Kau, tampak terduduk di tempat itu, hari itu. Kucoba tebak, pandangmu terfokus ke sela-sela ilalang yang menyemak, ataukah menerawang menembus segala kesimpangsiuran beberapa masa ke depan? Antara dua itu, kucoba tebak, gagal. Akhirnya aku coba hal yang sama: menatap ke depan, sepertimu. Tampak ilalang yang menyemak. Yang tak tampak, aduhai ragamnya.
Di hari lain, kudapati kau berjalan menyusuri lorong-lorong, seorang diri, dengan ekspresi yang lagi-lagi sukar kutebak. Entahlah, kau tak tampak tergesa-gesa. Pandanganmu sesekali lurus ke muka, menyamping, tapi lebih banyak menyapu lantai. Entah apa gerangan yang kau pikirkan saat itu. Tentu saja, aku tak tau. Lamat-lamat kupandangi juga lantai itu, sepertimu. Jejak sepatumu pun tak begitu jelas.
Sekali waktu, ada keramaian di gedung besar. Malam-malam. Amat jarang hal seperti ini terjadi. Muda-mudi hilir mudik di lorong-lorong temaram. Dari berbagai kumpulan di berbagai sudut, terdengar suara-suara gurauan mereka. Kukitari komplek gedung besar itu, dari pos satpam, taman-taman, kolam, jalanan setapak, bangunan, lorong-lorong, lapangan depan, juga lapangan rumput di belakang. Rupanya, keramaian itu berpusat di lapangan rumput. Dari sanalah keramaian berserabut ke berbagai sisi. Di dini hari yang dingin itu, kudapati kau di salah satu bangunan gedung, dengan raut wajah lelah. Hingga kau terlelap di deretan kursi dan meja yang tersusun, aku hanya termangu, disitu, dari beberapa jarak yang terasing.
Hanya karena kegigihanku membayangimu, aku merasa akrab denganmu; merasa dekat, dalam jarak nisbi yang asing. Bukan sebagai paparazzi atau secret agent, aku hanya mengamatimu tanpa mengusikmu. Betapa jarak nisbi yang asing itu adalah jarak teraman.
Adapun hal-hal di luar itu, adalah hal-hal di luar prosedur standar yang rumit diuraikan. Seperti “pertemuan terbaik” kita pada suatu siang yang hening mencekam itu, kita saling bertutur kata, meski akhirnya diam-diam kau pergi meninggalkanku…
Terus terang, aku lebih suka memandangimu dalam sendirimu, ketika ekspresi naturalmu (menurutku) tampak, ketimbang aneka ekspresi yang kau pertontonkan kepada khalayak. Ekspresi yang meng-khalayak itu, ekspresi standar, yang orang banyak pun dengan mudah mendapatkannya darimu. Ya, hanya beberapa hal saja dari ekspresi natural-mu yang kusaksikan. Sayang sekali.
Ah, sesore ini, aku mengenangmu.
Kisaran, 22 Agustus 2011
Ikhwan Muslim Nasution
Like this:
Be the first to like this post.