
- MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN
“Psikolog”
3 JunMeski tidak pernah kuliah Psikologi—sebuah alas an yang sempurna untuk menyatakan bahwa saya tidak memiliki wewenang ilmiah untuk berbicara atas nama disiplin ilmu jiwa ini—pada dasarnya, menurutku, kita telah terlatih sedari kecil untuk peka terhadap kondisi kejiawaan kita dan orang (orang-orang) di sekitar kita. Kata “peka” merujuk pada sensitivitas indera kita menangkap “gelagat”, “isyarat”, “perubahan mimik”, “sinar mata”, dan “gerak kasar” yang dengan mudah bisa kita indera. Termasuk sikap kepala batu yang tak beralasan.
Contoh konkretnya sebuah kejadian kecil pada beberapa malam di kamar kos di bilangan Kemanggisan, Jakarta Barat. Saya sedang flu berat, batuk, demam dan lebih dari itu sangat merasa terganggu dengan keberadaan aktif benda mati yang bernama kipas angin. Mengingat kondisi udara sekitar yang gerah, sumpek, dan “mati”, kipas angin adalah benda mati yang “menghidupkan” (dalam artian majasi).
Saya mulai merasa jengkel dengan keadaan. Batukku demikian, kipasnya demikian. Saya berharap kipas itu dimatikan, ada yang berharap sebaliknya (bukanlah sebuah kebetulan belaka kalau saat ini aku tinggal sekamar dengan seorang kawan, salah satu sahabat saya tepatnya). Bukan kadang-kadang lagi saya menggigil kedinginan–dalam periode sakit itu—saya menggigil kedinginan di dini hari yang sunyi, tapi merasa agak sungkan untuk mematikan kipas itu sehingga—terus terang—sangat terpaksa menikmati ketersiksaan itu. Belum lagi kalau pada jam-jam semangat belajar tengah membubung—meski dalam kondisi sakit—tak pelak kipas angin menjadi kendala utama yang pelan-pelan menggerakkanku untuk meninggalkan kamar, meninggalkan sang sahabat yang melongo memandangiku menenteng modul dan perlengkapan belajar ke kamar sebelah yang kebetulan tidak menggunakan kipas.
Pada kondisi semacam inilah, jiwa “psikolog” (baca: psikolog dalam tanda petik) kita bisa muncul. Dengan pisau bedah tanpa struktur dan standar, saya mulai member penilaian jitu yang mendasar terhadap sahabat saya ini: “O, dia ternyata adalah seorang egois sejati. Mungkin karena dia anak tunggal!”
Tidak berselang lama (tidak sampai berangka bulan dan tahun lah), saya mulai melihat diri saya di kaca analisis tanpa struktur dan standar itu, “O, saya yang egois. Bagaimana bisa saya mau enak sendiri sementara dia akan tersiksa dalam penjara udara gerah ini?”
Mudah sekali ternyata. Pertama, saya melihat sahabat saya itu sebagai sosok yang paling egois yang demi kesenangan pribadinya justru “mengorbankanku” yang sedang sakit di bawah kipas angin yang pada kondisi seperti itu adalah benda yang paling kubenci karena akan memperburuk kondisi kesehatanku. Kedua, saya mulai insaf, bahwa ketika saya menuntut diri untuk lebih diutamakan—meski dalam kondisi sakit (flu, ingusan, demam plus batuk-batuk)—melebihi dirinya, dengan “memaksanya” berada pada situasi yang menyiksanya, maka ternyata saya lah yang egois.
Saya pun menarik kesimpulan sederhana sebagai bekal teori “ke-psikolog-anku”: “Egoisme berakar dari ketumpulan nurani untuk menjawab kebutuhan akan jawaban yang mendesak meski tanpa ditanyakan secara lateral. Lewat pemuasan hasrat dengan pangabaian hak-hak orang lain, egoisme menemukan wujud sempurnanya pada diri seseorang”.
