Arsip | Kawan Seperjalanan RSS feed for this section

Mie Par-Par, Mie Tek-Tek

10 Apr

Saya dan isteri sependapat, bahwa ketika pertama kali kami mencicipi “mie parpar” di Rantauprapat, Labuhan Batu, kenangan pada “mie tek-tek” yang ada di Pandan, Tapanuli Tengah, menyeruak. Rasanya mirip-mirip. Proses membuatnya tampak mirip-mirip. Kesederhanaan penyajiannya pun mirip-mirip.

 

Aku merindukan mencicipi kembali “mie tek-tek” yang di Pandan itu. Meski aku yakin betul, “rasanya” tak kan pernah sama lagi. Terakhir kali makan “mie tek-tek” adalah setamat dari Jurangmangu Timur, menjelang pemberkasan CPNS, bersama Doli Indra Marito Harahap. Aku pesan dua porsi waktu itu: seporsi “mie tek-tek” goreng, seporsi yang berkuah. Rasanya, menurutku, sedikit berubah.

 

Entahlah, apakah rasanya betul-betul tak sama lagi. Ataukah, suasana saat menyantapnya telah berubah. Dalam rentang tahun-tahun yang berjalan, banyak hal yang telah berubah. Banyak hal-hal di masa lalu yang dirindukan, menarik diri ‘tuk menyambanginya dalam lintasan kenangan. Beberapa hal dari masa kini, seakan jelmaan yang diutus masa lalu tuk sekedar menyapa kita.

 

Kerinduan pada “mie tek-tek”, bisa jadi, adalah sebentuk kerinduan pada suasana masa lalu: “masa-masa di sekolah.”

 

 

 

.:semacam kado ulang tahun untuk Doli Indra Marito Harahap:.

Kisaran, 11 Oktober 2011

IKHWAN MUSLIM NASUTION

Veteran

25 Agu

Kau, tampak terduduk di tempat itu, hari itu. Kucoba tebak, pandangmu terfokus ke sela-sela ilalang yang menyemak, ataukah menerawang menembus segala kesimpangsiuran beberapa masa ke depan? Antara dua itu, kucoba tebak, gagal. Akhirnya aku coba hal yang sama: menatap ke depan, sepertimu. Tampak ilalang yang menyemak. Yang tak tampak, aduhai ragamnya.

Di hari lain, kudapati kau berjalan menyusuri lorong-lorong, seorang diri, dengan ekspresi yang lagi-lagi sukar kutebak. Entahlah, kau tak tampak tergesa-gesa. Pandanganmu sesekali lurus ke muka, menyamping, tapi lebih banyak menyapu lantai. Entah apa gerangan yang kau pikirkan saat itu. Tentu saja, aku tak tau. Lamat-lamat kupandangi juga lantai itu, sepertimu. Jejak sepatumu pun tak begitu jelas.

Sekali waktu, ada keramaian di gedung besar. Malam-malam. Amat jarang hal seperti ini terjadi. Muda-mudi hilir mudik di lorong-lorong temaram. Dari berbagai kumpulan di berbagai sudut, terdengar suara-suara gurauan mereka. Kukitari komplek gedung besar itu, dari pos satpam, taman-taman, kolam, jalanan setapak, bangunan, lorong-lorong, lapangan depan, juga lapangan rumput di belakang. Rupanya, keramaian itu berpusat di lapangan rumput. Dari sanalah keramaian berserabut ke berbagai sisi. Di dini hari yang dingin itu, kudapati kau di salah satu bangunan gedung, dengan raut wajah lelah. Hingga kau terlelap di deretan kursi dan meja yang tersusun, aku hanya termangu, disitu, dari beberapa jarak yang terasing.

Hanya karena kegigihanku membayangimu, aku merasa akrab denganmu; merasa dekat, dalam jarak nisbi yang asing. Bukan sebagai paparazzi atau secret agent, aku hanya mengamatimu tanpa mengusikmu. Betapa jarak nisbi yang asing itu adalah jarak teraman.

