Arsip | FATHER AND SON RSS feed for this section

SETAHUN AKN II

10 Agu

Ayahku seorang saja yang sangat yakin, dari awal kehamilan itu kami kabarkan, janin yang dikandung menantunya itu laki-laki. Dokter spesialis dengan alat USG nya pun lebih condong keyakinannya kalau janin itu perempuan. Meski dengan nada bicara hati-hati ia tetap membuka kemungkinan laki-laki. Alasannya sama saja, alat kelaminnya tak nampak di USG.

Bagi kaum bermarga merangkap patrineal, laki-laki merupakan penerus marga. Tak terkecuali dalam keluargaku. Tak bisa kuhindari maksud kedua orang tuaku “menyusun” empat perempuan di bawahku sebelum si Ahmad Muttaqin Nasution dan kembarannya, Siti Aisah Nasution, lahir. Waktu itu aku berpikir sederhana dalam suasana kalut: Aisah telah “mengalah” kepada kembarannya, karena kehadiran kembarannya lebih ditunggu-tunggu. Beruntunglah Aisah yang meninggal di hari lahirnya, ia tetap suci menantikan keabadian surga-Nya.

Saat kelahiran anakku, sejujurnya aku berada dalam posisi “nyaris” netral. Nyaris, karena harapanku agar anak pertama ini laki-laki masih ada, kendati terhimpit oleh doa yang lebih besar: “selamatkan isteri dan anakku ini, yâ Allâh…”. Lihatlah, betapa doa keselamatan lebih diutamakan daripada doa jenis kelamin!

Dalam detik-detik penantian, saat isteriku di ruang operasi, aku tak bisa jelaskan kecamuk di dada. Ayahku yang hadir belakangan, menangkap gelagat itu. Ayah memaksaku untuk makan malam dulu. Tentu saja tak bisa kutolak.

Sekembali dari makan, aku diberitahu bahwa sudah terdengar jerit tangis bayi dari ruang operasi. Aku bergegas ke kamar mandi, dengan niat: menyambut sang anak yang suci dalam keadaan suci. Sekembalinya, tampaklah Ayah telah menggendong cucu pertamanya seraya meng-adzan-kan, mendoakan, dan memberinya nama: Abdul Karim Nasution. Nama yang teramat sangat kental dalam garis keturunan kami. Interupsi dan bujukanku untuk memberi modifikasi nama tertolak.

Mungkin inilah, buah keyakinan yang kuat dari Ayah, bahwa janin itu laki-laki, dan akan mewarisi namanya dan nama kakeknya. Alhamdulillâh, Abdul Karim Nasution bin Ikhwan Muslim Nasution bin Liannaili Abdul Karim Nasution bin Ikhwan Mansur Nasution bin Abdul Karim Nasution kini telah berumur setahun.

Semoga Karim menjadi anak yang sholeh, sehat, cerdas, dan senantiasa dalam lindungan Allôhu subhânahu wa ta’âlâ. Âmîn yâ Allôhu yâ Karîm…

Rantauprapat, 07 Agustus 2011
Ikhwan Muslim Nasution

SETAHUN AKN I

10 Agu

Waktu itu hari Sabtu, pada hari-hari yang dirasa tak mudah menjalaninya oleh isteriku. Di sebuah pusat perbelanjaan di Medan, kami berjalan-jalan. Dalam usia kehamilan 8 bulan, ia memang tak juga bisa membiasakan diri untuk tak keluar rumah seperti hari itu. Sejujurnya, aku pun salut juga pada kondisi ketahanan fisiknya waktu itu: hamil tua seraya menjalani perkuliahan. Sebuah boneka berwarna hijau kuning, menjadi pertinggal saat-saat itu.

 

Oh ya, aku juga tak bisa lupa akan satu momen: ketika usia kehamilannya memasuki usia yang—kalau tak khilaf—ke lima bulan, kami naik kereta api ekonomi dari Kisaran ke Medan. Momen ini menjadi istimewa bagiku karena waktu itu isteriku tengah hamil, kami naik kereta api kelas ekonomi, dan kami duduk tegang di lantai gerbong barang yang juga penuh sesak.

 

Seperti kebiasaan yang rutin waktu itu, aku akan berangkat pada hari Minggu malam dari Medan ke Kisaran. Di pagi hari di Minggu bersejarah itu, aku, isteri, dan adik perempuanku yang kini berkuliah di USU, berjalan pagi mengitari Jalan Pembangunan USU hingga pintu IV USU.  Selepas itu kami sarapan. Lalu kembali ke kos-kosan di Jalan Pembangunan. Kami mengistirahatkan diri di pagi hari itu.

 

Terjaga dari tidurnya, isteriku seperti terkejut, mendapati pakaian dan tempat tidur telah lembab. Kian lama kian basah. Firasat pun jadi tak enak. Kami memutuskan pergi ke tempat bidan K.G. . Sesampai di sana, Ibu bidan itu tak di tempat, sedang berbelanja ke “pajak”, menurut penuturan suaminya. Sekitar satu jam lebih kemudian, Buk bidan itu pun muncul. Tampak keterkejutan di raut mukanya, sebenar-benar keterkejutan. Akhirnya kami dirujuk ke rumah sakit yang tak bisa dibilang jauh dari tempat praktik bidan itu.