Berkenaan dengan kejadian kecil di atas, saya jadi teringat juga pada kejadian yang hampir sama di sebuah Kantor milik pemerintah di kota MDN. Kali ini bukan gara-gara kipas angin, tapi gara-gara AC alias pendingin ruangan. Beberapa karyawan bisa terbelah gara-gara AC. Percaya tidak percaya, itulah yang terjadi. Kubu yang pro-AC, bisa jangan dikira dihuni oleh anak-anak muda yang modern saja, meski mayoritasnya memang demikian, dan sebaliknya. Sewaktu Kepala Seksinya masih Pak M, kubu yang tidak pro AC, menang. Bahkan di antara pendukungnya ini ada seorang anak muda, gadis muda seumuranku tepatnya, yang meski sang Kepala Seksi merokok di ruangan itu, dia lebih menikmati masa-masa itu.
Ketika terjadi pergantian Kepala Seksi, keadaan pun berubah. Kepala Seksi yang baru ini baru saja promosi jabatan, masih muda, modern dan bisa ditebak: Pro AC. Kubu Pro-AC pun menyambut gembira keadaan ini. Tidak ada lagi asap rokok di ruangan, udara lebih enak, lebih adem… Pada kondisi seperti ini, siapakah yang egois??? Apakah metodeku masih berlaku di sini? Bagaimana kalau ada yang berargumen secara etis? Mungkin bisa dijawab bahwa ranah “psikolog” tidak mencakup ranah etis??? Lalu, apakah bijak memberi penilaian kepribadian dengan memunggungi secara mutlak hukum, adat, dan etika?
Begitulah, setiap dari kita memang berbakat menjadi “psikolog” (baca: psikolog dalam tanda kutip). Ada banyak pertanyaan yang belum terjawab. Ini sengaja tidak dijawab. Hehe..
Jakarta, 03 Juni 2009
Ikhwan Muslim Nasution
(Alhamdulillah, saya sudah mulai sehat. Yang lebih menggembirakan, saya sudah mulai akrab kembali dengan kipas angin yang saya hidupkan sendiri dan saya nikmati kehadiran aktifnya ini… hehe… )
Diklat = Pengasingan ???
1 JunHari-hari terasa berjalan sangat lambat. Seminggu lebih dua hari di Jakarta demikian lamanya terasa. Aku terkenang pada Medan, kota yang memiliki arti tersendiri bagiku. Biasanya, pada jam-jam seperti ini, aku sudah seperti mendapat semangat baru untuk pergi ke suatu tempat melewatkan sore hari, menjemput malam, dan menikmati bagian paling romantis dari malam. Lain halnya di sini, aku bisa di warnet ini pada jam ini hanya karena pengajar diklat tidak masuk, jadi kami bisa pulang lebih awal.
Ketika menuliskan kata-kata di blog ini, kesehatanku sedang terganggu dengan demam dan batuk. Ingus yang tak putus-putus menyusahkanku. Tadi si Ogi meng-sms-ku untuk kedua dan ketiga kalinya, memberitahu bahwa salah seorang adik kelas di Jurang Mangu meminta kami (aku dan dia) untuk membuat tulisan. Tentang hal ini aku tidak tau pastinya, karena si adik kelas itu sendiri tidak menghubungiku. Andai saja aku cukup segar untuk merangkai ide ke dalam kata-kata…
Ngantuknya bukan main di ruang nyaman diklat ini. Selang seling dua kali coffee break plus waktu ishoma (istirahat, sholat dan makan siang), tidak cukup ampuh untuk membunuh ngantuk. Maka kubawalah “BECOMING CHE” yang kubeli beberapa hari yang lalu di Slipi Jaya dengan diskon gila-gilaan!!!
Jadilah, aku bergerilya mengusir kantuk dengan membaca petualangan Ernesto dengan Calica di belahan selatan benua Amerika. Masa-masa itu adalah masa-masa seorang dokter spesialis lepra yang bernama Ernesto Guevara belum merangkai hari-harinya dalam petualangan gilanya bersama sang Sahabat, Carlos “Calica” Ferrer. Itu cukup untuk membunuh rasa kantukku untuk beberapa saat. Ketika pada akhirnya kami mendapat kepastian pengajar Akuntansi Pajak tidak bisa masuk karena ada dinas di Jurang Mangu, pertahananku benar-benar bobol. Tidur dengan cukup lelap. Yang lain sepertinya ketularan juga. Hehe..
