Mencari Kedamaian Batin

9 Nov

*********
*********
*********

Hanya aku sendiri di sini. Melalui detik-detik di bawah teduh atap kamar dari sengatan bisa dunia. Suara-suara yang hilir mudik di jalanan berdebu sana, tak sampai menembus dinding kaku kamarku. Umpatan dan makian dari majelis pengumpat dan pemaki, juga tak hinggap barang sekejap sepotong muqoddimah-nya pun ke sini. Aku disini, sendiri memaknai waktu. Dengan caraku, juga gayaku.

Hanya suara-suara yang terekam dalam memori sadarku, antara yang nyata dan imaji, sambar menyambar. Debat-debat pemikiran yang sungguh melelahkan itu. Bantah-bantahan yang tak kunjung usai itu. Genderang perang yang bertalu-talu itu. Sangkakala pemangkal sabung nyawa. Denting pedang beradu. Desing peluru yang menyelasar. Dentum mortir sahut menyahut. Raungan sirene ambulance. Isak tangis tertahan. Rintih pilu mengaduh. Jerit histeris meregang nyawa. Laki-laki. Perempuan. Yang tua. Yang muda. Yang bayi. Semuanya sayup-sayup di bawah dominasi suara kipas angin yang kubeli dari toko kecil di bilangan Tjokroaminoto.

Diiringi visualisasi kejadian-kejadian, antara fakta dan imaji. Potret kaku, juga video berantai. Buram dan Baru, susul menyusul. Sorban dan jenggot yang khas. Ruangan masjid yang nyaman, dengan Kursi dan AC yang nyaman pula. Kitab-kitab yang khas. Jama’ah yang berkerumun takzim. Seragam militer lengkap. Tank tempur. Pesawat pengintai. Pembom. Granat. Bangkai manusia disantap anjing. Organ tubuh yang berceceran. Perang. Darah. Air mata. Mayat. Bendera. Dan seterusnya… Pandanganku pun mentok pada dinding bercat kusam.

Mangkir dari kenyataan bahwa dunia ini tengah dilanda kegoncangan. Membenarkan sisi-sisi kamar yang memberi bukti, bukan janji, kedamaian. Aku pun merebahkan diri di tilam tebalku. Memejamkan mata untuk mencari kedamaian batin. Mengunci panca indera dari sesuatu yang mengganggu kedamaian. Bahwa dunia ini indah, damai, ideal, dan aku suka dunia seperti ini. Dunia seputar kamar, masjid, dan segala hal yang menjanjikan kedamaian. Alunan murottal yang dibacakan seorang Qori dengan fasih, tartil, dan menyentuh kalbu di kamar segi empatku ini. Kumandang tarahim, adzan, dan iqomah yang mengudara lewat TOA. Atau senandung sajak dan syair kehidupan. Asal Bukan Suara Kegoncangan (ABSK)!!!

Aku suka menjadi diriku yang seperti ini. Diri yang fokus pada pencarian kedamaian batin. Menjauhi goncangan. Mengeratkan sandaran. Rebahan pada kata kedamaian. Hingga lelap tidurku. Hingga jauh mimpiku mengelana. Ke taman-taman asing yang indah yang aku tak tau namanya, entah dimana, bilamana. Hanya kata indah dan damai yang menenteramkan. Itu saja deskripsinya. Indah benar. Menenteramkan hati. Menenangkan batin. Sungguh melenakan. Sembari memuji-muji Asma-Mu, Yaa Allah…

Namun sungguh sial teramat sial! Bisa-bisanya mimpiku buyar diporak-porandakan pasukan si Bush. Taman itu dibom. Aku tak terima. Aku bangun. Kehilangan selera tidurku. Masih menggerutu dan menggaruk-garuk kepala yang tak pasti gatal. Nyalakan TV. Sial lagi!!! Palestina membara!!! Makin membuatku tak nyaman. Lalu Online. Lebih Siaaaaal!!! Bukan hanya Palestina yang membara!!! Ada Cechnya, Afghanistan, Irak, Kashmir, Mindanao, Somalia, Pattani, dan sejumlah nama negeri. Itu, negeri itu, negeri dimana Saudara-Saudara se-aqidah-ku dibantai. Sungguh tak terima!!! Surfing makin jauh ke pelosok dunia maya. Menemukan aneka kebusukan dan pembusukan. Penyelewengan dan pengkhianatan. Fitnah, dengki, khurafat, kemusyrikan, kema’siatan, dan aneka sajian jahiliyah lainnya.

Sambil mengelus dada, dan berkali-kali menyebut, detik-detik penuh kedamaian dan keindahan itu pun buyar sudah. Buyar sudah!!! Sebuyar-buyarnya!!!!! Klo sudah begini, mangkir bukan lagi pilihan. Karena dunia tidak senyaman kamar dan ruang masjid ber-AC. Bukan pula setenang taman-taman bunga imaji. Ini bukan soal uzlah atau tidak uzlah lagi. Pokoknya mangkir bukan pilihan. Titik.

*********
*********
*********

Yaa Tuhaaaaan…
Berapa jam tadi aku tertidur sambil ngelantur???!!!
Ini sudah masuk waktu Ashar belum ya???
Astaghfirullohal ‘adzhiiim….

Kisaran, 8 Nopember 2009
Ikhwan Muslim Nasution

Tag:, , , , , , , ,

4 Tanggapan to “Mencari Kedamaian Batin”

  1. hmcahyo November 9, 2009 pada 3:30 am #

    maaf kesasar :)

    • risalahperjalanan November 16, 2009 pada 3:08 am #

      Monggo… ((**__**))

  2. Petir Agustus 23, 2011 pada 5:54 pm #

    Derek langkung,….Mas

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.