Arsip | CATATAN PERJALANAN RSS feed for this section

Tor Siojo II

10 Apr

Dengan meminjam sisa-sisa selimut yang luput dari jangkauan para pesohor, ia mengarungi malam. Hingga beberapa saat di pagi hari, sebelum matahari dengan perlahan menarik selimutnya.

Pagi hari di Mandailing Julu, Kotanopan sekitarnya, memiliki kenyamanan natural dalam pengawalan alam. Sebelah utara dipagari Bukit Barisan yang berderet rapat, nun di Timur ada Gunung Kulabu dan rangkaian bukit yang anggun di perbatasan Sumatera Utara – Sumatera Barat. Nun di arah Barat menjulang gunung Sorik Marapi yang tampak gagah memamerkan asapnya. Arah Selatan, terdapat hutan bukit, “Tor Siojo”.

tor siojo I

10 Apr

Tak semenjulang Sorik Marapi yang gagah, tak sepanjang deret Bukit Barisan yang kokoh. Pun, tak seelok Gunung Kulabu yang aggun. Ia tampak kerdil, tak ubahnya liliput rendah diri yang meringkuk sangsi akan ke-eksis-an dirinya. Ia pucat pasi, menahankan pantulan para pesohor yang mengepungnya. Namanya asing, bahkan oleh dirinya sendiri.

Mie Par-Par, Mie Tek-Tek

10 Apr

Saya dan isteri sependapat, bahwa ketika pertama kali kami mencicipi “mie parpar” di Rantauprapat, Labuhan Batu, kenangan pada “mie tek-tek” yang ada di Pandan, Tapanuli Tengah, menyeruak. Rasanya mirip-mirip. Proses membuatnya tampak mirip-mirip. Kesederhanaan penyajiannya pun mirip-mirip.

 

Aku merindukan mencicipi kembali “mie tek-tek” yang di Pandan itu. Meski aku yakin betul, “rasanya” tak kan pernah sama lagi. Terakhir kali makan “mie tek-tek” adalah setamat dari Jurangmangu Timur, menjelang pemberkasan CPNS, bersama Doli Indra Marito Harahap. Aku pesan dua porsi waktu itu: seporsi “mie tek-tek” goreng, seporsi yang berkuah. Rasanya, menurutku, sedikit berubah.

 

Entahlah, apakah rasanya betul-betul tak sama lagi. Ataukah, suasana saat menyantapnya telah berubah. Dalam rentang tahun-tahun yang berjalan, banyak hal yang telah berubah. Banyak hal-hal di masa lalu yang dirindukan, menarik diri ‘tuk menyambanginya dalam lintasan kenangan. Beberapa hal dari masa kini, seakan jelmaan yang diutus masa lalu tuk sekedar menyapa kita.

 

Kerinduan pada “mie tek-tek”, bisa jadi, adalah sebentuk kerinduan pada suasana masa lalu: “masa-masa di sekolah.”

 

 

 

.:semacam kado ulang tahun untuk Doli Indra Marito Harahap:.

Kisaran, 11 Oktober 2011

IKHWAN MUSLIM NASUTION

Jejak Semut IV

25 Agu

Aku sempat baca status facebook seorang Ustad beberapa waktu lalu. Kira-kira demikian statusnya: “berbukalah dengan yang manis. (HR. Sosro). Hadis teramat sangat palsu!”. Hehehe… Tentu saja maksud sang Ustad hendak meluruskan persepsi ummat, bahwa tuntunan berbuka puasa yang sesuai as-sunnah tidak demikian. Tapi ada urut-urutan keutamaannya. Seperti berbuka dengan kurma, kalau tidak ada dengan buah yang manis yang matang di pokoknya, atau dengan segelas susu murni, atau susu putih, atau air putih. Tentu saja tak ada ulama yang mengharamkan berbuka dengan pecal, bakso, bakwan, soft drink, minuman kemasan, dan lain-lain. Mubah-mubah saja.

Aku kerap minum es plus buah ramadhan ini, sehabis berbuka. Es kelapa favoritku. Ada juga es buah campur aduk, entah ini rujak manis plus air dingin. Ada pula es kelengkeng. Dan ada es teler.
Kadang, sehabis minum es tersebut satu porsi, aku shalat maghrib dulu. Dan, jujur saja, ini bukan anjuran atau semacam pamer tapi lebih pada hajat buruk yang tak boleh dicontoh Karim kelak, aku merasa harus merokok dulu setelah porsi pertama itu.