Di sini, aku merasa sangat terisolasi. Jauh lebih payah dari di Jurang Mangu. Hanya ada dua warnet di sini. Satu di depan masjid, satu lagi cukup jauh di dekat Binus. Aku sudah mondar-mandir pada hari Minggu kemarin untuk memposting tiga tulisanku di blog ini, tapi sungguh mengecewakan, warnetnya tutup. Dan sialnya lagi, ketika pada momen ini aku berkesempatan masuk warnet ini, sebuah tulisan menyakitkan harus kubaca dengan perasaan tak menentu, “MAAF PC INI TIDAK ADA TEMPAT USB”.
Apakah diklat ini sama dengan pengasingan yang diformalkan???
Jakarta, 1 Juni 2009
Curhat Anak Magang (10)
20 MarSub judul: Tali Identitas
Aku ingat ketika akhir tahun lalu, di sebuah kamar kos yang tidak begitu luas di lantai dua sebuah bangunan yang memang diperuntukkan untuk disewakan sebagai tempat kos di Jurang Mangu Timur, si Ogi menyambangiku. Sebetulnya aku tidak sendirian di kamar ini. Ada Doli Indra Marito Harahap juga di kamar ini karena memang kami sekos dan sekamar dalam sebulan masa penantian pasca wisuda itu. Kadang-kadang kami berempat. (((Memang kaulah yang terbaik, Dol! Dari SMA hingga Kuliah, kita bersama-sama mengarungi semua ini… Sampai-sampai si Devi menyebutmu selingkuhanku…! Hahahahaha… Peace…!))) Ada si Harnanto dan si Deni Cahyo, dua anak Jawa yang sangat beruntung bisa satu kos dengan kami berdua yang dari Sumatera Utara ini. Maaf, aku sendiri agak kurang ngepas klo dibilang aku ini seorang Batak. Mandailing, sebut saja begitu, kalau ada yang bertanya apa suku-ku? (lagi-lagi, ini soal identitas!) He..he..
Si Ogi, Toufan Sougi Saputro nama lengkap anak Lampung itu, datang dengan wajah cerah, ceria, dan full senyuman. Baru dapat rapelan, katanya. Alamat bakalan makan-makan malam ini. Aku tidak sedang memperhatikan kemeja baru hasil keringatnya ketika dia setengah berteriak mengangkat agak tinggi tali biru (seingatku) bertuliskan, “BPK, Wan! B—P—K ! Mana punya Anak Pajak itu??? Hahaha…”. Senang betul dia. Bahagia betul dia. Ceria betul dia…
Aku masih menghela nafas karena kapan kami mulai “diakui” belum juga ada kabar juntrungannya… Kawan-kawan seperjuangan dari aneka instansi sudah magang. Anak-anak yang penempatan DJP masih kasak-kusuk dengan mainannya masing-masing. Mainan itu bisa berupa: Playstation, Football Manager, Game Online, Friendster, Chatting, Boneka, Novel, Komik, …………., hingga lamunan panjang dan keluh kesah. Membosankan!!!
Beberapa waktu kemudian, mendadak dunia terasa lebih hampa. Sepi. Seperti ditinggal sendiri di pemakaman umum. Doli pergi. Angkat koper. Angkat semua barang2nya. Pindah! Dia pun mulai turut larut dalam dunia kantor. (Sebelumnya, Harnanto dan Deni sudah hilang, entah sudah pulang ke tanah leluhurnya, entah ke rumah calon mertuanya!). Seperti halnya si Ogi, beberapa saat kemudian dia datang lagi ke tempat yang kini mendadak sepi itu. Lagi-lagi, tali name tag yang melilit leher miliknya ditunjukkan padaku. Kali ini bukan miliknya BPK, tapi Direktorat Jenderal Anggaran!!! Hhhhhhhhhhhhhh…
Akhirnya saat itu pun tiba. Good Bye Jakarta! See you next time. Pilihan pertamaku untuk magang di Medan diterima! Senangnya… Tak terlukiskan! (karena aku memang tidak pandai melukis). Ini seperti di film-film saja. “Aku kan pulang. Sambutlah aku…” Lagu-lagu bernada “pulang” sudah kuputar berhari-hari sebelum jadwal kepulangan. Mulai dari lagu Home nya Crish Daughtry hingga Aku Ingin Pulang nya Ebiet G. Ade… Pokoknya pulang!!! He..he..
