Perjalananku minggu ini lumayan panjang, beratus-ratus kilometer jalan aspal telah kulewati. Meliputi kurang lebih 7 daerah tingkat dua. Entah berapa puluh kecamatan dan berapa ratus desa.
Tapi ini bukan tentang data statistik perjalananku. Ini lebih kepada ketakjuban yang melingkupiku dari apa yang kusaksikan dalam perjalanan ini.
Tanah di negeri ini memang tanah yang subur. Bukan cuma “Orang Bilang”, tapi faktanya memang demikian. Tapi aku tak ikutan memakai majaz yang keterlaluan dengan menyebutnya tanah surga.
Kelapa sawit tumbuh subur di provinsi ini. Kabupaten Labuhan Batu, Labuhan Batu Utara (juga Labuhan Batu Selatan yang tak termasuk wilayah yang kujalani minggu ini), Asahan, Batubara dan Simalungun merupakan sentra kebun sawit yang luas. Begitupun dengan Karet, tumbuh subur di wilayah ini.
Korporasi-korporasi besar mendominasi perkebunan sawit dan karet. Manajemen kebunnya bagus.
Di Sidamanik terdapat Kebun teh yang luas. Tanah Karo terkenal dengan tanaman holtikultura-nya. Ada juga kebun kopi, jeruk, durian, dll., yang dikelola rakyat.
Belum lagi kita bicara hasil laut dan perikanan tawarnya. Melimpah. Alhamdulillah, waktu berkunjung ke rumah kerabat dari pihak isteri nun disana di Labuhan Bilik, telah kucicipi Udang dan Kepiting terbesar yang pernah kulihat.
Ternak Lembu dan Kambing banyak terdapat di Labuhan Batu, Labuhan Batu Utara, Asahan, Batubara, dll.
Inilah yang kutakjubkan. Sesungguhnyalah, negeri ini negeri yang subur. Sebenarnyalah, negeri ini negeri yang kaya. Dengan kekayaan potensi itu, kita semestinya hidup makmur. Tapi kita pun sadar, seberapa hebat pun potensinya tanpa visi, misi, dan arahan manajemen yang tepat, potensi itu akan tercecer seperti jamur di musim hujan yang layu di musim kemarau.
Sebentar, tanah subur seluas itu, apakah masih tanah kita?!
Berastagi, 13 Juli 2011
Ikhwan Muslim Nasution