Nah, sewaktu aku shalat maghrib itu, semut-semut hitam kecil, telah pawai di dekat es-ku. Seperti kemarin, aku lupa menutupnya, jadilah satu porsi itu dikerubuti semut. Ah, jangan tanya soal kulkas, semua perabotan telah diangkut ke Rantauprapat. Yang tersisa disini, perlengkapan ala anak kos lajang saja. Hehehe…

Tapi iya, ramadhan minggu pertama, ketika bersama Karim dan Mama Karim, rasanya jauh lebih indah dan lebih mudah. Tapi ya, memang masih demikianlah adanya. Jadi, Bapak-bapak sekalian, kapan saya dimutasikan ke Rantauprapat? :)

Kisaran, 11 Agustus 2011
Ikhwan Muslim Nasution
(AR 2 – W 3 – 115 yang berhasrat dimutasikan ke Rantauprapat, mana tau ada orang Kanwil yg baca. Hehehe… )

Veteran

25 Agu

Kau, tampak terduduk di tempat itu, hari itu. Kucoba tebak, pandangmu terfokus ke sela-sela ilalang yang menyemak, ataukah menerawang menembus segala kesimpangsiuran beberapa masa ke depan? Antara dua itu, kucoba tebak, gagal. Akhirnya aku coba hal yang sama: menatap ke depan, sepertimu. Tampak ilalang yang menyemak. Yang tak tampak, aduhai ragamnya.

Di hari lain, kudapati kau berjalan menyusuri lorong-lorong, seorang diri, dengan ekspresi yang lagi-lagi sukar kutebak. Entahlah, kau tak tampak tergesa-gesa. Pandanganmu sesekali lurus ke muka, menyamping, tapi lebih banyak menyapu lantai. Entah apa gerangan yang kau pikirkan saat itu. Tentu saja, aku tak tau. Lamat-lamat kupandangi juga lantai itu, sepertimu. Jejak sepatumu pun tak begitu jelas.

Sekali waktu, ada keramaian di gedung besar. Malam-malam. Amat jarang hal seperti ini terjadi. Muda-mudi hilir mudik di lorong-lorong temaram. Dari berbagai kumpulan di berbagai sudut, terdengar suara-suara gurauan mereka. Kukitari komplek gedung besar itu, dari pos satpam, taman-taman, kolam, jalanan setapak, bangunan, lorong-lorong, lapangan depan, juga lapangan rumput di belakang. Rupanya, keramaian itu berpusat di lapangan rumput. Dari sanalah keramaian berserabut ke berbagai sisi. Di dini hari yang dingin itu, kudapati kau di salah satu bangunan gedung, dengan raut wajah lelah. Hingga kau terlelap di deretan kursi dan meja yang tersusun, aku hanya termangu, disitu, dari beberapa jarak yang terasing.

Hanya karena kegigihanku membayangimu, aku merasa akrab denganmu; merasa dekat, dalam jarak nisbi yang asing. Bukan sebagai paparazzi atau secret agent, aku hanya mengamatimu tanpa mengusikmu. Betapa jarak nisbi yang asing itu adalah jarak teraman.

Adapun hal-hal di luar itu, adalah hal-hal di luar prosedur standar yang rumit diuraikan. Seperti “pertemuan terbaik” kita pada suatu siang yang hening mencekam itu, kita saling bertutur kata, meski akhirnya diam-diam kau pergi meninggalkanku…

Terus terang, aku lebih suka memandangimu dalam sendirimu, ketika ekspresi naturalmu (menurutku) tampak, ketimbang aneka ekspresi yang kau pertontonkan kepada khalayak. Ekspresi yang meng-khalayak itu, ekspresi standar, yang orang banyak pun dengan mudah mendapatkannya darimu. Ya, hanya beberapa hal saja dari ekspresi natural-mu yang kusaksikan. Sayang sekali.

Ah, sesore ini, aku mengenangmu.

Kisaran, 22 Agustus 2011
Ikhwan Muslim Nasution

.: MENJADI LAWAS :.

10 Agu

SETAHUN AKN II

10 Agu

Ayahku seorang saja yang sangat yakin, dari awal kehamilan itu kami kabarkan, janin yang dikandung menantunya itu laki-laki. Dokter spesialis dengan alat USG nya pun lebih condong keyakinannya kalau janin itu perempuan. Meski dengan nada bicara hati-hati ia tetap membuka kemungkinan laki-laki. Alasannya sama saja, alat kelaminnya tak nampak di USG.

