejatian dan kemurniannya.

Muncullah Wahn. Suatu sikap yang mencintai dunia secara berlebihan dan takut pada kematian. Parahnya, mereka berlomba bungkam ketika Islam diperolok-olok, difitnah, dan dihujat. Sebaliknya, mereka meleburkan diri ke arus penguasa, menjadi moderat, menjadi pengikut Islam Amandemen. Hanya demi keselamatan hidup di dunia belaka.

Mahasuci Allah swt yang telah berfirman:

“Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran(daripadanya).” (QS. Al-A’raaf: 3)

 

Wallohu a’lam…

 

Kisaran, 6 Ramadhan 1430 H / 27 Agustus 2009

Ikhwan Muslim Nasution

 

 

Tiada Hari Tanpa Perlawanan

11 Mei

Tiada Hari tanpa Perlawanan. Itu yang tercermin dalam sebuah negeri yang masih dalam kondisi terjajah. Tidak mungkin mereka ikhlas melepas harga dirinya dirampas pihak perampas. Tidak masuk akal juga mereka rela tanah airnya dikangkangi begundal peradaban. Hanya perlawanan, tanpa tau pasti hasil akhirnya, yang bisa mereka ikhlaskan. Sekalipun nyawa taruhannya.

Baru-baru ini, Amerika Serikat kembali menunjukkan kecongkakannya. Afghanistan dibombardir. Bangunan hancur lebur menyisakan puing-puing yang berserakan. Mayat-mayat bergelimpangan. Lagi. Setiap kematian menyisakan isak tangis, janda, yatim, piatu, dan semangat baru untuk terus melawan. Akan selamanya begitu.

Jangan lupakan Gaza!!! Israel, anak kandung Amerika Serikat itu, tak henti-hentinya menebar horor. Sungguh arogan. Sama saja Orang tua dan Anaknya (AS dan Israel). Kita benar-benar heran. Kenapa Amerika mesti mati-matian membela Israel? Ideologi setan macam apakah gerangan Kapitalisme itu? Hingga… demi minyak dan hasil bumi, menafikan nyawa dan kehormatan manusia??? Alangkah lalimnya. Lebih lalim dari binatang.

Perlawanan tak kan surut. Itulah yang akan terjadi. Baik di Palestina, Afghanistan, Irak, Cechnya, dan negeri-negeri yang teraniaya lainnya. Sampai kapan pun, tidak ada sejarahnya manusia yang ikhlas dijajah dan dijarah. Nenek moyang kita pun telah menunjukkannya ketika mengobarkan perlawanan tanpa henti melawan penjajah biadab Belanda. Belanda keparat itu, yang datang membawa aib dan penistaan panjang terhadap negeri ini, terus menerus mendapat perlawanan. Sudah semestinya setiap penajajah, dengan nama dan bentuk apapun, dihalau dengan perlawanan hingga ia pergi membawa virus jahat yang dibawanya.

Indonesia, negara yang merdeka dari kolonialisme pada tahun 1945, keadannya masih sangat mencemaskan. Sangat mencemaskan. Kekayaan alam yang seyogianya dinikmati oleh anak negeri, malah diangkut tanpa perasaan ke negeri-negeri bekas penjajah. Alangkah anehnya budi pekerti kita. Mereka menjajah kita pada periode yang sangat panjang. Setelah susah payah merdeka, kita serahkan pula penguasaan kekayaan alam kita kepada “mantan” musuh kita itu. Apakah mereka telah menjadi teman kita? Yakin? Aneh betul.

Memang hanya akan ada dua pilihan. Melawan kelaliman atau diam. Itu pilihan hidup yang harus disadari oleh setiap anak manusia yang lahir di setiap zaman. Tak terkecuali anak-anak Nusantara ini.

Medan, 8 Mei 2009
Ikhwan Muslim Nasution

Dialog Maya dengan Tan Malaka: (Mengawali) Hakikat Berpikir

14 Apr

Bermula dari Materi, maka kita sebut sajalah ini sebagai bagian dari Materialisme. Materialisme Historis, mengajarkan kepada kita bahwa alam tersusun dari Materi. Bermula dari Materi, bukan dari Ide. Jadi, kita musti menyanggah dengan keras pihak-pihak yang masih terikat pada mistik-mistik masa lalu. Mistik-mistik zaman kegelapan Mesir di bawah bayang-bayang kemahakuasaan Dewa Rah yang, konon, dengan sekali gertakan PTAH! akan mencipta sesuatu sesuka hatinya. Padahal, kepercayaan kuno ini sangat tidak rasional bagi manusia yang memiliki kecerdasan intelektual. Maka dari itu, pembahasan perihal hakikat berpikir ini tidak bisa kita pisahkan dari Materialisme: paham yang mengantarkan manusia ke arah kesadaran mutlak bahwa dia lah yang berkuasa penuh atas dirinya, bukan Dewa Rah atau sembahan-sembahan lainnya. Anda mengerti, Saudara Ikhwan?

*****

Silahkan lanjutkan. Ada waktunya bagiku nanti untuk menanggapi semua kata-katamu ini. Aku akan menyimak dulu. Mencernanya dulu pelan-pelan. Silahkan lanjutkan!

*****

Materi adalah awal kehidupan kita. Sekali lagi, Materi. Bukan Ide. Bukan Logos. Bukan Dewa Rah dengan kalimat sakti Ptah!-nya. Bukan Idealisme ala Hegelian. Marx sudah mempermalukan Hegel dalam hal ini, meski Marx sendiri dulunya berguru dialektika kepada Hegel. Nah, materi ini lah awal pijakan kita dalam memahami hakikat berpikir.

Menurut pemisahan yang diadakan oleh Engels, maka pada barisan idealis, kita dapati penganjur terkemuka sekali seperti Plato, Hume, Berkeley yang berpuncak pada Hegel. Pada barisan materialis, kita dapati Heraklit, Demokrit dan Epikur, di masa Yunani, Diderot, Lamartine di masa revolusi Perancis yang berpuncak pada Marx-Engels. Di antaranya itu didapati banyak ahli filsafat campur aduk scientists, setengah idealis setengah materialis.

Untuk membungkam mulut kaum Idealis, Charles Darwin telah menyempurnakan pembuktiannya tentang teori Evolusi. Manusia adalah evolusi sempurna dari materi. Bukan hasil ciptaan Dewa Rah dengan kalimat Ptah!-nya. Perhatikanlah, Saudara Ikhwan. Alangkah bodohnya manusia-manusia yang percaya otomatis terhadap Firman Maha Dewa Rah tempo doeloe. Demikianlah Firmannya Maha Dewa Rah:

Ptah: maka timbullah bumi dan langit
Ptah: maka timbullah bintang dan udara
Ptah: maka timbullah sungai Nil dan daratan
Ptah: maka timbullah tanah-subur dan gurun

*****

Interupsi, Saudara Tan Malaka!!! Bisa diperingkas ceritera Anda ini hingga terang bagiku penerangan saudara tentang Hakikat Berpikir ini?

