Saputro Badai namanya. Lahir di tengah-tengah badai besar yang melanda negerinya. Bukan badai sembarang badai. Badai yang tak hanya sekedar menyapu bersih hadats, khubts dan najis-najis duniawi. Bukan pula badai yang hanya membawa ajal yang ditakdirkan si empunya kemahakuasaan, lantas menyisakan bau bangkai dan jejak-jejak peradaban, disela salak anjing dan puing-puing bangunan.
Badai besar yang melanda negerinya adalah badai aqidah yang tak hanya menggelisahkan dan tak hanya memiriskan. Yang memporak-porandakan fondasi keimanan manusia yang dihantamnya. Yang tak berakhir dalam sebuah judul drama kematian. Ajal yang menyertai badai ini, dalam kondisi dosis puncak, berujung pada ajakan kekekalan di neraka jahannam.
Ayahnya yang bijak bestari, melekatkan kesadarannya yang mendalam, kegelisahannya yang meluap, sebagai pembalut bayi mungil yang berteriak keras menantang amuk badai sedari lahirnya ini. Saputro Badai lahir pada suatu hari yang biasa, dimana badai aqidah meliuk-liuk menghantam setiap iman yang terdeteksi. Saputro Badai menantang badai aqidah pembawa virus ganas (virus-virus yang membuat manusia menjadi serigala pemangsa, menjadi kanibal yang ganas, menjadi penipu yang ulung, koruptor yang rakus, bahkan—dalam dosis puncaknya bisa mengajak manusia untuk—murtad!!!) sedari lahirnya, lewat teriakan tangisnya yang menggema, sahut menyahut. Petir di langit mendung pun sambar-menyambar… Mengawali hujan badai di negeri kelahirannya…
Saputro Badai tumbuh menjadi remaja yang peka terhadap kondisi dunia sekitarnya. Kerakusan Kapitalisme telah disaksikannya dengan mata mudanya yang bening. Bening dari segala dosa keangkuhan peradaban. Ialah neraca berjalan yang mencoba menakar dosa-dosa Kapitalisme Global terhadap kemanusiaan manusia. Neraca belia yang mengecambah dalam rawa-rawa kehidupan. Yang tegak mendongak ke langit, menikmati tiap detik dipanaskan mentari siang.
Saputro Badai, dalam usia belia, sekecil itu, di saat teman-temannya masih bermain gundu dan petak umpat, telah bergulat dengan pemikiran ideologis. Berperang dengan doktrin dan dogma. Berbenturan dengan aneka kemungkinan lain di luar kemapanan yang tampak. Menganalisa syarat-syarat sosial, dan menerjemahkan riak-riak sosial. Pada puncaknya, mencoba menafsirkan seruan Sosialisme Global untuk berontak terhadap kedzaliman Kapitalisme terkutuk.
Sosialisme berkibar di bawah bayang-bayang heroisme Che Guevara yang melegenda. Di bawah patriotisme Fidel Castro yang membebaskan Kuba dari belenggu Kapitalisme. Di bawah epik historis Bolshevik di tanah para Tsar yang mendunia. Di bawah wejangan-wejangan ideologis sang Pemikir ulung, Ideolog tulen, yang kondang di kolong jagat: Karl Marx dan Frederick Engels. Dan negeri kelahiran Saputro Badai, tak kurang memiliki sederet nama ideolog kiri. Satu dari sekian nama itu adalah, dia yang mahir dalam revolusi: Datuk Ibrahim Tan Malaka.
Dari Das Kapital hingga Madilog, pemikiran Saputro Badai beranjak dewasa, sedewasa penampilannya di bangku kuliah. Sorot matanya yang khas, menampilkan sisi asli kepekaannya yang mendalam tentang dunia sosial sekitarnya. Antara keprihatinan yang menghunjam dalam, binar-binar harapan yang meluap-luap, perenungan analitis yang mendalam, dan strategi revolusi yang dimatangkan pengalaman, membuatnya menjadi pribadi kompleks yang elegan. Perlawanannya yang mencolok terhadap otoritas tirani, mengharuskannya menjadi “gerilyawan di pedalaman Amerika Latin”. Mengendap-endap mencuri celah. Menebar granat dan mortir ke tengah-tengah kemapanan.
Granat dan mortirnya berbentuk syair-syair perlawanan, sajak-sajak perjuangan, kritik-kritik yang menelanjangi, catatan-catatan ideologis, dan seruan-seruan perubahan yang menghidupkan semangat. Menolak segala bentuk tindakan kooperatif terhadap otoritas tirani. Dan mengumandangkan perlawanan terhadap segenap pendukung tirani itu. Tapi tak ada yang tau siapa dia, dimana dia, bagaimana dia, yang bergerilya di kampus pinggiran Ibukota. Yang sosoknya misterius bagi khalayak. Seperti hantu dalam prolog Manifesto-nya kaum Marxis.
Hingga pada waktunya, Allah subhanahu wata’ala menunjukkan jalan panjang menuju kepulangan. Pulang, kembali, hijrah, ke fitrah. Saputro Badai seakan terlahir kembali. Masih dalam tema perlawanan terhadap badai pembawa virus yang menggerogoti aqidah ummat. Namun kelahiran kedua ini, adalah kelahiran yang membebaskan. Membebaskan Saputro Badai dari perangkap materialisme Sosialis. Lepas dari jerat pemikiran ideologis kufur, masuk ke dalam pemikiran ideologis yang haq.Yang membebaskannya dari perangkap cara-cara dan metode-metode yang bathil, kepada uslub dan metode yang Syar’iy.
Saputro Badai pun akrab dengan masjid, akrab dengan ta’lim, akrab dengan khurj fi sabilillah, akrab dengan halaqoh, dan senantiasa berusaha untuk mengakrabkan diri dengan segenap komponen ummat. Melebur ke dalam shaf kaum muslimin. Meningggalkan barisan Sosialisme yang kocar kacir di saat lunturnya potret Che Guevara di dinding kusam kamar yang ditinggalkan.
Pada suatu siang yang terik, orang-orang melihatnya memanggul al-liwa’ di tengah-tengah lautan manusia. Pada hari lain di siang hari yang tak kalah terik, mereka melihatnya demikian semangat mengibarkan ar-raya. Dia, Saputro Badai, adalah sosok pemuda yang menemukan jati dirinya. Yang fitrah, yang sejati, yang hakiki. Saputro Badai yang mengidolakan Che Guevara di masa jahiliyahnya itu, kini mengidolakan Ali bin Abu Tholib karromallohu wajhah. Pemuda yang lamarannya terhadap Fatimah diterima Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, setelah lamaran Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu dan Umar bin Khattab radhiyallohu ‘anhu ditolak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Mengidolakan menantu pilihan Rasulullah. Luar Biasa!!!
InsyaAllah, Saputro Badai adalah contoh pemuda yang berhasil menemukan jati dirinya…
Coretan sederhana ini, didedikasikan untuk segenap pemuda Islam di negeri ini.
Kisaran, 17 Nopember 2009
IKHWAN MUSLIM NASUTION
Like this:
Be the first to like this post.