Bagi kaum bermarga merangkap patrineal, laki-laki merupakan penerus marga. Tak terkecuali dalam keluargaku. Tak bisa kuhindari maksud kedua orang tuaku “menyusun” empat perempuan di bawahku sebelum si Ahmad Muttaqin Nasution dan kembarannya, Siti Aisah Nasution, lahir. Waktu itu aku berpikir sederhana dalam suasana kalut: Aisah telah “mengalah” kepada kembarannya, karena kehadiran kembarannya lebih ditunggu-tunggu. Beruntunglah Aisah yang meninggal di hari lahirnya, ia tetap suci menantikan keabadian surga-Nya.

Saat kelahiran anakku, sejujurnya aku berada dalam posisi “nyaris” netral. Nyaris, karena harapanku agar anak pertama ini laki-laki masih ada, kendati terhimpit oleh doa yang lebih besar: “selamatkan isteri dan anakku ini, yâ Allâh…”. Lihatlah, betapa doa keselamatan lebih diutamakan daripada doa jenis kelamin!

Dalam detik-detik penantian, saat isteriku di ruang operasi, aku tak bisa jelaskan kecamuk di dada. Ayahku yang hadir belakangan, menangkap gelagat itu. Ayah memaksaku untuk makan malam dulu. Tentu saja tak bisa kutolak.

Sekembali dari makan, aku diberitahu bahwa sudah terdengar jerit tangis bayi dari ruang operasi. Aku bergegas ke kamar mandi, dengan niat: menyambut sang anak yang suci dalam keadaan suci. Sekembalinya, tampaklah Ayah telah menggendong cucu pertamanya seraya meng-adzan-kan, mendoakan, dan memberinya nama: Abdul Karim Nasution. Nama yang teramat sangat kental dalam garis keturunan kami. Interupsi dan bujukanku untuk memberi modifikasi nama tertolak.

Mungkin inilah, buah keyakinan yang kuat dari Ayah, bahwa janin itu laki-laki, dan akan mewarisi namanya dan nama kakeknya. Alhamdulillâh, Abdul Karim Nasution bin Ikhwan Muslim Nasution bin Liannaili Abdul Karim Nasution bin Ikhwan Mansur Nasution bin Abdul Karim Nasution kini telah berumur setahun.

Semoga Karim menjadi anak yang sholeh, sehat, cerdas, dan senantiasa dalam lindungan Allôhu subhânahu wa ta’âlâ. Âmîn yâ Allôhu yâ Karîm…

Rantauprapat, 07 Agustus 2011
Ikhwan Muslim Nasution

SETAHUN AKN I

10 Agu

Waktu itu hari Sabtu, pada hari-hari yang dirasa tak mudah menjalaninya oleh isteriku. Di sebuah pusat perbelanjaan di Medan, kami berjalan-jalan. Dalam usia kehamilan 8 bulan, ia memang tak juga bisa membiasakan diri untuk tak keluar rumah seperti hari itu. Sejujurnya, aku pun salut juga pada kondisi ketahanan fisiknya waktu itu: hamil tua seraya menjalani perkuliahan. Sebuah boneka berwarna hijau kuning, menjadi pertinggal saat-saat itu.

 

Oh ya, aku juga tak bisa lupa akan satu momen: ketika usia kehamilannya memasuki usia yang—kalau tak khilaf—ke lima bulan, kami naik kereta api ekonomi dari Kisaran ke Medan. Momen ini menjadi istimewa bagiku karena waktu itu isteriku tengah hamil, kami naik kereta api kelas ekonomi, dan kami duduk tegang di lantai gerbong barang yang juga penuh sesak.

 

Seperti kebiasaan yang rutin waktu itu, aku akan berangkat pada hari Minggu malam dari Medan ke Kisaran. Di pagi hari di Minggu bersejarah itu, aku, isteri, dan adik perempuanku yang kini berkuliah di USU, berjalan pagi mengitari Jalan Pembangunan USU hingga pintu IV USU.  Selepas itu kami sarapan. Lalu kembali ke kos-kosan di Jalan Pembangunan. Kami mengistirahatkan diri di pagi hari itu.

 

Terjaga dari tidurnya, isteriku seperti terkejut, mendapati pakaian dan tempat tidur telah lembab. Kian lama kian basah. Firasat pun jadi tak enak. Kami memutuskan pergi ke tempat bidan K.G. . Sesampai di sana, Ibu bidan itu tak di tempat, sedang berbelanja ke “pajak”, menurut penuturan suaminya. Sekitar satu jam lebih kemudian, Buk bidan itu pun muncul. Tampak keterkejutan di raut mukanya, sebenar-benar keterkejutan. Akhirnya kami dirujuk ke rumah sakit yang tak bisa dibilang jauh dari tempat praktik bidan itu.