*****

Oh, maaf Saudara Ikhwan. Beginilah saya. Saya ini perfeksionis kalau menerangkan sesuatu. Apalagi berhubungan dengan sebuah hakikat. Nanti akan sampai jugalah kita kepada pembahasan itu. Namun ada dasar yang harus diruntuhkan sebelum kita membangun sebuah bangunan pemikiran. Yang harus diruntuhkan itu bernama: bangunan lapuk kepercayaan yang tegak di atas takhayul dan mitos mistik. Sesuatu yang irasional hanya akan membawa ummat manusia kepada kegelapan lorong candu yang merusak akal. Ini musti dirobohkan dulu.

Biasanya musuh proletar, menerjemahkan dan menyamarkan “materialisme” itu sebagai ilmu yang berdasar atas daya upaya mencari kesenangan hidup tak terbatas; makan sampai muntah, minum sampai mabuk, kawin dan cerai sesukanya saja. Sedangkan idealisme itu diterjemahkan dan dijunjung tinggi sebagai satu ilmu berdasarkan kesucian yang paling tinggi, lebih memperhatikan berpikir dari pada makan, dan kebudayaan yang sampai menjaduhi kaum ibu seperti seorang santri, resi. Dalam keadaan yang benar, dalam kehidupan mereka, kita tidak sekali dua kali berjumpa, dengan seorang yang memangku paham idealis berlaku sebaliknya dari persangkaan itu, sedangkan dalam kalangan materialis banyak kita dapati orang hidup dengan segala sederhana dan seperti suami dan bapak yang setia.

Baiklah, saya peringkas:
Materi, bukan Ide, yang menjadi awal cerita alam. Logika Mistika harus dibuang jauh-jauh dari alam kesadaran umat manusia, khususnya kaum proletar. Logika Mistika hanyalah candu perusak sebagaimana ditekankan dengan sangat jelas oleh Karl Marx bersama co-creator Marxisme-nya, Engels: Agama adalah candu. Kita, bangsa Indonesia jangan terjebak pada pandangan kuno Hindu, Budha, Kristen, dan Islam. Materialisme, sebagai pijakan dasar kita dalam membangun pola pikir harus dipupuk sedari dini.

****Bersambung lagi ya… :)

Dialog Maya dengan Tan Malaka: (Menuju) Hakikat Berpikir

14 Apr

Saya persilahkan saudara Tan Malaka memberi penjelasan terlebih dahulu tentang Hakikat Berpikir. Saya akan simak baik-baik. Akan coba pahami pelan-pelan. Silahkan “jembatan keledai” yang Saudara gunakan untuk mengingat banyak hal selama berpetualang dihempangkan di hadapanku. Akan kuikuti dengan pengamatan penuh gerak-gerik Saudara meniti “jembatan keledai” itu. Silahkan dimulai…

*****

Alles was besteht ist wert,
dass es zu Gruende geht.
(Mephistopheles)
Asia sudah bangun!

Baiklah Saudara Ikhwan, perkenankanlah Saya, Tan Malaka, memberikan penerangan seputar Hakikat Berpikir sebagaimana permintaan Anda. Saya ada menulis banyak buku semasa hidup saya. Seperti telah diutarakan Saudara Ikhwan Muslim Nasution pada posting pertama, ada di antara buku saya itu Aksi Massa, Naar de Republiek Indonesia, MADILOG, Gerpolek, SI Semarang dan Onderwijs, Islam dalam Tinjauan Madilog, Thesis, Muslihat, Politik, Semangat Muda, dll. Pembahasan tentang Hakikat Berpikir terutama sekali saya cantumkan di dalam MADILOG. MADILOG ini adalah untuk “Undang Kaum Proletar Berpikir”.

MADILOG, ialah paduan dari permulaan suku kata : (MA)-TTER, (DI)-ALECTICA dan (LOG)-ICA. “Mater’’ saya terjemahkan dengan “benda’’, dialektika dengan pertentangan atau pergerakan dan logika dengan undang berpikir. Paduan dalam bahasa Indonesia tiadalah begitu enak didengar dan tiada pula membuka pikiran baru seperti “jembatan keledai’’ saya. Sebab segala kata di atas sudah begitu umum dalam bahasa negara besar-besar di Eropa, walaupun bahasa cangkokan dari bahasa Latin dan Yunani, maka tiadalah perlu kita segan mencangkok kata itu ke dalam bahasa kita.

“Madilog’’ saya maksudkan terutama ialah cara berpikir. Bukanlah suatu Waltanschauung, pemandangan dunia walaupun cara berpikir dan pemandangan dunia atau filsafat adalah seperti tangga dengan rumah, yakni rapat sekali. Dari cara orang berpikir itu kita dapat duga filsafatnya dan dari filsafatnya kita dapat tahu dengan cara dengan methode apa dia sampai ke filsafat itu.

*****

Interupsi!!!
Maaf, Saudara Tan Malaka!!! Kita jangan bertele-tele lagi. Saya tidak sedang meminta Saudara untuk mempromosikan MADILOG kepadaku. Saya mau ke inti persoalan saja. Langsung saja ke Hakikat Berpikir. Tidak perlu lagi dijabarkan pembuktian Theorema Phytagoras tentang segitiga siku-siku seperti yang Anda cantumkan di MADILOG. Juga tidak perlu kita berbelit-belit dengan penerangan tentang Silogisme, Induktif, dan Deduktif… Terimakasih!

*****

Maaf, Saudara Ikhwan. Saya kira kita perlu jelaskan secara pelan-pelan. Secara rinci. Biar jelas dan gamblang. Anda tahu sendiri kan, Saya itu menulis MADILOG kurang lebih 8 bulan dari 15 Juli 1942 sampai dengan 30 Maret 1943 (berhenti 15 hari), 720 jam, ialah kira-kira 3 jam sehari. Bagaimana saya diminta menjelaskannya secara gamblang jika hanya diberi sedikit waktu buat menerangkannya?

*****

Tidak perlu detailnya. Saya mau intisarinya saja. Soal detal-detailnya bisa Anda jelaskan belakangan, jika Anda berharap saya masih mau bertemu dengan Anda. Bisa???

*****

Baiklah, saya jelaskan intisarinya saja. Kalau mau lebih lengkap dan detail, silahkan Saudara cari dan baca buku-buku saya.

*****

Silahkan.

*****

………………….bersambung………………..……………………....

