Arsip | Jalan-Jalan RSS feed for this section

S U B U R

10 Agu

Perjalananku minggu ini lumayan panjang, beratus-ratus kilometer jalan aspal telah kulewati. Meliputi kurang lebih 7 daerah tingkat dua. Entah berapa puluh kecamatan dan berapa ratus desa.

Tapi ini bukan tentang data statistik perjalananku. Ini lebih kepada ketakjuban yang melingkupiku dari apa yang kusaksikan dalam perjalanan ini.

Tanah di negeri ini memang tanah yang subur. Bukan cuma “Orang Bilang”, tapi faktanya memang demikian. Tapi aku tak ikutan memakai majaz yang keterlaluan dengan menyebutnya tanah surga.

Kelapa sawit tumbuh subur di provinsi ini. Kabupaten Labuhan Batu, Labuhan Batu Utara (juga Labuhan Batu Selatan yang tak termasuk wilayah yang kujalani minggu ini), Asahan, Batubara dan Simalungun merupakan sentra kebun sawit yang luas. Begitupun dengan Karet, tumbuh subur di wilayah ini.

Korporasi-korporasi besar mendominasi perkebunan sawit dan karet. Manajemen kebunnya bagus.

Di Sidamanik terdapat Kebun teh yang luas. Tanah Karo terkenal dengan tanaman holtikultura-nya. Ada juga kebun kopi, jeruk, durian, dll., yang dikelola rakyat.

Belum lagi kita bicara hasil laut dan perikanan tawarnya. Melimpah. Alhamdulillah, waktu berkunjung ke rumah kerabat dari pihak isteri nun disana di Labuhan Bilik, telah kucicipi Udang dan Kepiting terbesar yang pernah kulihat.

Ternak Lembu dan Kambing banyak terdapat di Labuhan Batu, Labuhan Batu Utara, Asahan, Batubara, dll.

Inilah yang kutakjubkan. Sesungguhnyalah, negeri ini negeri yang subur. Sebenarnyalah, negeri ini negeri yang kaya. Dengan kekayaan potensi itu, kita semestinya hidup makmur. Tapi kita pun sadar, seberapa hebat pun potensinya tanpa visi, misi, dan arahan manajemen yang tepat, potensi itu akan tercecer seperti jamur di musim hujan yang layu di musim kemarau.

Sebentar, tanah subur seluas itu, apakah masih tanah kita?!

Berastagi, 13 Juli 2011
Ikhwan Muslim Nasution

K A B U T

10 Agu

Yang namanya kabut, identik dengan kesamar-samaran dalam pandangan. Semakin tebal kabutnya, semakin samar daya pandang kita. Pada titik tertentu, jarak pandang kita mencapai jarak terpendek. Bagaimana akal dapat mengurai keterbatasan daya pandang?

Tak bisa dibayangkan, sebuah pengendara kenderaan nekat saja melaju menembus kabut tanpa lampu sorot yang memadai. Sebab, kenekatan semacam itu sama saja dengan mempertaruhkan nyawa.

Saya ingat pernah naik bus malam antarprovinsi, lampu sorotnya mengalami gangguan. Untuk mencari kerusakannya dimana dan memperbaiki lampu itu, tak kurang dari satu jam waktu yang tersita. Saya dan penumpang lain sudah gerah dan gelisah juga waktu itu. Tapi klo pak supir tak bijak bestari, artinya ngotot saja melajukan kenderaan dengan lampu seadanya akibat “kerewelan” penumpang, resikonya tentu nyawa penghuni bus.

Begitu pun ketika akan memutuskan suatu hal. Dalam kondisi ketebalan kabut maksimal di kepala kita, ada baiknya kita menenangkan diri sejenak. Bisa dengan duduk santai dulu. Atau berbaring dulu. Klo belum juga, ambil wudhu dulu lah. Sekalian lah shalat sunnah.

Lebih baik menahan diri daripada memutuskan secara emosional. Lebih banyak yang akhirnya disesali daripada yang disyukuri dari keputusan emosional belaka. Maka ketika kabut tebal menghalangi pandangan kita, semoga kita tetap bisa tenang dalam mengambil keputusan.

Berastagi, 12 Juli 2011
Ikhwan Muslim Nasution

Amphibi

10 Agu

Ada celetukan kami ketika menyaksikan beberapa manusia malam dalam tampilan yang menipu. Dari penampakannya, mereka-mereka ini dari jenis gender wanita. Tak taunya bukan.

“Itu amphibi”, kata kawan di sebelah. Istilah itu merujuk pada dualisme kepribadian si orang yang diistilahkan. Mengumbar sensualitas di trotoar selarut itu, apa maksudnya coba?

Rupanya demikian. Kehidupan ini sudah sedemikian pekatnya sehingga tak sedikit anak manusia tak lagi ‘pede’ dalam satu kepribadian saja.

Pematang Siantar, 8 Juli 2011
Ikhwan Muslim Nasution

Tembang Penggalang

10 Agu

Tembang lawas itu seakan cermin yang memantulkan simfoni kerinduan pada waktu-waktu yang lampau. Pada sebuah lirik dan melodi, aku serasa berada di sisi api unggun kecil, pada sebuah malam tanpa listrik, di antara ilalang yang merunduk menggigil ditekuk embun malam. Tentang apa itu dasadharma pramuka, dan tembang lawas. Itu sebuah masa lampau dalam setelan pramuka dengan aneka atributnya, masih dengan celana pendek khas penggalang dari SMP yang tak jarang membuatku malu mendekati para senior penegak, apalagi yang puteri. Hingga tak jarang, meminjam celana panjang senior yang baik hati dan tidak galak adalah solusi menegakkan wibawa di acara semi formal di malam hari, terlebih di hadapan penegak puteri. Tembang lawas itu mengalun memecah kesunyian alam, dengan irama gitar alakadarnya, di sisi api unggun kecil yang menghangatkan, oleh dua tiga orang penegak. Aku menyimaknya lamat-lamat. Tapi, mataku tertuju entah kemana. Ah, ini hanya lintasan memori. Tak lebih.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.