 

Itulah awal dari perasaan tegang menyelimuti kami, pasangan muda yang baru 8 bulan sekian hari berumahtangga, dihadapkan pada suatu perstiwa sepenting itu: di perantauan, jauh dari keluarga besar kami.

 

….

 

Kisaran, 01 Agustus 2011

Ikhwan Muslim Nasution

Alur Hidup

10 Agu

Di antara alunan nyanyian kawanan kodok selepas hujan malam mengguyur kota ini, aku masih terjaga. Memandangi isteri dan anak semata wayangku yang telah terlelap. Hidup memang bukan untuk dikeluhkan, tapi tak pula untuk tak dikesahkan. Jarak sedekat ini adalah jarak sementara, seperti jarak Kisaran – Rantauprapat pun jarak sementara; sesementara dunia fana ini.

Lalu apa, kalau bukan karena bentangan sekian pertimbangan. Ini jalan harus dilalui. Soal berdesak-desakan di gerbong kereta, atau bersempit-sempitan di bus tanggung yang mengangkutku saban minggu, itu adalah sisi lain dari tantangan menjalani lakon hidup.

Kesusahan dan kesenangan itu kan sebetulnya sederhana saja. Yang kompleks itu penyikapan kita. Temanya sama, alurnya yang berbeda-beda. Kalau kesusahan itu misalkan jarak, maka kesenangan itu pun juga jarak; cuma ukur-ukurannya yang beda.

Tapi iya, dalam alur itulah manusia menafsirkan arahnya. Sebagian memilih alur instan yang melenakan. Yang lain mendaki tebing terjal dan jalan berdebu. Tak melulu soal prinsip, tapi lebih kepada taqlid-nya.

Rantauprapat, 17 Juli 2011
Ikhwan Muslim Nasution

Bau Bantal Karim

10 Agu

Yang khas dari semua yang terdapat di kamar tidur kecil kontrakan kami ini adalah bau bantal Karim. Sangat khas. Istilahnya, baunya “ngangenin”. Bisa Anda bayangkan perpaduan yang alami dari bau bayi, bau bedak, bau minyak rambut bayi, bau susu bayi, bau keringatnya, bau minyak telonnya, dan aneka campuran lain yang gagal kudeskripsikan satu persatu. Sungguh “ngangenin”. Bau inilah yang tak kudapati di kamarku di Kisaran. Sesuatu yang merongrongku untuk tidak betah berada jauh dari Karim. Pagi ini, Karim tidur nyenyak setelah mandi pagi. Meski cuaca mendung, dingin, ditambah angin dari kipas angin di pojok kamar, Karim tetap keringatan. Kian menambah khas bau bantalnya yang “ngangenin”.

Rantauprapat, 29 Juni 2011
Ikhwan Muslim Nasution

Jejak Semut III

10 Agu

Ada hal baru dalam pola ekspresi Karim terhadap semut yang bergerak lambat di hadapannya. Biasanya ia hanya berusaha “menyumpitnya” dengan jari telunjuk dan ibu jari kanannya. Ketika pun gagal, ia hanya mengekspresikannya dengan suaranya. Kemarin tidak begitu, ia tampak “heboh”. Ketika gagal “menyumpit” sang semut yang melintasi keramik putih di ruang tamu, ia berteriak keras. Lalu, memukul (gaya menampar) dengan kedua tangan sang semut hitam hingga terkapar. Aku hanya memperhatikan saja, ketika mendadak Mama Karim datang memberi petuah, “Gak boleh gitu, Nak ya. Tidak boleh. Kasihan semutnya”.

Kisaran, 27 Juni 2011
Ikhwan Muslim Nasution

Gigi-nya Karim

10 Agu

Beberapa jam yang lalu sebelum berangkat ke Kisaran, isteriku memberitahu bahwa gigi Karim bagian depan atas “mendadak nongol”. Lagi-lagi, dua! Kami pun sibuk melihat-lihat giginya, mumpung lagi terlelap. Ini periode ketiga tumbuhnya gigi Karim. Periode pertama, tumbuh dua gigi depan bawah. Periode kedua, tumbuh dua gigi taring atas. Periode ketiga ini, itu tadi, tumbuh dua gigi depan atas. Polanya unik, dua sekali tumbuh. Semoga tetap sehat dalam lindungan Allah swt, Nak. Âmîn yâ robbal ‘âlamîn…

Kisaran, 20 Juni 2011
Ikhwan Muslim Nasution

jejak semut II

10 Agu

Karim, anakku satu-satunya saat ini (entah kapan ia kan punya adik yang menjadikannya menjadi anak ke satu), tampak serius memperhatikan seekor semut merayap di keramik putih kontrakan kami, di Rantauprapat. Aku tak kalah serius memperhatikannya. Ia mendekat, perlahan kian dekat. Pelan-pelan ia julurkan jari telunjuknya, membengkok, diiringi ibu jarinya membentuk sumpit untuk menjepit sang semut. Oh, nanti dulu! Daripada tangannya nanti digigit semut yang meradang itu, kugendong ia ke halaman. Ah, aku lupa, apa semut itu sempat kutindas ataukah telah beranjak ke sela-sela dinding semen. Yang jelas, jejak semut itu pun adalah jejak hidupku, juga jejak hidup Abdul Karim Nasution di usianya yang kesepuluh bulan. Semoga sehat selalu dalam lindungan Allah, Nak…

Kisaran, 06 Juni 2011
Ikhwan Muslim Nasution

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.