***********************
Hari-hari berlalu… Minggu-minggu berganti… Bulan berganti… Anak-anak yang penerimaan S1 masuk. Magang bersama kami. Bedanya, mereka sudah mendapatkan tali biru seperti miliknya si Ogi dan si Doli beberapa hari setelah mereka masuk ke Kantor ini. Kami, yang telah melewati angka bulan, seperti dilupakan. Aku ingat, Samuel bilang, “Ah, untuk apa itu? Biar ajalah. Yang penting kan nanti SK nya keluar.”
Tidak ada komentar lagi sesudah itu. Kami pun “melupakannya”. Seperti tidak terjadi apa-apa. Seperti biasa saja. Toch, kami yang dari STAN (yang “dibesarkan” Departemen Keuangan) dan Abang-Abang dan Kakak-Kakak yang dari “luar” STAN (yang “tidak dibesarkan” Departemen Keuangan) sama-sama bekerja di Ruang Berkas. Tentu saja, tidak ada yang berkomentar sinis dalam hal ini. Seperti, misalnya, berkata tanpa budi bahasa, “Ini mungkin gara-gara Kepala Kantornya “anak luar” ni”. Sama sekali tidak ada. Karena, memang kita semua sudah merasa sebagai satu kesatuan. Satu Keluarga. Sama sekali tidak ada istilah “dalam dan luar” di sini. Semua diperlakukan sama!!! Sama kan??? He..he..
Begitulah… Akhirnya, pagi tadi, Bang Udin (Saepudin Zuhri), kakak kelasku di Matauli dan STAN itu, datang ke Seksi Ekstensifikasi. “Wan, belum dapat ini kan? Pakai ya. Nanti ada tamu.”
Tamu apa “Tamu”? Dari Kepala Seksi (Kasi), aku mendapat kepastian. Tamu Agung itu adalah dari KITSDA!!! KITSDA=Kepatuhan Internal dan Sumber Daya Aparatur!!??
***********************
Finally, tali biru itu, tali identitas itu, melingkar juga di leherku. Di leher kami. Tapi, mendadak, aku merasa sudah kehilangan momentumnya. Jadi, begitulah…
Harnanto, Sobat kental semasa kuliahku itu (gimana gak kental coba: 2 tahun satu kos, tahun ketiga tidak sekos lagi tapi sekelas, plus sekos lagi dua minggu lebih sebelum—semasa—dan setelah UKT (Kompre), plus sebulan terakhir di detik-detik terakhir di Jabodetabek pasca Wisuda satu kos lagi) seakan-akan, mendadak sekali, hadir di depanku. Berfilsafat. Tentang Identitas. Tentang Ego. Tentang “Aku” dan “Bukan Aku”. Tentang Hakikat diri. Tentang…
CUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUTTTTTTT!!!
Sudah, Cukup!!! Sekian sajalah dulu… Hhhhhhhhhhh… “Aku merindukan kalian Sobat-Sobatku…Kawan-kawanku…dan orang-orang yang pernah kukenal, meski tanpa tanda pengenal, tanpa tali identitas…”
Medan Polonia, 19 Maret 2009
Ikhwan Muslim Nasution
Curhat Anak Magang (9)
16 MarSub Judul: Cakap Kotor
Orang Medan lebih akrab dengan sebutan “Cakap Kotor” daripada sebutan “Berbicara Kotor” untuk menunjukkan aktivitas seseorang atau beberapa orang yang berkata tidak senonoh. “Cakap Kotor” ini misalnya saja, mengatakan (dengan sensor seperlunya): K*NT*L, P*P*K, H**NG, B*J*NG, P*N*T*T, M*M*K, dll. Anda tentu sudah mafhum, bahwa Cakap Kotor itu bukan menyebut barang-barang Kotor belaka seperti sampah, lumpur, dll. Cakap Kotor adalah menyebut secara verbal kata-kata yang memiliki unsur konotasi negatif dan asusila, unsur kasar, unsur emosional dan unsur hinaan.