Medan, 1 April 2009
Ikhwan Muslim Nasution

Dialog Maya dengan Tan Malaka: “Pengantar Menuju Pertengkaran Ideologis”

31 Mar

tan-malaka

Sutan Ibrahim Datuk Tan Malaka, Putera Minangkabau yang dijuluki “Guru Bangsa” oleh Goenawan Mohamad dan orang-orangnya, sayang sekali saya tidak sampai berjumpa dengan Anda. Tentu akan sangat mengagumkan jika saja saya sempat berdialog barang sekata dua kata dengan Anda. Belajar banyak hal dari Anda, dari heroisme petualangan Anda, yang diagung-agungkan si Goen dan orang-orangnya itu. Akan jauh lebih berkesan jika saya sempat “bertengkar” dengan Anda. Tentang banyak hal. Tentang Filsafat Materialisme. Tentang Dialektika Materialisme. Tentang Dialektika Historis. Tentang Marxisme. Tentang Buku-Buku Anda yang “terlanjur” dijadikan “Kitab Petunjuk Jalan” oleh orang-orang kiri di belakang hari: Madilog, Aksi Massa, Gerpolek, Naar de Republiek Indonesia, Semangat Muda, Muslihat, dll.

Jujur, saya sangat kagum pada pilihan kata-kata Anda dalam “Kitab-Kitab Kaum Kiri Nusantara” itu. Mengagumkan! Lebih mengagumkan lagi bagi saya, ketika menelisik dari jarak zaman yang tidak dekat, kiprah petualangan Anda di segala penjuru mata angin. Nomaden semacam gelandangan ideologis kiri. Tergesa-gesa bergerak di bawah ancaman bayonet musuh. Merangkak di lorong-lorong gelap persembunyian. Menyamar dengan identitas yang berbeda di tiap daratan yang kau jejak. Mengagumkan. Dalam tataran pemikiran ideologis, menurutku, Che Guevara masih setingkat di bawah Anda.

Ingin juga aku bertanya, Di manakah gerangan Anda belajar banyak hal di masa bergejolak seperti itu? Tahukah Anda, kami yang hidup tenang di zaman ini, amat sedikit mendapat pengajaran yang layak tentang banyak hal? Kami lebih sering berkeluh kesah dengan keadaan daripada mendalami keluh kesah itu sendiri sembari mencari pemecahan atas problematika yang menimpa kami. Lebih sering terlibat pertengkaran alot dari hal-hal sederhana. Lupa belajar banyak hal. Isi kepala dari kebanyakan kami paling-paling berisi hal-hal yang diajarkan di kelas-kelas formal tertutup semisal: pelajaran berhitung, pelajaran menulis, pelajaran membaca, pelajaran berdeklamasi, pelajaran seni termasuk menari dan bersandiwara, pelajaran moral pancasila dan agama, pelajaran manut-patuh-dan bungkam pada realitas status quo seburam apa pun itu. Kira-kira, inilah isi otak kami di zaman ini.

Beberapa dari kami memang agak beruntung. Pelajaran di alam terbuka yang membuka cakrawala berpikir kami peroleh di halaqoh-halaqoh yang bukan sembarang pengajian belaka. Halaqoh ini bukan seperti wiridan orang-orang tua yang biasanya tak jauh-jauh dari aktivitas yasinan, tahlilan, dan seruan-seruan moral belaka. Ini lain, Tan Malaka. Ini seperti kuliah ideologis di tengah arus pragmatis yang melanda jiwa anak-anak muda negeri ini. Itulah kenapa saya katakan di awal, Akan jauh lebih berkesan jika saya sempat “bertengkar” dengan Anda.

Ada juga dari kami yang mendapat pengajaran di alam terbuka dari mentor-mentor kiri, yang menjadikan buku-buku Anda, di samping buku-buku-nya Marx-Engels, sebagai Kitab Petunjuk Jalan. Mereka ini sekali dua kali menampakkan diri dalam aksi-aksi anarkis. Seakan dunia sekitarnya ini adalah hutan lebat Amerika Latin tempatnya Che Guevara dulu bergerilya. Filosofi dasar dialektika material tentang pertentangan kelas antara kaum proletar dan kaum kapitalis menjadi alat bedah mereka di dalam memahami dan menganalisa realitas sosial. Namun yang lebih banyak adalah mereka yang diajarkan pada jalan pragmatisme: Entah mereka dari Islam ataukah Nasionalis tulen. Macam-macam lah pokoknya.

Pertengkaran kita itu, seandainya terjadi, bukanlah yang sifatnya debat kusir ala kaum pragmatis. Bukan tentang berapa persen target rasional agar suara yang diperoleh di pemilu legislative berpengaruh di ruang tertutup. Bukan juga tentang wacana koalisi yang sarat kepentingan jangka pendek dan pragmatis belaka. Bukan tentang siapa Capres-Cawapres favorite. Bukan tentang strategi kampanye dan aktivitas menempel-nempel poster dan pamflet dan menancapkan bendera parpol borjuis pragmatis. Tapi, kita musti bertengkar sampai larut malam tentang perbedaan mendasar ideology yang kita anut. Tentang masa depan yang akan diupayakan diwujudkan. Tentang hakikat kehidupan. Tentang hakikat berpikir. Tentang hakikat alam. Tentang bagaimana mensejahterakan rakyat. Tentang bagaimana metode yang tepat untuk mengubah realitas masyarakat. Tentang perubahan dan transformasi social. Tentang banyak hal yang tersangkut paut dengan ideology yang kita anut secara berbeda.

Saya mau kita bertemu pada sebuah kesempatan untuk memulai dialog maya ini dengan sebuah “pertengkaran” tentang: HAKIKAT BERPIKIR!!! Kapan pun Anda muncul dalam imajinasiku, kita akan memulainya!!! Sampai jumpa, Tan Malaka!!!

Medan, 31 Maret 2009

Ikhwan Muslim Nasution

PEMILU: Melampaui Wacana Golput atau Tidak Golput

5 Mar

MUI mengharamkan Golput dalam Pemilu. Aneka hujjah dan dalil dilontarkan untuk mengegolkan fatwa pengharaman Golput ini. Ada yang dikumandangkan secara terang-terangan di depan publik. Ada yang dibisik-bisikkan di pengajian dan majelis-majelis taklim dengan alasan tertentu: toleransi, misalnya.