Adapun hal-hal di luar itu, adalah hal-hal di luar prosedur standar yang rumit diuraikan. Seperti “pertemuan terbaik” kita pada suatu siang yang hening mencekam itu, kita saling bertutur kata, meski akhirnya diam-diam kau pergi meninggalkanku…

Terus terang, aku lebih suka memandangimu dalam sendirimu, ketika ekspresi naturalmu (menurutku) tampak, ketimbang aneka ekspresi yang kau pertontonkan kepada khalayak. Ekspresi yang meng-khalayak itu, ekspresi standar, yang orang banyak pun dengan mudah mendapatkannya darimu. Ya, hanya beberapa hal saja dari ekspresi natural-mu yang kusaksikan. Sayang sekali.

Ah, sesore ini, aku mengenangmu.

Kisaran, 22 Agustus 2011
Ikhwan Muslim Nasution

.: MENJADI LAWAS :.

10 Agu

SETAHUN AKN II

10 Agu

Ayahku seorang saja yang sangat yakin, dari awal kehamilan itu kami kabarkan, janin yang dikandung menantunya itu laki-laki. Dokter spesialis dengan alat USG nya pun lebih condong keyakinannya kalau janin itu perempuan. Meski dengan nada bicara hati-hati ia tetap membuka kemungkinan laki-laki. Alasannya sama saja, alat kelaminnya tak nampak di USG.

Bagi kaum bermarga merangkap patrineal, laki-laki merupakan penerus marga. Tak terkecuali dalam keluargaku. Tak bisa kuhindari maksud kedua orang tuaku “menyusun” empat perempuan di bawahku sebelum si Ahmad Muttaqin Nasution dan kembarannya, Siti Aisah Nasution, lahir. Waktu itu aku berpikir sederhana dalam suasana kalut: Aisah telah “mengalah” kepada kembarannya, karena kehadiran kembarannya lebih ditunggu-tunggu. Beruntunglah Aisah yang meninggal di hari lahirnya, ia tetap suci menantikan keabadian surga-Nya.

Saat kelahiran anakku, sejujurnya aku berada dalam posisi “nyaris” netral. Nyaris, karena harapanku agar anak pertama ini laki-laki masih ada, kendati terhimpit oleh doa yang lebih besar: “selamatkan isteri dan anakku ini, yâ Allâh…”. Lihatlah, betapa doa keselamatan lebih diutamakan daripada doa jenis kelamin!

Dalam detik-detik penantian, saat isteriku di ruang operasi, aku tak bisa jelaskan kecamuk di dada. Ayahku yang hadir belakangan, menangkap gelagat itu. Ayah memaksaku untuk makan malam dulu. Tentu saja tak bisa kutolak.

Sekembali dari makan, aku diberitahu bahwa sudah terdengar jerit tangis bayi dari ruang operasi. Aku bergegas ke kamar mandi, dengan niat: menyambut sang anak yang suci dalam keadaan suci. Sekembalinya, tampaklah Ayah telah menggendong cucu pertamanya seraya meng-adzan-kan, mendoakan, dan memberinya nama: Abdul Karim Nasution. Nama yang teramat sangat kental dalam garis keturunan kami. Interupsi dan bujukanku untuk memberi modifikasi nama tertolak.

Mungkin inilah, buah keyakinan yang kuat dari Ayah, bahwa janin itu laki-laki, dan akan mewarisi namanya dan nama kakeknya. Alhamdulillâh, Abdul Karim Nasution bin Ikhwan Muslim Nasution bin Liannaili Abdul Karim Nasution bin Ikhwan Mansur Nasution bin Abdul Karim Nasution kini telah berumur setahun.

