.: VOC dan sekutunya menyambangi negeri ini. Pada awalnya tak lebih dari semacam proposal bisnis yang tampak-tampaknya saling menguntungkan. Menguntungkan bagi kompeni, menggairahkan roda ekonomi dalam negeri bagi pribumi: simbiosis mutualisme. Dalam perjalanan sejarah, kita dipahamkan, pihak kompeni (VOC & sekutunya) telah menjarah segala hal dari negeri ini: kekayaan pribadi, kekayaan alam, kebebasan hidup, dan martabat. Sikap parasit kompeni dan sekutunya melahirkan revolusi kemerdekaan. Antek kompeni dicap pengkhianat oleh pejuang revolusi. Penentang kompeni dicap pemberontak (teroris). Sejarah kembali memahamkan kita, kompeni terusir dengan cara paling memalukan yang tak terbayangkan oleh mereka sebelumnya.
.: Negeri ini merdeka. Segala yang terampas dicoba dicicil kembali. Anak-anak bangsa bergiat diri membangun peradabannya. Tapi tetap saja, parasit tetaplah parasit. Dengan modus berbeda, roh-roh kompeni masa lalu menemukan jalannya. Dan selalu ada, antek-antek yang melayaninya. Modusnya berbeda, motifnya sama: eksploitasi tanpa keadilan sosial. Atas nama bangsa, negeri ini diproklamasikan. Atas nama bangsa pula, negeri ini digadaikan? Sebab parasit itu merdeka, tunas bangsa berguguran.
Rantauprapat, 17 Agustus 2011
Ikhwan Muslim Nasution
Tag:kapitalisme, kemerdekaan, kompeni, Liberalisme, multi nasional, parasit merdeka, revolusi kemerdekaan, voc