Para Tokoh Parpol peserta pemilu girang bukan kepalang. Mulai dari PKS hingga PDS. Mulai dari Yang nasionalis sekuler hingga yang merasa diri religius. Mulai dari yang semi religius hingga yang semi ateis. Fatwa ini, di mata mereka, seperti seruan Jihad yang pernah dikumandangkan lewat berbagai media dan kesempatan kepada rakyat untuk bangkit berjuang melawan para kolonialis imperialis di masa pergerakan: Ambil lah contoh di masa berkobarnya semangat Arek-Arek Suroboyo tempo doeloe.
Pro dan kontra mencuat. Ini persoalan Khilafiyah ataukah persoalan politik? Ummat dibuat bingung: “Klo gak ikut milih di Pemilu 2009 nanti berdosa?” Beragam keluhan dan kritik dari pihak-pihak yang kontra dilontarkan, sahut menyahut dengan kata-kata sambutan para pemimpin partai yang rata-rata sama sepakat dan mendukung penuh fatwa MUI tersebut. Apalagi, konon, pengambilan fatwa itu sudah “didesain” atas dasar “pesanan parpol tertentu”. Aktivitas duga-menduga ini, konon, diperkuat dengan tidak diundangnya sejumlah kelompok Islam yang dari awal sudah diperkirakan tidak akan mendukung fatwa tersebut. Begitulah, duga-menduga pun terus berlangsung. Satu demi satu fakta akan tersingkap di bilik waktu.
Saya pribadi termasuk dalam pihak yang tidak sepakat dengan fatwa tersebut. Memilih di dalam pemilu itu adalah hak dan bukan kewajiban. Ini yang saya percayai. Melampaui dalil-dalil dan hujjah-hujjah yang dilontarkan MUI. Bukan karena para Ulama yang terlibat dalam pembahasan ini memiliki kepentingan di parpol mereka di 2009 nanti. Memilih untuk mengikuti atau tidak mengikuti fatwa ini sendiri adalah pilihan. Dan pilihan ini pun harus didasarkan pada hujjah dan dalil syara’. Ini yang saya pahami. Setidaknya, sampe sejauh ini. “Memilih itu Hak”.
Memilih itu bisa menjadi Haram. Haram jika digunakan untuk memilih para begundal dan pecundang politik yang hendak melacurkan negeri ini ke pasar Kapitalisme (dan atau Sosialisme). Haram jika digunakan untuk memilih para bajingan dan mafioso politik yang hendak melacurkan negeri ini ke pasar Sekularisme (apalagi Ateisme). Haram…
Pemilu itu jangan hanya dilihat dari kacamata buram, apalagi kacamata hitam tebal: hingga seakan-akan awan akan selalu mendung di langit negeri ini jika orang-orang tidak datang ke TPS memberikan suaranya. Jangan juga pemilu itu dijadikan ajang untuk mengada-ada dengan pandangan yang ada-ada saja: Seolah Kiamat sudah menanti jika orang-orang memilih Golput dalam Pemilu.
Lagi pula, rakyat kan sudah mulai cerdas. Sudah mulai bisa membaca. Meski program wajib belajar 9 tahun masih terseok-seok di negeri ini. Rakyat sudah mulai pintar. Pintar membaca petunjuk-petunjuk, isyarat-isyarat, dan tanda-tanda pemiskinan yang saban hari menghampirinya. Hari berganti hari. Bulan bolak-balik dari Sabit ke Purnama balik ke Sabit tak lelah-lelah. Tahun berganti Tahun. Dari Pemilu ke Pemilu. Presiden gonta ganti. Bosan Yang Cowok, Gantian Yang Cewek. Hasilnya? Rakyat tak melihat perubahan apa-apa.
Belum lagi klo mereka melihat tingkah polah para wakil rakyat yang semasa kampanye intensif dan jor-joran pasang muka, berbusa-busa berpidato mengaduk-aduk emosi warga, bahwa mereka adalah Laskar Wong Cilik. Memilih mereka berarti memperjuangkan kemakmuran bagi kaum melarat di negeri ini. Tidak memilih mereka berarti petaka besar bagi rakyat negeri ini. Lagi-lagi, rakyat sudah sama-sama mendengar penuturan jujur sang Demokrasi itu sendiri: “Aku bukan jalan menuju kesejahteraan. Akulah jalan menuju ketidakadilan, ketidakdamaian dan ketidaksejahteraan”.
Tapi memang dasar mental kita masih mental “otomatis setuju pada pemikiran orang berkulit putih dan berambut pirang dengan latar belakang kebarat-baratan”, kita akan merasa kuno dan terbelakang jika tidak membebek pada jalan demokrasi yang telah dihempangkan secara Global. Sebagai bagian dari penduduk dunia yang ramah, toleran, inklusif, dan modern, kita pun harus memuluskan laju kereta demokratisasi di segala bidang kehidupan menuju globalisasi peradaban. Payah! Sungguh Payah!!!
Maka, dimulailah kata-kata absurd, kontradiktif, dan ugal-ugalan di sejumlah tempat di persada jiwa anak-anak negeri ini. Mulai dari yang mantan komunis hingga yang mantan rohis: Demokrasi adalah jalan yang kita sepakati bersama untuk memperjuangkan nilai-nilai luhur kita secara konstitusional, beradab, dan santun. Seolah-olah: Demokrasi adalah juga jalan Menuju Sorga. Yang tidak ikut akan masuk neraka. Seolah-olah begini…
Substansi demokrasi adalah pemisahan antara politik dengan agama. Politik dimaknai sebagai bagian dari aktivitas di luar ketentuan suci agama. Politik itu cenderung kepada keculasan, kekotoran, dan perebutan dominasi yang sifatnya ambisius dan Machiavelis. Sementara agama adalah sesuatu yang sakral dan transendental. Tak layak yang kotor dan suci diaduk. Kira-kira begitu propaganda gelap yang kadang-kadang tidak disadari oleh para pelaku demokrasi itu sendiri.
Memang, ada juga yang paham secara gamblang. Namun karena alasan siasat, digunakan jugalah demokrasi sebagai “Jalan Yang disepakati bersama”. Sebut saja sebuah contoh yang terang dan gamblang. Pak Anis Matta, tokoh teras PKS itu, ada menulis sebuah buku yang sangat memikat dari segi pilihan kata-kata dan retorika: Menikmati Demokrasi. Tapi lagi-lagi ummat akan menilai, betulkah Pak Anis Matta dan kawan-kawan ini tengah bersiasat menggunakan jalan demokrasi menuju pencapaian target penerapan nilai-nilai luhur yang diusung secara taktis ataukah memang telah terlanjur basah main air dengan demokrasi? Apa namanya persetujuan terhadap UU Penanaman Modal Asing yang sangat kental aroma Kapitalismenya itu? Sebut saja satu buku garang yang dengan serius mempertanyakan Undang-Undang ini: Agenda Mendesak Bangsa, Selamatkan Indonesia. Pak Amien Rais, sang penulis buku ini, memaparkan bahwa Undang-Undang ini lebih Kapitalis dari Undang-Undang Negara Kapitalis! Belum lagi klo kita runut satu-satu sepak terjang para wakil rakyat kita: ini masih bagian dari siasat ataukah memang sudah nekat sepakat?
Dari sisi Ekonomi, muncul lagi anak bangsa yang “menggugat” demokrasi. Dialah Pak Zaim Saidi yang terhormat. Lewat bukunya, ILUSI DEMOKRASI, beliau yang terhormat mengungkap skandal ekonomi yang dengan rutin dipraktekkan secara sadar di negara-negara demokrasi.
Jadi, Pemilu itu bukan sekadar wacana Golput-tidak Golput. Kita butuh ruang yang lebih lebar untuk mendiskusikan ulang persoalan-persoalan bangsa ini. Tidak melulu terjebak pada pemikiran sempit dan dangkal: Pokonya pemilu dulu…
Seolah-olah kita lupa, sebuah negara dengan luas dan besar yang belum lagi tertandingi hingga kini pernah berjaya di segala bidang tanpa Pemilu. Seolah kita lupa, reformasi lahir tanpa Pemilu. Seolah kita lupa, Kuba berdaulat tanpa Pemilu. Seolah kita lupa, Iran maju berdaulat tanpa Pemilu. Seolah kita lupa, USA yang sibuk pemilu itu adalah si raja perang dengan aneka pengangguran yang membengkak di negara itu… Seolah akhirnya kita betul-betul lupa: Indonesia merdeka tanpa pemilu… Seolah-olah kita sudah sangat renta dan hilang ingatan: KITA MAKHLUK TERBAIK YANG DICIPTAKAN-NYA…
Mengapa masih mengurung akal kesadaran kita dalam ranah sempit pemilu???