Semoga Karim menjadi anak yang sholeh, sehat, cerdas, dan senantiasa dalam lindungan Allôhu subhânahu wa ta’âlâ. Âmîn yâ Allôhu yâ Karîm…

Rantauprapat, 07 Agustus 2011
Ikhwan Muslim Nasution

SETAHUN AKN I

10 Agu

Waktu itu hari Sabtu, pada hari-hari yang dirasa tak mudah menjalaninya oleh isteriku. Di sebuah pusat perbelanjaan di Medan, kami berjalan-jalan. Dalam usia kehamilan 8 bulan, ia memang tak juga bisa membiasakan diri untuk tak keluar rumah seperti hari itu. Sejujurnya, aku pun salut juga pada kondisi ketahanan fisiknya waktu itu: hamil tua seraya menjalani perkuliahan. Sebuah boneka berwarna hijau kuning, menjadi pertinggal saat-saat itu.

 

Oh ya, aku juga tak bisa lupa akan satu momen: ketika usia kehamilannya memasuki usia yang—kalau tak khilaf—ke lima bulan, kami naik kereta api ekonomi dari Kisaran ke Medan. Momen ini menjadi istimewa bagiku karena waktu itu isteriku tengah hamil, kami naik kereta api kelas ekonomi, dan kami duduk tegang di lantai gerbong barang yang juga penuh sesak.

 

Seperti kebiasaan yang rutin waktu itu, aku akan berangkat pada hari Minggu malam dari Medan ke Kisaran. Di pagi hari di Minggu bersejarah itu, aku, isteri, dan adik perempuanku yang kini berkuliah di USU, berjalan pagi mengitari Jalan Pembangunan USU hingga pintu IV USU.  Selepas itu kami sarapan. Lalu kembali ke kos-kosan di Jalan Pembangunan. Kami mengistirahatkan diri di pagi hari itu.

 

Terjaga dari tidurnya, isteriku seperti terkejut, mendapati pakaian dan tempat tidur telah lembab. Kian lama kian basah. Firasat pun jadi tak enak. Kami memutuskan pergi ke tempat bidan K.G. . Sesampai di sana, Ibu bidan itu tak di tempat, sedang berbelanja ke “pajak”, menurut penuturan suaminya. Sekitar satu jam lebih kemudian, Buk bidan itu pun muncul. Tampak keterkejutan di raut mukanya, sebenar-benar keterkejutan. Akhirnya kami dirujuk ke rumah sakit yang tak bisa dibilang jauh dari tempat praktik bidan itu.

 

Itulah awal dari perasaan tegang menyelimuti kami, pasangan muda yang baru 8 bulan sekian hari berumahtangga, dihadapkan pada suatu perstiwa sepenting itu: di perantauan, jauh dari keluarga besar kami.

 

….

 

Kisaran, 01 Agustus 2011

Ikhwan Muslim Nasution

jejak semut II

10 Agu

Karim, anakku satu-satunya saat ini (entah kapan ia kan punya adik yang menjadikannya menjadi anak ke satu), tampak serius memperhatikan seekor semut merayap di keramik putih kontrakan kami, di Rantauprapat. Aku tak kalah serius memperhatikannya. Ia mendekat, perlahan kian dekat. Pelan-pelan ia julurkan jari telunjuknya, membengkok, diiringi ibu jarinya membentuk sumpit untuk menjepit sang semut. Oh, nanti dulu! Daripada tangannya nanti digigit semut yang meradang itu, kugendong ia ke halaman. Ah, aku lupa, apa semut itu sempat kutindas ataukah telah beranjak ke sela-sela dinding semen. Yang jelas, jejak semut itu pun adalah jejak hidupku, juga jejak hidup Abdul Karim Nasution di usianya yang kesepuluh bulan. Semoga sehat selalu dalam lindungan Allah, Nak…

Kisaran, 06 Juni 2011
Ikhwan Muslim Nasution

SAPUTRO BADAI

18 Nov

Saputro Badai namanya. Lahir di tengah-tengah badai besar yang melanda negerinya. Bukan badai sembarang badai. Badai yang tak hanya sekedar menyapu bersih hadats, khubts dan najis-najis duniawi. Bukan pula badai yang hanya membawa ajal yang ditakdirkan si empunya kemahakuasaan, lantas menyisakan bau bangkai dan jejak-jejak peradaban, disela salak anjing dan puing-puing bangunan.