Kemarin, sepulang dari Kantor, masih di angkot hijau jurusan Belawan, ada kejadian berkesan yang dialami si Anak Magang. Entah karena kerasukan iblis atau setan atau hantu atau roh jahat, Pak Sopir (Ah, izinkanlah aku menghilangkan kata “Pak” dari si Sopir bajingan ini), si Sopir, bertindak kurang ajar secara verbal. Kalau kemungkinannya karena penumpang sepi, tidak, penumpangnya sangat full. Tapi dia memang kurang ajar secara sadar.
Kata-Kata Kotor meluncur dari mulutnya sepanjang jalan manakala ada hal-hal kecil yang mengusiknya. Yang kudengar secara langsung hanyalah sepanjang perjalanan dari depan Kantor Pos Besar di sisi Merdeka Walk sampai ke Pulo Brayan. Sebetulnya, aku ingin memperpendek “masa-masa sulit” itu dengan turun secepatnya walaupun belum sampai di tujuan. Berhubung mendung demikian gelap dan tanda-tanda bakal turun hujan deras, kuurungkan niatku. Menyesakkan sekali memang!
Hal-hal kecil yang mengusiknya itu antara lain: Lampu Merah, Polisi yang menyeberangkan seorang wanita, Seorang Ibu yang akan jadi penumpangnya yang masih ragu-ragu untuk masuk ke angkot karena si Supir tidak merapat ke tepi (agak di tengah) sementara jalan demikian ramai dengan Kereta (di Medan: Kereta=Sepeda Motor), Sebuah mobil pribadi yang tak sukses disalibnya, kemacetan yang rutin terjadi di jam-jam orang pulang Kantor, dan beberapa hal kecil lainnya. Inilah yang membuatnya kambuh!
Berkali-kali Ibu-Ibu di angkot menyebut nama Allah, nama Tuhan. Istighfar sambil mengelus dada. Hingga kasak-kusuk seperti menggugat secara bisik-bisik: Menggerutu Kesal secara Berjama’ah! Kondisi ini, dalam literatur Ilmu Politik, hanya tinggal menunggu pemicu saja untuk meletusnya sebuah perlawanan dari mereka yang merasa terdhzalimi. Lambat laun suara-suara sindiran dari Ibu-Ibu (dan Bapak-Bapak yang sedari tadi hanya duduk Diam) mengeras. Massa sudah mulai menggugat.
Si Supir emang keras kepala. Tetap keukeuh berlaku dhzalim secara verbal. Dia tidak merasa canggung mengeraskan suaranya yang dengan lantang memaki-maki (entah siapa, yang jelas tatapannya masih ke depan). Kali ini kosakata yang dipilihnya adalah alat kelamin wanita setelah sebelumnya puas menyebut alat kelamin pria dan kata-kata kotor lainnya.
Suara Ibu-Ibu makin keras. Di depan Jembatan Layang Pulo Brayan kian jelas. Jalanan demikian ramai. Sesaat setelah kami melintas di bawah jembatan layang tersebut, mesin angkot hijau jurusan Belawan itu mendadak mati. Di tengah jalan! Para pedagang asongan dengan ikhlas dan tanpa komando bergegas membantu mendorong dari belakang. Itu pun, dia malah marah-marah berteriak, “tunggu, tunggu, sabar, ****** (kata-kata kotor)”. Mobil pun dipinggirkan secara paksa karena mengganggu kenderaan yang lain. Dicoba ditarter-nya lagi. Hidup…Langsung Mati. Dicobanya lagi… Gak bisa lagi.