Medan, Februari 2009
Ikhwan Muslim Nasution

Persamaan Israel dengan Amerika

16 Jan

USA tegak di atas tanah jajahan, setelah penduduk lokal dibantai dan disudutkan. Kaum Indian Amerika, merupakan komunitas manusia yang terancam punah oleh ekspansi kaum kulit putih Eropa. Adalah kerakusan material dan ketumpulan nurani yang menyebabkan manusia-manusia ras Indian (apa pun nama asli sukunya: karena Indian hanyalah nama yang diberikan pihak di luar komunitas mereka secara sepihak) dipunahkan secara sistematis dengan alasan: kaum kulit putih hanya berusaha membela diri dari serangan barbar kaum primitif Indian.

Kalau pun kini sisa-sisa dari kaum Indian masih ada, mereka ditempatkan di semacam kebun manusia (sebutan yang mirip-mirip dengan kebun binatang). Agar lebih formal, kebun manusia ini disebut Reservasi Indian.

300px-bia-map-indian-reservations-usa

Bayangkanlah: Tiba-tiba Indonesia kedatangan orang asing. Mau mengambil tanah kita. Kita melawan. Tapi karena keterbatasan persenjataan, kita pun kalah. Sementara itu, kebanyakan dari kita telah bergelimpangan menjadi mayat. Mungkin beberapa di antaranya menjadi santapan anjing-anjing buas mereka. Lalu, suatu ketika, setelah mereka memproklamirkan negeri tumpah darah kita menjadi negeri mereka, kita pun digiring ke sebuah wilayah yang dikapling-kapling. “Kalian tinggal di sini,” Kata petugas Reservasi. Sementara negeri kita yang luas kini menjadi milik mereka. Kita diperbolehkan hidup hanya agar kita bisa dilihat-lihat, sewaktu orang-orang asing (yang kini mengklaim sebagai warga negara yang sah (di negeri yang dulunya negeri kita, negeri nenek moyang kita) berekreasi ke kebun manusia, eh maksudnya kawasan Reservasi. Atau, kita-kita ini akan dijadikan sebagai semacam peninggalan sejarah yang masih hidup: LEGENDA HIDUP!

Seperti yang tercantum di Wikipedia, “Ada sekitar 300 reservasi Indian di AS, dan itu berarti tidak semua suku Indian yang diakui di AS, yang jumlahnya lebih dari 500 suku, mempunyai sebuah daerah reservasi. Sebagian suku malah mempunyai lebih dari satu daerah reservasi, sementara yang lainnya sama sekali tidak. Selain itu, karena penjualan dan pembagian tanah di masa lalu, sebagian reservasi sangat terpecah-pecah.”


Artinya, jika kondisi itu terjadi di negeri ini, sebahagian dari saudara-saudara kita di negeri asal kita ini: TIDAK DIAKUI atau DIPUNAHKAN??? Karena kita saja diakui hanya sebagai basa-basi moral atau sekedar sebagai keperluan penampakan legenda hidup dari masa lalu. Apa yang saudara-saudara pikirkan dan rasakan menerima kenyataan ini: ANDA TIDAK DIAKUI DI NEGERI ANDA !

Ini jugalah kini yang terjadi di Palestina. Zionisme Internasional dengan dukungan penuh dari Kapitalisme Internasional telah berhasil mencaplok tanah Palestina secara bertahap dan sistematis. Di atas tanah rampasan ini ditegakkanlah sebuah negara yang kemudian memproklamirkan diri sebagai ISRAEL.

Negara ini, Israel, adalah negara yang dari kacamata moral dan etika: ILLEGAL. Darah, air mata, dan bangkai rakyat Palestina telah menyatu dengan tanah Al-Quds seiring dengan keganasan sang Teroris Nomor Satu di Abad ini: Israel. Sebahagian dari rakyat tak berdosa menjadi santapan anjing-anjing pemburu Israel. Manusia dijadikan makanan anjing.

Ketika pejuang Palestina bergerak mempertahankan tanah air mereka, kaum Zionis dan Kapitalis melabeli para pejuang dengan sebutan-sebutan yang terasa kontradiktif dengan kenyataan historis dan realitas: TERORIS. Oleh karena itulah, para pejuang Hamas dan mujahidin lainnya kerapkali dilabeli dengan aneka sebutan yang menyesakkan. Seakan-akan faktanya jadi terbalik: pejuang palestina adalah pemberontak anarkis yang mengganggu kedaulatan Israel yang sah. Persis dengan yang dialami kaum Indian di Amerika sana.


Rakyat Palestina memang bukan rakyat Indian Amerika yang akhirnya menyerah kepada penjajah dengan memasrahkan diri ditempatkan di wilayah isolasi serupa kebun binatang itu. Gaza perlahan tapi pasti akan diarahkan menjadi semacam Reservasi bagi komunitas Palestina. Petugas Zionis akan berkata, “Kalian akan tinggal di sini (saja)”, secara bengis dan sinis. West Bank juga akan mengalami nasib yang sama dengan Gaza: dijadikan wilayah isolasi untuk komunitas Palestina. Seperti Reservasi komunitas Indian di Amerika. Yang namanya binatang di kebun binatang, suatu saat bisa dibunuh atau disingkirkan, jika hanya akan menyusahkan pihak pengelola, misalnya.
palestinian_land_loss_map
Rakyat Palestina bukan masyarakat primitif yang kehilangan orientasi. ” ‘isy karimaan au mut syahiidan “, menggema diseantero negeri. Ya, Hidup Mulia atau Mati Syahid memang sebuah pilihan yang wajib di bumi Al-Quds.