 

Itulah awal dari perasaan tegang menyelimuti kami, pasangan muda yang baru 8 bulan sekian hari berumahtangga, dihadapkan pada suatu perstiwa sepenting itu: di perantauan, jauh dari keluarga besar kami.

 

….

 

Kisaran, 01 Agustus 2011

Ikhwan Muslim Nasution

Alur Hidup

10 Agu

Di antara alunan nyanyian kawanan kodok selepas hujan malam mengguyur kota ini, aku masih terjaga. Memandangi isteri dan anak semata wayangku yang telah terlelap. Hidup memang bukan untuk dikeluhkan, tapi tak pula untuk tak dikesahkan. Jarak sedekat ini adalah jarak sementara, seperti jarak Kisaran – Rantauprapat pun jarak sementara; sesementara dunia fana ini.

Lalu apa, kalau bukan karena bentangan sekian pertimbangan. Ini jalan harus dilalui. Soal berdesak-desakan di gerbong kereta, atau bersempit-sempitan di bus tanggung yang mengangkutku saban minggu, itu adalah sisi lain dari tantangan menjalani lakon hidup.

Kesusahan dan kesenangan itu kan sebetulnya sederhana saja. Yang kompleks itu penyikapan kita. Temanya sama, alurnya yang berbeda-beda. Kalau kesusahan itu misalkan jarak, maka kesenangan itu pun juga jarak; cuma ukur-ukurannya yang beda.

Tapi iya, dalam alur itulah manusia menafsirkan arahnya. Sebagian memilih alur instan yang melenakan. Yang lain mendaki tebing terjal dan jalan berdebu. Tak melulu soal prinsip, tapi lebih kepada taqlid-nya.

Rantauprapat, 17 Juli 2011
Ikhwan Muslim Nasution

S U B U R

10 Agu

Perjalananku minggu ini lumayan panjang, beratus-ratus kilometer jalan aspal telah kulewati. Meliputi kurang lebih 7 daerah tingkat dua. Entah berapa puluh kecamatan dan berapa ratus desa.

Tapi ini bukan tentang data statistik perjalananku. Ini lebih kepada ketakjuban yang melingkupiku dari apa yang kusaksikan dalam perjalanan ini.

Tanah di negeri ini memang tanah yang subur. Bukan cuma “Orang Bilang”, tapi faktanya memang demikian. Tapi aku tak ikutan memakai majaz yang keterlaluan dengan menyebutnya tanah surga.

Kelapa sawit tumbuh subur di provinsi ini. Kabupaten Labuhan Batu, Labuhan Batu Utara (juga Labuhan Batu Selatan yang tak termasuk wilayah yang kujalani minggu ini), Asahan, Batubara dan Simalungun merupakan sentra kebun sawit yang luas. Begitupun dengan Karet, tumbuh subur di wilayah ini.

Korporasi-korporasi besar mendominasi perkebunan sawit dan karet. Manajemen kebunnya bagus.

Di Sidamanik terdapat Kebun teh yang luas. Tanah Karo terkenal dengan tanaman holtikultura-nya. Ada juga kebun kopi, jeruk, durian, dll., yang dikelola rakyat.

Belum lagi kita bicara hasil laut dan perikanan tawarnya. Melimpah. Alhamdulillah, waktu berkunjung ke rumah kerabat dari pihak isteri nun disana di Labuhan Bilik, telah kucicipi Udang dan Kepiting terbesar yang pernah kulihat.

Ternak Lembu dan Kambing banyak terdapat di Labuhan Batu, Labuhan Batu Utara, Asahan, Batubara, dll.

Inilah yang kutakjubkan. Sesungguhnyalah, negeri ini negeri yang subur. Sebenarnyalah, negeri ini negeri yang kaya. Dengan kekayaan potensi itu, kita semestinya hidup makmur. Tapi kita pun sadar, seberapa hebat pun potensinya tanpa visi, misi, dan arahan manajemen yang tepat, potensi itu akan tercecer seperti jamur di musim hujan yang layu di musim kemarau.

Sebentar, tanah subur seluas itu, apakah masih tanah kita?!

Berastagi, 13 Juli 2011
Ikhwan Muslim Nasution

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.