Ayahku seorang saja yang sangat yakin, dari awal kehamilan itu kami kabarkan, janin yang dikandung menantunya itu laki-laki. Dokter spesialis dengan alat USG nya pun lebih condong keyakinannya kalau janin itu perempuan. Meski dengan nada bicara hati-hati ia tetap membuka kemungkinan laki-laki. Alasannya sama saja, alat kelaminnya tak nampak di USG.
Bagi kaum bermarga merangkap patrineal, laki-laki merupakan penerus marga. Tak terkecuali dalam keluargaku. Tak bisa kuhindari maksud kedua orang tuaku “menyusun” empat perempuan di bawahku sebelum si Ahmad Muttaqin Nasution dan kembarannya, Siti Aisah Nasution, lahir. Waktu itu aku berpikir sederhana dalam suasana kalut: Aisah telah “mengalah” kepada kembarannya, karena kehadiran kembarannya lebih ditunggu-tunggu. Beruntunglah Aisah yang meninggal di hari lahirnya, ia tetap suci menantikan keabadian surga-Nya.
Saat kelahiran anakku, sejujurnya aku berada dalam posisi “nyaris” netral. Nyaris, karena harapanku agar anak pertama ini laki-laki masih ada, kendati terhimpit oleh doa yang lebih besar: “selamatkan isteri dan anakku ini, yâ Allâh…”. Lihatlah, betapa doa keselamatan lebih diutamakan daripada doa jenis kelamin!
Dalam detik-detik penantian, saat isteriku di ruang operasi, aku tak bisa jelaskan kecamuk di dada. Ayahku yang hadir belakangan, menangkap gelagat itu. Ayah memaksaku untuk makan malam dulu. Tentu saja tak bisa kutolak.
Sekembali dari makan, aku diberitahu bahwa sudah terdengar jerit tangis bayi dari ruang operasi. Aku bergegas ke kamar mandi, dengan niat: menyambut sang anak yang suci dalam keadaan suci. Sekembalinya, tampaklah Ayah telah menggendong cucu pertamanya seraya meng-adzan-kan, mendoakan, dan memberinya nama: Abdul Karim Nasution. Nama yang teramat sangat kental dalam garis keturunan kami. Interupsi dan bujukanku untuk memberi modifikasi nama tertolak.
Mungkin inilah, buah keyakinan yang kuat dari Ayah, bahwa janin itu laki-laki, dan akan mewarisi namanya dan nama kakeknya. Alhamdulillâh, Abdul Karim Nasution bin Ikhwan Muslim Nasution bin Liannaili Abdul Karim Nasution bin Ikhwan Mansur Nasution bin Abdul Karim Nasution kini telah berumur setahun.
Semoga Karim menjadi anak yang sholeh, sehat, cerdas, dan senantiasa dalam lindungan Allôhu subhânahu wa ta’âlâ. Âmîn yâ Allôhu yâ Karîm…
Rantauprapat, 07 Agustus 2011
Ikhwan Muslim Nasution