Medan Polonia, 16 Januari 2009

Ikhwan Muslim Nasution

Tantangan dari Kaum Syi’ah Iran

31 Des

iranflag

Prof. Dr. Morteza Muthahhari, seorang ulama dan cendekiawan Syi’ah Iran, menulis dalam bukunya Al-‘Urwat Al-Wutsaqa (hal. 223-224) sebagaimana ditampilkannya kembali di dalam bukunya yang berjudul Hawla Al-Tsaurah Al-Islamiyah (diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi: Transformasi Ideologi Islam Yang Menakutkan Amerika),

“…, kendati pun para ulama Sunniy telah berhasil memecahkan berbagai masalah dan melakukan berbagai pembaharuan lebih banyak ketimbang ulama’ Syi’ah, namun mereka tidak berhasil menciptakan gerakan pembaharuan yang mendalam seperti yang ada di kalangan ulama’ Syi’ah. Jadi, kendatipun ulama Syi’ah relatif lebih sedikit melakukan pembaharuan, namun untuk masa satu abad terakhir ini mereka memimpin pergerakan-pergerakan revolusioner yang belum pernah ditemukan padanannya di kalangan Sunni.” (Hal. 192)

Pernyataan salah satu tokoh intelektual di lingkungan Republik Islam Iran ini tentu menggelitik kesadaran intelektual kita sebagai kaum Sunni. Kaum Sunni, seperti yang kita ketahui, merupakan mayoritas dari umat Islam. Lantas, apa yang ‘salah’ dengan kita, kaum Sunni, sehingga dalam ukuran dan batasan ‘tertentu’, bisa dikatakan dengan sangat jelas bahwa kita masih ‘gagal’ dalam memperbaiki peradaban dan sejarah? Kenapa justru kaum Syi’ah “yang tidak seberapa itu” yang sanggup secara gemilang melancarkan Revolusi Islam (Syi’ah)???

Muthahhari pun menambahkan, “Para pemimpin agama harus melipat-gandakan jihad dan dakwah mereka sebab awal revolusi kita mirip dengan masa-masa awal Islam, yang karena itu kita mesti menggedor dan meruntuhkan istana para penguasa. Tahap ini, dengan demikian, adalah tahap jihad dan perjuangan.” (Hal. 194)

Republik Islam Iran, yang dihuni kaum Syi’ah, telah menegaskan terhadap dunia internasional bahwa “Islam harus berdaulat”. Hegemoni Barat, sang penjajah peradaban, harus dihentikan. Sebab, sebagaimana diutarakan Muthahhari, “Penjajahan peradaban, tidak diragukan lagi, adalah penjajahan paling berbahaya dibanding penjajahan-penjajahan dalam bentuk lainnya.” (Hal. 172)

Tragedi kemanusiaan berupa penjajahan peradaban kini melanda negeri-negeri Islam di sentero dunia. Seperti saudara-saudara “Sunni” kita di Palestina yang baru-baru ini dibombardir pasukan udara Israel di Jalur Gaza. Lebih dari 250 orang meninggal dunia dan ratusan lainnya luka-luka.

Barat dan antek-anteknya yang jumawa, angkuh danb pongah telah menciptakan tatanan dunia dalam tingkatan kelas yang menyedihkan. Mereka, Barat dan antek-anteknya, memposisikan dirinya sebagai “Tuan-Tuan dan Penguasa-Penguasa Terhormat”, dan Kita, kaum Muslimin dan kaum-kaum terdzhalimi lainnya (di luar kaum muslimin) sebagai “Budak Jelata Yang Terjajah dan Terhina”.

Mengenai hal ini, Muthahhari menegaskan, “Pandangan sepintas terhadap peta dunia internasional, memberi kejelasan kepada kita bahwa sebagian dari negara-negara itu merupakan tuan-tuan dan penguasa-penguasa, sedangkan yang lain tunduk pada kekuasaannya, sekalipun acap disebut sebagai negara merdeka.”

Keterjajahan dan penghinaan berkepanjangan yang ditanggungkan oleh saudara-saudara kita di Palestina, Afghanistan, Cechnya, Somalia, Irak dan negeri-negeri lainnya, merupakan fakta yang teramat sangat jelas yang tidak bisa disembunyikan lagi. Penjajahan peradaban dan tragedi kemanusiaan masih akan terus berlangsung jika tidak ada upaya dari kita untuk membebaskan diri dari kaum penjajah terlaknat itu.

Bayi-bayi akan terlahir dalam keadaan tidak mengenal orang tuanya. Mereka menjerit menyayat hati di antara puing-puing bangunan yang berserakan. Bau bangkai dan darah semerbak. Mereka menghiba memanggil-mangggil yang tak kan kembali, “…Abiiiiiiiiiiii… Ummiiiiiiiiiiiiiiiiii…”

Akan semakin banyak wanita muslimah yang menjadi janda. Banyak yang kan menjadi korban perkosaan serdadu penjajah terlaknat itu sebagaimana ramai diberitakan telah terjadi di Irak. Akan banyak wanita yang menjadi pemuas birahi mereka. Akan semakin banyak lagi wanita yang hak-haknya terampas…

Kaum lelaki akan menjadi budak jelata. Anak-anak lelaki yang putus sekolah akan menjadi jongos yang hina dina. Ah, Kehormatan ummat ini…

Ancaman “Loss Generation” di depan mata kita!!!

Membayangkan kondisi seperti ini, menarik menyimak sebuah tantangan dari kaum Syi’ah Iran (yang kerap dicap sesat dan telah keluar dari millah yang lurus ini oleh kebanyakan kaum Sunni) kepada seluruh ummat manusia, khususnya ummat Islam, lebih khusus lagi kaum Sunni (KITA),

“Apabila sesuatu negara ingin berdiri pada kaki sendiri dan menentukan nasibnya sendiri, maka dengan kemauan keras dan semangat ksatria mereka pasti berhasil memutuskan belenggu-belenggu yang mengikat mereka.” (Transformasi Ideologi Islam Yang Menakutkan Amerika, 171)

Dari Meja Makan Sederhana,

Dari Dapur Sederhana,

Dari Rumahku Yang Sederhana,

Untuk Dunia!!!!!

Kotanopan, 28 Desember 2008

Ikhwan Muslim Nasution

ISRAEL MENYERANG GAZA !!!

30 Des

palestina-ruyat-134-b32

“ISRAEL menyerang Gaza, 300 orang Islam di Palestina tewas (TV One, 28/12/2008).

KOM:

(1) Pemerintah Mesir hanya bs mengecam keras, pdhl sebelumnya merekalah yg menutup pintu masuk dr Gaza ke Mesir, dan kaum Muslim dibantai di dpn mata mereka, mereka hanya diam.

(2) syuhada’ itu telah menghadap Allah, dan mereka kelak akan bersaksi di hadapan-Nya:

(Kami kecewa dg sikap para penguasa kaum Muslim yg pengecut dan pengkhianat. Kami kecewa dg sikap kaum Muslim, yg tetap tidak bersatu untuk menegakkan Khilafah, guna mengenyahkan entitas Yahudi itu dari muka bumi).

Allahummashad fainna qad ballaghna..”

(Tulisan tersebut murni berasal dari sms dari dua orang Sahabat pada hari yang sama: Muhammad Irsyad dan Andi Subianto  pada 29/12/2008).

Mabda (dan) Feminisme

22 Des

Masyarakat di dunia Islam, secara umum, bersepakat bahwa apa yang terjadi di Barat sangat cocok apabila dimasukkan ke dalam pemahaman ‘pengeksploitasian kaum perempuan’. Akan halnya apabila kita mencoba ‘memahami’ apa yang sejauh ini ‘dipahami’ mereka-mereka di ‘Barat’ (kita: ‘Timur’?). Penggunaan istilah Timur dan Barat ini sebetulnya sangat keliru (mari kita lihat nanti).