Badai besar yang melanda negerinya adalah badai aqidah yang tak hanya menggelisahkan dan tak hanya memiriskan. Yang memporak-porandakan fondasi keimanan manusia yang dihantamnya. Yang tak berakhir dalam sebuah judul drama kematian. Ajal yang menyertai badai ini, dalam kondisi dosis puncak, berujung pada ajakan kekekalan di neraka jahannam.

Ayahnya yang bijak bestari, melekatkan kesadarannya yang mendalam, kegelisahannya yang meluap, sebagai pembalut bayi mungil yang berteriak keras menantang amuk badai sedari lahirnya ini. Saputro Badai lahir pada suatu hari yang biasa, dimana badai aqidah meliuk-liuk menghantam setiap iman yang terdeteksi. Saputro Badai menantang badai aqidah pembawa virus ganas (virus-virus yang membuat manusia menjadi serigala pemangsa, menjadi kanibal yang ganas, menjadi penipu yang ulung, koruptor yang rakus, bahkan—dalam dosis puncaknya bisa mengajak manusia untuk—murtad!!!) sedari lahirnya, lewat teriakan tangisnya yang menggema, sahut menyahut. Petir di langit mendung pun sambar-menyambar… Mengawali hujan badai di negeri kelahirannya…

Saputro Badai tumbuh menjadi remaja yang peka terhadap kondisi dunia sekitarnya. Kerakusan Kapitalisme telah disaksikannya dengan mata mudanya yang bening. Bening dari segala dosa keangkuhan peradaban. Ialah neraca berjalan yang mencoba menakar dosa-dosa Kapitalisme Global terhadap kemanusiaan manusia. Neraca belia yang mengecambah dalam rawa-rawa kehidupan. Yang tegak mendongak ke langit, menikmati tiap detik dipanaskan mentari siang.

Saputro Badai, dalam usia belia, sekecil itu, di saat teman-temannya masih bermain gundu dan petak umpat, telah bergulat dengan pemikiran ideologis. Berperang dengan doktrin dan dogma. Berbenturan dengan aneka kemungkinan lain di luar kemapanan yang tampak. Menganalisa syarat-syarat sosial, dan menerjemahkan riak-riak sosial. Pada puncaknya, mencoba menafsirkan seruan Sosialisme Global untuk berontak terhadap kedzaliman Kapitalisme terkutuk.

Sosialisme berkibar di bawah bayang-bayang heroisme Che Guevara yang melegenda. Di bawah patriotisme Fidel Castro yang membebaskan Kuba dari belenggu Kapitalisme. Di bawah epik historis Bolshevik di tanah para Tsar yang mendunia. Di bawah wejangan-wejangan ideologis sang Pemikir ulung, Ideolog tulen, yang kondang di kolong jagat: Karl Marx dan Frederick Engels. Dan negeri kelahiran Saputro Badai, tak kurang memiliki sederet nama ideolog kiri. Satu dari sekian nama itu adalah, dia yang mahir dalam revolusi: Datuk Ibrahim Tan Malaka.

Dari Das Kapital hingga Madilog, pemikiran Saputro Badai beranjak dewasa, sedewasa penampilannya di bangku kuliah. Sorot matanya yang khas, menampilkan sisi asli kepekaannya yang mendalam tentang dunia sosial sekitarnya. Antara keprihatinan yang menghunjam dalam, binar-binar harapan yang meluap-luap, perenungan analitis yang mendalam, dan strategi revolusi yang dimatangkan pengalaman, membuatnya menjadi pribadi kompleks yang elegan. Perlawanannya yang mencolok terhadap otoritas tirani, mengharuskannya menjadi “gerilyawan di pedalaman Amerika Latin”. Mengendap-endap mencuri celah. Menebar granat dan mortir ke tengah-tengah kemapanan.