Tanpa komando, si Ibu berkerudung yang duduk persis di sisi pintu, yang tadi berkali-kali menyebut asma Allah sambil mengelus dada (si Ibu yang entah diketahuinya entah tidak bahwa sebelum dia masuk ke angkot hijau jurusan Belawan ini telah dimaki-maki si Supir), mengawali perlawanan tanpa suara dan bentrokan. Dia keluar. Tanpa permisi. Tanpa bayar. Tanpa menoleh ke si Supir yang masih sibuk mengutak-atik lubang kunci starter sambil Cakap Kotor! Aku girang bukan kepalang. Ya, harus begitu! Lawan! Aku, yang duduk agak di sudut belakang, mengikutinya sebagai yang kedua. Berlalu tanpa sapaan, tanpa basa-basi, tanpa bayar, tanpa menoleh. Yang lain pun turut! Angkot hijau jurusan Belawan itu pun: KOSONG! Si Supir masih terus mengutuki angkotnya. Sekilas kulirik ke arahnya, dia tengah sibuk menendang-nendang angkot hijau yang kini tak berkutik itu.
Seakan merayakan kelegaan yang sangat, beberapa penumpang “menyumpahi si Supir”. Tidak dengan kata-kata Kotor. Tapi mereka menyebut, “Begitulah akibatnya kalau berlaku tidak baik terhadap penumpang! Rasakanlah!”.
*************************
Pagi tadi, di belakang kantor, di depan pintu belakang dekat WC, saya menemukan kasus serupa. Lagi ada perbaikan di kantor ini. Para pekerja bangunan biasanya menggunakan pintu belakang kalau mau keluar masuk kantor. Kalau ada barang-barang dan bahan-bahan berat yang hendak diangkut ke atas, barulah mereka menggunakan pintu depan via lift.
Entahlah ya, yang kusaksikan pakaian mereka sama lusuhnya (bukan mau mengejek!). Tapi kelakuan yang satu sangat berbeda dengan kelakuan yang kedua. Yang satu sangat arogan dan sangat suka membentak-bentak yang kedua. Kata-kata kotor dan makian kerap terdengar menggema di ruang belakang dekat WC itu. Aku masih di sana dengan sebatang rokok mild yang makin buntung. Sama sekali tidak ada rasa segan pada orang yang satu itu. Tidak berpikir apa jadinya kalau misalnya saya melaporkannya ke pihak Kantor atau bagaimana-bagaimana.
Luar Biasa!!! Orang-orang kian terbiasa dengan kata-kata kotor seperti itu. Merasa nyaman dengan kata-kata itu. Dan menjadi bahasa “resmi” yang lazim digunakan dalam keseharian.
Memang, tidak ada ketentuan dalam dalil naqli dan aqli kita bahwa orang yang kerap bercakap kotor akan ditimpa kemalangan seperti mesin mobilnya mendadak rusak, atau bakalan kecelakaan karena telah Cakap Kotor, atau mulutnya berubah menjadi mulut binatang, atau hal-hal mistik lainnya. Ini hanya soal identitas social seseorang yang kian buram di sisa usianya. Entah ya, besok hal-hal semacam ini masih akan disebut “buram” di tengah globalisasi status social. Bisa jadi, esok lusa hal ini akan dilumrahkan orang banyak. Bisa jadi…
Tapi yang jelas, Orang-Orang Tua sejak masa lampau telah mengingatkan anak-anaknya akan hakikat sebuah falsafah adat:
“Pantun Hangoluan,
Teas Hamatean”
Yang sekira-kira artinya:
“Santun (berkata dan bertingkah laku) adalah jalan kehidupan,
Berbuat remeh (berkata dan bertingkah laku terhadap orang lain) adalah jalan kematian”
Wallohu a’lam…
Medan, Maret 2009
Ikhwan Muslim Nasution
Curhat Anak Magang (8)
5 MarEntahlah, ya. Mungkin karena terlampau sering “digantung”, rasa sentimentil kadung mendarah daging pada sebahagian besar anak magang. Info yang simpang siur tak tentu sumber dan validitasnya, layaknya layangan ramai yang putus di awan mendung sana.
Begitu juga ketika dikabarkan, “Uang Tunggu Akan Cair”. Nada-nada skeptis dengan penekanan yang sentimentil meluncur secara refleks tanpa basa-basi. Sebuah reaksi yang sempurna dari kegeraman yang memuncak!
Tapi, bagaimana lagi. Merasa “ter-teror” oleh sms-sms yang isinya bernada skeptis dengan tanda seru yang ramai dari kawan-kawan seangkatan seperjuangan, kutanggapi juga sms tersebut dengan kata: “Ya, semoga saja secepatnya!!!!!”
