Arsip | Keseharian RSS feed for this section

Jejak Semut IV

25 Agu

Aku sempat baca status facebook seorang Ustad beberapa waktu lalu. Kira-kira demikian statusnya: “berbukalah dengan yang manis. (HR. Sosro). Hadis teramat sangat palsu!”. Hehehe… Tentu saja maksud sang Ustad hendak meluruskan persepsi ummat, bahwa tuntunan berbuka puasa yang sesuai as-sunnah tidak demikian. Tapi ada urut-urutan keutamaannya. Seperti berbuka dengan kurma, kalau tidak ada dengan buah yang manis yang matang di pokoknya, atau dengan segelas susu murni, atau susu putih, atau air putih. Tentu saja tak ada ulama yang mengharamkan berbuka dengan pecal, bakso, bakwan, soft drink, minuman kemasan, dan lain-lain. Mubah-mubah saja.

Aku kerap minum es plus buah ramadhan ini, sehabis berbuka. Es kelapa favoritku. Ada juga es buah campur aduk, entah ini rujak manis plus air dingin. Ada pula es kelengkeng. Dan ada es teler.
Kadang, sehabis minum es tersebut satu porsi, aku shalat maghrib dulu. Dan, jujur saja, ini bukan anjuran atau semacam pamer tapi lebih pada hajat buruk yang tak boleh dicontoh Karim kelak, aku merasa harus merokok dulu setelah porsi pertama itu.

Nah, sewaktu aku shalat maghrib itu, semut-semut hitam kecil, telah pawai di dekat es-ku. Seperti kemarin, aku lupa menutupnya, jadilah satu porsi itu dikerubuti semut. Ah, jangan tanya soal kulkas, semua perabotan telah diangkut ke Rantauprapat. Yang tersisa disini, perlengkapan ala anak kos lajang saja. Hehehe…

Tapi iya, ramadhan minggu pertama, ketika bersama Karim dan Mama Karim, rasanya jauh lebih indah dan lebih mudah. Tapi ya, memang masih demikianlah adanya. Jadi, Bapak-bapak sekalian, kapan saya dimutasikan ke Rantauprapat? :)

Kisaran, 11 Agustus 2011
Ikhwan Muslim Nasution
(AR 2 – W 3 – 115 yang berhasrat dimutasikan ke Rantauprapat, mana tau ada orang Kanwil yg baca. Hehehe… )

Nasi Uduk

10 Agu

Aku merindukan gundukan nasi uduk yang mengepung kampus STAN di Jurang Mangu Timur sana. Sehabis shalat subuh, dari Masjid Baitul Mal tinggal jalan kaki ke Ceger, disitu subuh-subuh sudah ada Ibu-Ibu yang jualan nasi uduk. Sopir angkot dan beberapa pekerja banyak yang sarapan subuh disitu. Harganya? Sangat bersahabat.

Atau di Kalimongso, banyak juga berjualan nasi uduk. Di Sarmili juga ada. Di Bintaro Raya juga ada. Di jalanan kampus juga ada. Ada juga Ibu-Ibu yang berjualan dengan memanggul jualannya. Tetangga sebelah kosku di Sarmili juga jualan nasi uduk. Paling enak, nasi uduk dinikmati dengan goreng tempe dan telor dadar.

Entah sekarang, masih ada atau gak. Yang jelas, kenikmatan nasi uduk di pagi hari, apalagi selepas subuh, tak lagi kudapatkan.

Pematang Siantar, 7 Juli 2011
Ikhwan Muslim Nasution

S E D E R H A N A

10 Agu

Ada masanya, ketika kita berada pada puncak euforia diri, kita menjadi eksklusif. Di hadapan cermin yang kita pandangi, kita menyaksikan kesempurnaan diri kita. Merasa, lalu menimbang-nimbang dalam kegilang-gemilangan hati, bahwa eksklusivisme sebanding dengan eksklusivisme. Kita lalai, bahwa dunia ini dijejali aneka tipu muslihat. Pandangan narsis semacam itu sesungguhnya menjebak kita dalam kerangkeng angan-angan yang keterlaluan. Lalai, bahwa pilihan yg serba eksklusif sesungguhnya siksaan yang menyedihkan.

Sederhana bukanlah sesuatu yang murahan. Ia tidak eksklusif, tapi juga tidak murahan. Ia sesuai kebutuhan. Sering juga kita pura-pura lupa, keinginan itu belum tentu kebutuhan. Yang kita inginkan lebih bayak dari yang kita butuhkan.

Menjadi sederhana tak juga berarti menjadi serba kalah pada kenyataan. Petani yang sehari-harinya bersawah bukanlah si kalah yang tumbang di hadapan modernisme. Justru itu adalah pilihan hidupnya. Sederhana juga bukan berarti susah, tetapi lebih kepada menikmati jerih payah sesuai proporsinya.

Menjadi sederhana adalah tantangan, ketika dunia semakin melebarkan jaring-jaring tipuannya. Agar tak menyiksa diri dalam kerangkeng eksklusivitas, memilih secara sederhana adalah jalan hidup yang melegakan. “…keinginan adalah sumber penderitaan…” (Iwan Fals)

“Wallôhu ‘indahû khusnul ma-âb…” (Al-Qur’ân)

KISARAN, 05 Juli 2011
IKHWAN MUSLIM NASUTION

Kesibukan

10 Agu

Masing-masing kita memiliki kesibukan. Aku, kau, dia, dan mereka. Bisa jadi sama, bisa juga tak sama. Kesibukan itu bisa yang dinikmati, atau yang disunguti. Bisa menggairahkan, bisa pula menjenuhkan. Tergantung bagaimana adanya. Kesibukan itu, pada dasarnya, terbit dari pilihan. Terlepas dari “kerelaan” kita menjalaninya. Merasa tertekan atau terpaksa, ia tetap pilihan. Kita bisa “melepasnya” dengan konsekuensi yang melekat padanya. Tapi ya, kalau bisa, janganlah sampai kita disibukkan oleh tetek bengek kedengkian anak manusia. Jalani saja, sebisanya, semampunya. Lalu, biarkan anjing kurap budaknya sang bajingan menyalak serak…

Burung Dara

10 Agu

Ia yang melenggang di pucuk-pucuk kayu, yang saban waktu membahanakan kicauannya, terbang rendah di liukan ilalang petang hari. Kusambangi ia tak sekali dua kali, menyapanya tanpa suara, mencoba membuntutinya lewat pandangan. Ia makhluk yang lincah dan bebas. Menari di ranting-ranting kayu, menyanyi dengan merdu, dan melayang dengan anggunnya. Setiap aku merindukannya, kudatangi pokok kayu itu: diam-diam tanpa mengusiknya.

Kisaran, 8 Juni 2011
Ikhwan Muslim Nasution

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.