Granat dan mortirnya berbentuk syair-syair perlawanan, sajak-sajak perjuangan, kritik-kritik yang menelanjangi, catatan-catatan ideologis, dan seruan-seruan perubahan yang menghidupkan semangat. Menolak segala bentuk tindakan kooperatif terhadap otoritas tirani. Dan mengumandangkan perlawanan terhadap segenap pendukung tirani itu. Tapi tak ada yang tau siapa dia, dimana dia, bagaimana dia, yang bergerilya di kampus pinggiran Ibukota. Yang sosoknya misterius bagi khalayak. Seperti hantu dalam prolog Manifesto-nya kaum Marxis.

Hingga pada waktunya, Allah subhanahu wata’ala menunjukkan jalan panjang menuju kepulangan. Pulang, kembali, hijrah, ke fitrah. Saputro Badai seakan terlahir kembali. Masih dalam tema perlawanan terhadap badai pembawa virus yang menggerogoti aqidah ummat. Namun kelahiran kedua ini, adalah kelahiran yang membebaskan. Membebaskan Saputro Badai dari perangkap materialisme Sosialis. Lepas dari jerat pemikiran ideologis kufur, masuk ke dalam pemikiran ideologis yang haq.Yang membebaskannya dari perangkap cara-cara dan metode-metode yang bathil, kepada uslub dan metode yang Syar’iy.

Saputro Badai pun akrab dengan masjid, akrab dengan ta’lim, akrab dengan khurj fi sabilillah, akrab dengan halaqoh, dan senantiasa berusaha untuk mengakrabkan diri dengan segenap komponen ummat. Melebur ke dalam shaf kaum muslimin. Meningggalkan barisan Sosialisme yang kocar kacir di saat lunturnya potret Che Guevara di dinding kusam kamar yang ditinggalkan.

Pada suatu siang yang terik, orang-orang melihatnya memanggul al-liwa’ di tengah-tengah lautan manusia. Pada hari lain di siang hari yang tak kalah terik, mereka melihatnya demikian semangat mengibarkan ar-raya. Dia, Saputro Badai, adalah sosok pemuda yang menemukan jati dirinya. Yang fitrah, yang sejati, yang hakiki. Saputro Badai yang mengidolakan Che Guevara di masa jahiliyahnya itu, kini mengidolakan Ali bin Abu Tholib karromallohu wajhah. Pemuda yang lamarannya terhadap Fatimah diterima Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, setelah lamaran Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu dan Umar bin Khattab radhiyallohu ‘anhu ditolak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Mengidolakan menantu pilihan Rasulullah. Luar Biasa!!!

InsyaAllah, Saputro Badai adalah contoh pemuda yang berhasil menemukan jati dirinya…

Coretan sederhana ini, didedikasikan untuk segenap pemuda Islam di negeri ini.
Kisaran, 17 Nopember 2009
IKHWAN MUSLIM NASUTION

Seorang wanita muda, berbakat, mandiri, dan mapan…

16 Sep
Edisi Terbatas!!!

Edisi Terbatas!!!

Seorang wanita muda, berbakat, mandiri, dan mapan bercerita pada seorang wanita muda yang tak seberuntung dirinya dari hitung-hitungan kalkulator zaman: masih muda, pembantu, dan hidup seadanya. Tentang keindahan kota-kota turis yang telah dilanconginya. Tentang ceritera karier dan beban kerja di kantor. Tentang penghasilan yang jauh di atas rata-rata. Tentang kemapanan yang tiada tara. Tentang bintangnya yang terang benderang. Dengan satu intonasi yang sama: tentang superioritasnya dibanding si jongos…

Di bilik lain kehidupannya pun demikian. Kepada semua manusia yang berjenis kelamin laki-laki diproklamirkan: kalian semua sama, tak lebih dari sekumpulan buaya darat yang bisa kutaklukkan! Sebuah tamparan tendensius kepada lain jenis: termasuk Ayah dan Kakek kandungnya sendiri tentunya!!! Kepada semua wanita di luar komunitasnya dikumandangkan: bintang kalian meredup seketika di sisiku. Sebuah kebinalan yang nyata meski dibungkus dengan aneka rupa bentuk dan warna.