Tak tahan dengan “teror pemberitaan”, kuputuskan juga untuk bergerak. Adalah keteledoranku juga sebetulnya tidak mengaktifkan sms banking-ku. Terpaksa lah kususuri pelan-pelan jalanan Diponegoro yang selalu ramai di jam-jam seperti ini. Tujuanku bulat: mesin ATM di Komplek Kantor Gubernur Sumatera Utara! Karena memang inilah yang terdekat.
Ada perayaan Ulang Tahun Satpol PP di sana. Ramai. Papan bunga tampak tak rapi di komplek Gubsu ini. Nama-nama pejabat tampak jelas di papan bunga itu: sebentuk ketidakpopuleran sikap pejabat di mataku. Uang sebanyak itu dihambur-hamburkan hanya untuk sebuah pesan sederhana: “Selamat dan Sukses atas Ultah Polisi Pamong Praja yang Ke..”. Ataukah–di mata para Pejabat ini (ada Bupati, Kepala Kantor, dan Pejabat lainnya)–ada “pesan khusus” di balik ramainya papan bunga yang tersusun tak rapi itu??? Yang jelas, kita tidak berharap ada aktivitas “riya” yang tidak populer di sini: Karena bagaimana pun uang ini uang rakyat! Kalau pun mereka mengelak bahwa uang itu dari kocek pribadi, alangkah dangkalnya kepekaan sosial para pejabat itu!!! Ada dalam deretan itu nama Bupati daerah X. Anda tau, masyarakat di daerahnya itu masih sangat butuh “sentuhan sosial” dari Jiwa pemimpinnya!!!
Ahhhhhhhhh… Kok jadi begini???
Cuuuuuuuuuuutttttttttttttt
Fokuuuuuuuuuuuus!!!!!!!
Kumasukkanlah kartuku ke mesin ATM itu. Dan.. What???
Alhamdulillahi robbil ‘aalamiiin…
“….mulai detik ini, kita harus sudah bisa Mandiri (Makan Pakai Uang Sendiri)….”, bagian dari sms yang kukirim pada orang-orang yang “menerorku” tadi malam…
Finally…
Belajar MANDIRI (MAkan pakai uang seNDIRI)….
Curhat Anak Magang (7)
5 MarTadi buka web-nya anak2 Pajak STAN (yg penempatan di DJP). Ada sedikit kabar baik. Tapi, sungguh! Aku tidak akan merayakannya dengan tarikan-henbusan nafas lega sebelum hal itu menjadi nyata!
Jadi, ini masih sebatas: KONON belaka! Konon, uang tunggu yang sudah ditunggu-tunggu anak-anak magang DJP di deretan lusuh ruang tunggu tanpa bangku (?), AKAN cair dalam minggu ini! Konon…
Apakah itu berarti kerja bakti, kerja rodi, kerja gotong royong, (entah apa lagi sebutan khasnya, nama lain dari aktivitas magang, bagi anak2 magang DJP), akan berakhir? Tentu saja BELUM!!!
Ujung jalan yang saat ini kita lalui masih samar-samar, Kawan… Belum kelihatan! Entah kabut gelap apa yang mengaburkan pandangan ini. Yang jelas, bukan kabut frustasi dan keluhan panjang yang memilukan, bukan? Aku yakin seyakin-yakinnya: KITA MASIH KUAT! **He..he..
**
—————***********
Sejujurnyalah, ada “perasaan tersendiri” melihat “rekan2 penerimaan S1″ yang kini tengah “menikmati” DTSD I di lantai atas GKN 2 ini. Mereka terlihat sangat bersemangat menempuh diklat itu. Sementara beberapa magangers STAN (beberapa, tidak semua!), sudah mulai kuyu: tapi masih tetap semangat kok! **He..he..
**
Seperti apa bentuknya “perasaan tersendiri” itu, hanya aku (mungkin jugakah “kami”?) dan Tuhan yang tau… **He..he..
**
—————************—————–
Eh, tadi kami dapat tambahan amunisi nich. Mereka sangat beruntung bisa bergabung dengan squad kami ini. **He..he..