Dengan demikian (sementara), bisa dikatakan bahwa, ada dua paradigma dalam memandang satu hal ini. Barat dengan pemahamannya. Timur dengan pemahamannya.

Menurut pandangan Timur, apa yang terjadi di Barat adalah sebuah ‘chaos kepribadian’. Manusia yang modern di satu sisi, namum barbar di sisi lain; bisalah kita pinjam istilah mendiang Soe Hok Gie: berwajah bopeng sebelah. Dalam beberapa hal ‘madaniah’, Barat sangat maju. Namun bobrok dalam perkara ‘hadharah’ (meminjam kata-kata al-‘allamah Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani).

Dari pada berlama-lama menggunakan kata ganti Timur, marilah kita pilah Timur itu sekarang. Timur itu terdiri dari (kasarnya): India dan peradaban Hindunya, Asia Timur dengan peradabannya, Yahudi dengan peradabannya, Islam dengan peradabannya, dan peradaban-peradaban ‘kecil’ lainnya (meski Kristen juga berasal dari ‘Timur’, namun dalam perkembangannya, Kristen lebih ‘akrab’ ke Barat daripada ke Timur).

Pemahaman orang Timur sendiri beraneka ragam. Jadi sangat terasa janggal apabila ada yang membandingkan Barat dengan Timur sebagai dua perspektif yang bertolak belakang secara radikal. Pertanyaan yang sederhana untuk para pengkategori ini adalah: Timur itu yang mana (saja)? Barat itu yang mana (saja)? Adakah kepastian bahwa Barat itu adalah satu kesatuan budaya dan Timur itu satu kesatuan budaya? Sekali lagi, Barat yang mana, Timur yang mana?

Lantas, bagaimanakah cara yang lebih tepat bagi kita dalam mengkategorisasikan pemahaman ‘cara hidup’, ‘pandangan hidup’, ‘pemaknaan hidup’, ‘tujuan hidup’, dan ‘pemahaman yang terkait dengan relasi-relasi fisik dan metafisik’ di dunia ini? Al-Qur’anul Kariim memilah manusia ke dalam dua kelompok berdasarkan Aqidah: Muslim dan Kafir! Yang jadi persoalan kemudian, yang mengklaim dirinya Muslim ternyata banyak yang berperilaku tidak Islami. Almarhum Sayyid Quthb, dalam Ma’aalim fith-Thariiq, tanpa ragu dan tanpa pengecualian, memilah manusia ke dalam dua jama’ah: Islam dan Jahiliah.

Konsekuensi dari pemilahan ini adalah, seseorang yang Muslim secara aqidah bisa masuk kedalam jama’ah jahiliyah dalam hal hadharah. Namun ternyata, Barat sendiri pun terdiri dari aneka pemikiran. Sebagaimana sudah jamak diketahui, telah lama terjadi pergesekan pemikiran dan pemahaman di Barat perihal hakikat kehidupan. Filosof berganti filosof, pemikiran filasafat saling mengkritik saling menjatuhkan.

Pada akhirnya, pola sikap dan tingkah laku manusia Barat (secara umum) akan bisa kita pahami jika kita memahami apa dan seperti apa mabda yang mereka pegang dalam mengarungi hidup dan kehidupan ini. Tidak hanya di Barat sebetulnya, seluruh dunia pun telah merata terimbas mabda tersebut. Mabda, atau ideologi, adalah ‘sesuatu’ yang menjadikan manusia-manusia yang mengembannya menjadi khas dalam berkehidupan.

Melalui pemikiran yang mendalam dan cemerlang, Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani menyimpulkan bahwa di seluruh dunia ini hanya ada tiga ideologi (kalau ada manusia lain yang menyebut ideologi itu lebih dari tiga maka, menurut pemahaman An-Nabhani dan pengikutnya, apa yang mereka sebut sebagai ideologi di luar ketiga ideologi itu bukanlah ideologi melainkan pemikiran turunan dari ideologi yang tiga itu). Ketiga ideologi itu adalah: Kapitalisme, Sosialisme-Komunisme, dan Islam.

Cara pandang Kapitalisme sangat erat berkaitan dengan sekularisme. Sebahagian manusia itu mengetahui dan mengakui adanya Yang Maha Mengetahui dalam ruang privatnya. ‘Tuhan tidak punya alasan untuk mondar-mandir di ruang publik’. Dengan perkataan lain, Tuhan ada di keheningan ruang pribadimu, menunggu kedatanganmu secara setia di ruangan itu, dan sama sekali tidak tertarik untuk mengikuti langkahmu yang beranjak keluar dari ruangan itu menuju ruang publik.

Cara pandang Sosialisme-Marxisme-Komunisme berdasar pada pemahaman ateisme dalam arti yang sebenarnya. Pemahaman ini sendiri berdasar pada pemikiran filsafat materialisme. Oleh Marx (dan Engels), materialisme ini dikaji menurut hukum dialektika: tesis, antitesis, sintesis. Filsafat materialisme sendiri dengan sangat jelas menyatakan bahwa sesuatu yang tidak terindera sebagai sesuatu yang tidak eksis, tidak riil, tidak nyata: tidak ada! Konsekuensi pemahaman ini adalah sesuatu yang ghaib adalah tidak nyata; tidak benar adanya! Tuhan, malaikat, setan, surga dan neraka adalah, menurut penganut filsafat materialisme, sesuatu yang diada-adakan. Keimanan terhadap sesuatu yang tidak terindera, menurut Karl Marx dan pengikutnya, merupakan sebentuk kelemahan, ketidakberdayaan, dan keputusasaan dalam menjalani proses dialektika material. Vulgarnya, Marx berkata: AGAMA ADALAH CANDU! Agama adalah fantasi-fantasi liar yang melenakan dari manusia-manusia yang gagal dalam kehidupan. Hanya para pecundang lah yang bersedia mengakui secara terpaksa sesuatu yang sesungguhnya tidak ada!

Cara pandang Islam senantiasa terkait erat dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Bahwa Tuhan itu benar-benar ada. Bahwa Tuhan itu bernama Allah. Bahwa risalah Islam sampai ke bumi melalui utusan-Nya. Bahwa setiap tingkah laku manusia terikat dengan ‘aturan’ (kaidah syara’ menyatakan: al-ashlu fil af’ali at-taqoyyad). Bahwa terhadap kepatuhan akan diganjar dengan pahala dan terhadap pembangkangan akan diganjar dengan dosa. Bahwa dosa itu ada yang nilainya kecil dan ada yang nilainya besar. Bahwa dosa itu ada yang dimaafkan-Nya dan ada yang tidak bisa dimaafkan-Nya (misalnya mati dalam keadaan murtad). Bahwa kematian itu sesuatu yang pasti. Bahwa akan ada kehidupan setelah kehidupan di dunia: ada surga dan ada neraka.