Suatu kali, pada sebuah perjalanan ke sebuah kota besar di Nusantara, si wanita muda, berbakat, mandiri, dan mapan itu kembali unjuk gigi. Bukan di hadapan seorang jongos muda seusianya, tapi di sekeliling sesama abdi negara yang tak seberuntung dirinya. Egosentris yang kembali mengundang kontroversi di ruang sempit zaman: tentang ke—the best—an dirinya dibanding khalayak. Lagi-lagi masih soal melukai hati sesama: tentang kesombongan dan keangkuhan yang dipentaskan, lagi-dan lagi. Gonjang-ganjing miring tentang dirinya pun merebak: bahwa ada masalah dengan kesehatan jiwanya, bahwa wanita waras tidak demikian, bahwa…

Menyedihkan sebetulnya, ketika sebuah talenta muda berbakat menjadi antagonisme pada secarik tema ringkas yang hilir mudik di arus zaman: KESOMBONGAN dan KEANGKUHAN. Seakan lupa, bahwa manusia yang satu tak lebih mulia dari manusia lainnya dalam pandangan Allah swt, kecuali dari takaran taqwanya. Seakan lupa, bahwa keglamouran hidup akan berakhir di bilik sempit-sunyi di bawah kulit bumi yang dipijaknya. Seakan lupa, bahwa sekeras apapun suara dalam mempropagandakan keangkuhan duniawi akan berhenti pada satu titik: kematian.

Dan, beberapa masa sebelum ajalnya menjemput: dia telah mendahului ajal dalam hati manusia-manusia waras di sekitarnya. Wal’iyazu billah…

Kisaran, 16 September 2009 / 26 Ramadhan 1430 H
Ikhwan Muslim Nasution

TIDUR

15 Jun

Aku memandangi kawan sekamarku ini demikian pulas tidurnya. Nafasnya teratur, naik turun. Ketika menarik nafas, terdengarlah suara serak yang khas itu, ciri betapa lelapnya ia tidur. Aku pun begitulah kira-kira kalau lagi tidur nyenyak. Setidaknya, aku tidak bisa mengelak ketika, Doli Indra Marito Harahap, salah satu Sobat terbaik yang pernah kumiliki itu, menunjukkan karya isengnya dengan bangga: rekaman pose tidurku dalam tayangan video HP-nya. Aku tak berkutik! So, Peace, Harnanto!!!

Ketika dalam kondisi terjaga, Anda bisa sesumbar bahwa Anda adalah manusia terkuat sepanjang sepak terjang kaki Anda. Anda bisa mengklaim bahwa Anda adalah titisan Plato yang tiada taranya abad ini. Anda adalah Pangeran Kerajaan Troya yang sukses mengobarkan pertempuran karena dengan ketampanan Anda berhasil memikat sekaligus melarikan Helen yang masih berstatus isteri orang, tak tanggung-tanggung: isteri kaum ningrat feodal!!!

Tapi lihat, apa yang bisa Anda perbuat jika saat ini ada semut merah yang iseng menggerayangi tubuh Anda—sementara Anda tengah menikmati saat-saat intim dengan Helen of Troy di alam impian—secara leluasa, kemudian sang semut merah menyusuri lekuk-lekuknya, memasuki rongga terdalam telinga Anda, dan dengan ketangkasan yang jitu bak seorang kesatria Achilles yang kenamaan itu memporak-porandakan bagian terdalam dari telinga Anda itu??? Atau, ada seekor King Cobra yang kelaparan menghampiri Anda? Tak usah kusebut lagi tentang kemungkinan-kemungkinan yang sangat mungkin—faktanya sering terjadi di alam nyata—peristiwa-peristiwa naas semacam: kebakaran, gempa, maling bersenjata siaga memasuki rumah Anda, atau misalkan secara mendadak serdadu Amerika Serikat kalap menembaki kota Anda sebagaimana kegemaran yang mereka pertontonkan di Irak dan Afghanistan??? Ini mungkin terjadi, Kawan! Dimana kebanggan Anda itu: kekuatan, kepintaran, ketampanan, kekayaan, dan atau kekuasaan???