**
Merekalah: Anak-Anak Magang dari DIII Perpajakan Universitas Sumatera Utara (USU)! Mereka tampak gagah-gagah, rapi-rapi, dan sangat bersemangat! (Kita lihat aja besok dan seterusnya hingga dua bulan masa PKL mereka berakhir: masih kah akan seperti hari pertama ini tampang-tampangnya? **He..he..
** ).
Segitu dulu dah…
Curhat Anak Magang (6)
5 MarTidak melulu hari itu mendung. Tidak melulu juga hari itu panas. Tidak melulu…
Magang, idealnya, adalah ajang yang paling pas buat calon pegawai baru berkenalan mengakrabkan diri dengan dunia barunya seraya belajar bekerja. Perlu dicermati di sini, “belajar bekerja” adalah sebuah kegiatan, “bekerja”, tapi dalam kadar dan proporsi yang berbeda dengan “bekerja” dalam arti kata yang sesungguhnya.
Idealnya begitu. Prakteknya melenceng jauh. Anak-anak magang, calon pegawai, kerap diperlakukan sama dengan para pegawai hanya dalam hal bobot dan proporsi kerja. Di atas hujjah “learning by doing”, Anak-Anak Magang dikondisikan sedemikian rupa sehingga mereka memang harus “Doing” apa pun yang “diarahkan” (disuruh???) oleh para “Mentor Pengasuhnya” (seniornya???). Sehingga, dalam kondisi ini, prinsip dasar yang terlanjur dijadikan hujjah tersebut berubah lah sudah menjadi (secara de facto): “Just Doing!!!”
Tapi…
Magang tidak lah “semengerikan” itu. Kembali ke soal mendasar: tergantung manusianya. Kalau “seniornya” adalah manusia-manusia yang berkemanusiaan, Anda sangat beruntung: Magang itu menyenangkan! Sueeeeerrrrrr! ![]()
Dan sebaliknya!
Yaa..
Tidak melulu hari itu mendung. Tidak melulu juga hari itu panas. Tidak melulu…
He..he..
Medan Polonia, 25 Februari 2009
Ikhwan Muslim Nasution
Curhat Anak Magang (5)
5 MarSimpel saja. Ketika ada anak manusia yang terlanjur merasa dirinya adalah yang terbaik, adalah yang terhebat, adalah yang paling berkuasa, adalah yang paling berhak, adalah yang paling berkepentingan, adalah yang paling harus diutamakan, maka selesailah sudah perbincangan yang manusiawi antara dirinya dengan manusia lainnya.
Tampang-tampang otoriter, arogan, dan sok yang kerap muncul dalam catatan sejarah panjang dunia sejak tempo doeloe hingga detik ini lahir dari fondasi simpel tersebut. Tak mengherankan, ada pemimpin dunia yang otoriter dan arogan. Yang paling menjengkelkan, tentu saja, ada manusia yang sebetulnya posisinya masih “anak buah” ikut-ikutan sok otoriter dan arogan terhadap sesamanya hanya karena dirinya merasa lebih berhak, lebih harus diutamakan dan lebih penting dibandingkan orang lain yang kurang atau tidak berhak dimatanya. Tak penting sikap ini ditampilkan di depan atau di belakang pemimpinnya yang tidak otoriter dan arogan sama sekali.
Sebut saja perangai seorang perempuan (sengaja tidak menggunakan kata wanita) yang menurut informasi yang kuperoleh bertindak sangat arogan, sok, dan tidak tau diri di salah satu kantor pemerintah di kota Z. Ini tentu sesuatu yang memuakkan di tengah-tengah tugas berat mengemban beban kerja yang teramat sangat banyak. Kehadiran perempuan seperti ini ibarat baksil virus yang meggerogoti sendi-sendi keharmonisan di kantor tersebut. Tidak ada persoalan gender di sini. hanya kebetulan si oknum ini memang berkelamin perempuan (bukan wanita)!!!
Satu doa ringkas kepada Allah swt adalah:
‘Semoga Engkau berkenan menunjukinya ke jalan yang benar. Aaaamiiiin…”
Medan, 20 Februari 2009
Ikhwan Muslim Nasution