Ketiga cara pandang ini akan menyebabkan perbedaan dan pertentangan yang tajam. Tidak akan pernah menemui kata sepakat. Bahwa ketiganya akan senantiasa bertarung (ghazwul fikri) adalah sesuatu yang pasti. Oleh karena itu, gesekan peradaban itu adalah sesuatu yang pasti dan tak terbantahkan.

Berdasarkan penjelasan di atas, bisa kita pahami bahwa apa yang dilakukan seseorang dalam kehidupannya sangat terkait erat dengan pemahamannya terhadap hakikat kehidupannya. Seorang perempuan Barat yang tampil telanjang memahami kehidupan itu sebagai sebuah kebebasan yang tanpa batas. Bagi yang berideologi kapitalis sekular, apabila mereka seorang yang beriman kepada adanya Tuhan, mereka terlanjur mempersepsikan Tuhan itu sebagai Yang Maha Pemaaf saja. Tuhan adalah Dzat Yang Maha Pemaaf , Maha Penyayang, Maha Pengasih, yang akan sangat mustahil menghukum tindak-tanduk manusia yang diciptakan-Nya. Untuk apa Tuhan menciptakan manusia kalau hanya untuk dikekang? Untuk apa Tuhan menciptakan akal kalau penggunaannya dibatasi-Nya sendiri? Untuk apa Tuhan menciptakan kenikmatan dunia kalau hanya untuk menjebak manusia ke dalam neraka-Nya? Inilah tipikal pemikiran kaum kapitalis, sekular, dan liberal.

Mereka yang bermabda Sosialis-Marxis-Komunis tulen, akan jauh merasa lebih ‘leluasa’ bertingkah polah di dunia ini. Tidak ada Tuhan, maka tidak ada peraturan Tuhan. Orang Kapitalis paling jauh hanya akan berani berkata: Tuhan itu hanya pemuas rohani, bukan pejabat pembuat aturan! Manusia-manusia seperti ini akan mempersepsikan kehidupan itu sebagai satu-satunya kesempatan untuk merasakan apa yang dikenal sebagai “Kenikmatan”. Tidak adanya iman akan kehidupan setelah kematian, alam lain di luar alam ini, menyebabkan pola pikir mereka terbentur pada sebuah kesimpulan: Hidup hanya sekali. Hanya sekali ini. Maka inilah waktunya, dan hanya ini saja, untuk mencicipi Kenikmatan Hidup itu.

FENOMENA LIBERALISASI ISLAM

Irshad Manji, aktivis feminis lesbian yang dengan bangga menyebut dirinya sebagai “Muslim Refusenik”, merupakan salah satu ‘ikon’ baru di tengah maraknya ‘proyek’ liberalisasi Islam. Indonesia pun memiliki seorang ‘tokoh’ yang tak jauh berbeda dengan sang Refusenik Barat tersebut. Dialah Siti Musdah Mulia, peraih penghargaan ‘bergengsi’ bagi kaum materialis sekuler semacam Musdah ini. Seperti telah kita ketahui, Prof. Dr. Siti Musdah Mulia MA telah ‘sukses’ menyabet penghargaan sebagai International women of courage dari Kementerian Luar Negeri USA. Penghargaan itu sendiri diberikan langsung oleh Menteri Luar Negeri USA, Condoleeza Rice bertepatan dengan Hari Perempuan Internasional.

Kalau Manji controversial lewat partisipasi dan pembelaannya terhadap ‘lesbianisme’, maka Musdah controversial lewat ‘fatwanya’ terhadap legalisasi homoseksual. Keduanya, Manji dan Musdah, merupakan generasi berikutnya dari generasi-generasi yang bergerak di luar pemikiran mainstream Islam. Sama sekali tidak terlihat rasa canggung ataupun ragu dalam gagasan pemikiran mereka. Seakan-akan, apa yang mereka ‘imani’ itu benar adanya dan ‘sudah memang seharusnya’.

Di Indonesia, nama Jaringan Islam Liberal (JIL) bukan nama yang asing lagi. Kaum Liberal menyatukan gerak langkah di Jaringan ini. Pemikiran-pemikiran kontroversial mereka terakumulasi di sini. Mulai dari pemikiran mendiang Abdul Wahab, Cak Nur, Ulil, hingga Musdah. Disinilah ‘proyek’ Liberalisasi Islam berlangsung serius secara kontinu.

Sampai Kapan? Wallohu ‘alam…

KONKLUSI

Seseorang bisa saja beragama Islam dalam pemahaman rukun Iman dan rukun Islam terbatas, namun pada saat yang sama dia tergolong dalam penganut mabda Kapitalisme maupun Sosialisme yang jelas-jelas merupakan mabda kufur. Termasuk dalam pemahaman ini adalah mereka yang menganut pemahaman Sekuler. Bisa juga seseorang itu seorang Sosialis Sekuler (bukan Sosialis Ateis) dalam artian, dia itu seorang Muslim dalam pemahaman rukun Iman dan rukun Islam terbatas. Artinya, dia beriman kepada Tuhan dan Nabi secara terbatas namun mengambil ide kufur sebagai pijakan duniawinya.

Dalam memandang fenomena yang ada di sekitar kita, beragamnya pemikiran dan pemahaman yang saling bertabrakan secara radikal, tidak bisa tidak telah menggiring kita masuk dalam kancah Perang Pemikiran yang sesungguhnya: Perang Ideologi. Memilih Kapitalisme sebagai ideologi merupakan sebuah pilihan. Begitupun dengan memilih Sosialisme/Komunisme sebagai ideologi merupakan sebuah pilihan. Pemikiran Feminisme berpangkal dari pemahaman materialisme. Filsafat Materialisme itu sendiri menjurus kepada dua kemungkinan: Sekular atau Ateis. Dengan demikian, pokok pangkal dari feminisme (dan liberalisme) adalah persoalan aqidah.

Sebaik-baik pilihan adalah pilihan yang teruji secara rasional sebagai sebaik-baik ideologi. Sebaik-baik ideologi di sisi Allah dan Rasul-Nya adalah ideologi Islam yang akan dimenangkan-Nya terhadap ideologi-ideologi kufur semacam Kapitalisme dan Sosialisme. Jadilah pemilih yang bertanggungjawab. Sebab, mau tidak mau, setiap pilihan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah swt kelak!

Shalawat dan Salam kepada junjungan Umat Islam sedunia, Rasulullah saw, yang telah bersabda:

“…tsumma takuunu khilaafatan ‘alaa minhajun nubuwwah…” (HR.Ahmad).

Diselesaikan di Medan Polonia, 22 Desember 2008
Ikhwan Muslim Nasution

*Ditulis dan Didedikasikan Untuk Ida (Pengurus Media Center STAN)

Terimakasih atas pertanyaannya, dan mohon maaf sangat telat membalasnya.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.