Seorang anak Adam yang tidur, tidaklah cukup tangguh untuk diandalkan sekedar menjaga dirinya sendiri dari kemungkinan terburuk yang bisa jadi hanyalah kondisi remeh temeh baginya dalam keadaan terjaga. Manusia yang tidur adalah manusia yang lumpuh dan tidak berguna bagi sekitarnya sepanjang detik-detik ketidurannya. Keberadaannya di atas tilam empuk itu tak lebih dari seonggok tubuh, seonggok beban, yang menekan eksistensi busa kasur, penyebar polusi CO2 ke udara, dan penambah angka pengangguran sesaat yang sama sekali tidak produktif bagi kemaslahatan sekitarnya.

Tak ada bedanya seorang lumpuh total yang terjaga dengan seorang sehat, normal dan tanpa cacat yang tengah terlena dibuai bunga-bunga mimpi di atas tilam empuknya bagi lingkungan sekitarnya! Keduanya sama-sama tak berkontribusi apa pun bagi sekitarnya. Tak peduli ia berpendidikan atau bukan. Tak peduli ia buruh atau pemilik modal. Tak peduli juga dia rakyat jelata yang melarat ataukah seorang Presiden yang kaya raya!!!

Lantas, apa yang akan terjadi jika suatu kaum memilih tidur secara berjama’ah? Pemimpinnya tidur, para ulamanya tidur, segenap rakyat yang hanya bisa menjadi makmum pada shaf yang kesekian di belakang shaf-shaf kaum ningrat berpengaruh pada suatu jama’ah ikut imamnya pula mengamalkan ritual tidur panjang tersebut??? Akan tibakah fajar perubahan menghampiri mereka? Mungkin saja. Mungkin saja mereka tengah bersulang merayakan kejayaan di mimpi yang tak putus barang sedetik pun dalam jarak zaman yang mereka tempuh dalam kondisi mati suri berjama’ah itu: ”Negeri kita ini adalah negeri yang adil, makmur, aman, damai, sentosa, dan terberkati!” Aku tak berani menyebut nasib kaum ini lebih baik dibanding fiksi sang peraih Nobel, Jose Saramago, tentang kebutaan putih massal yang dirangkum dalam Blindness-nya yang fenomenal itu.

Dengan demikian, peluang terwujudnya suatu perubahan konkret berbanding terbalik dengan frekuensi dan periode tidur berjama’ah suatu kaum. Semakin sering dan lama suatu imam memimpin ritual tidur berjama’ah—alamat semakin banyak lah peluang keterjadian dan semakin lama lah kesempatan untuk menikmati mimpi-mimpi abstrak tentang harga diri dan kemakmuran kaum itu—maka semakin kecil lah peluang terwujudnya perubahan konkret dalam kehidupan yang sesungguhnya!!!

Benarlah penuturan Al-Ghazali—semoga Allah menempatkannya di tempat yang mulia—di dalam Ihyaa’ Ulumiddiin, tentang perlunya seseorang yang ingin mencapai derajat kemuliaan di sisi Rabbnya memperhatikan soal tidur ini. Kesimpulan dari semua ini adalah: ”Tinjau ulang lah porsi tidur Anda!”

Jakarta, 04 Juni 2009

Jam 22:27 WIB

Ikhwan Muslim Nasution

Pohon Dakwah: Tausyiah dari Sahabat

6 Jan

Jika dakwah ibarat pohon,

ada saja daun-daun yang berjatuhan…

Tapi pohon dakwah itu tak pernah kehabisan cara

untuk membuahkan tunas-tunas barunya…

Sementara daun yang berguguran tak lebih

akan menjadi sampah dalam sejarah…

Memilih jalan dakwah bukanlah kesalahan…

Kesalahan adalah ketidaksabaran dalam berjuang…

Semoga berat amanah menjadi satu titian

menuju surga Allah.

keep your spirit!

(Tulisan di atas berasal dari Tausyiah seorang Sahabat semasa Kuliah,

Muhammad Irsyad, lewat sms pada pukul 23:14:11 wib, 05 Januari 2009)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.