TIDUR
Aku memandangi kawan sekamarku ini demikian pulas tidurnya. Nafasnya teratur, naik turun. Ketika menarik nafas, terdengarlah suara serak yang khas itu, ciri betapa lelapnya ia tidur. Aku pun begitulah kira-kira kalau lagi tidur nyenyak. Setidaknya, aku tidak bisa mengelak ketika, Doli Indra Marito Harahap, salah satu Sobat terbaik yang pernah kumiliki itu, menunjukkan karya isengnya dengan bangga: rekaman pose tidurku dalam tayangan video HP-nya. Aku tak berkutik! So, Peace, Harnanto!!!
Ketika dalam kondisi terjaga, Anda bisa sesumbar bahwa Anda adalah manusia terkuat sepanjang sepak terjang kaki Anda. Anda bisa mengklaim bahwa Anda adalah titisan Plato yang tiada taranya abad ini. Anda adalah Pangeran Kerajaan Troya yang sukses mengobarkan pertempuran karena dengan ketampanan Anda berhasil memikat sekaligus melarikan Helen yang masih berstatus isteri orang, tak tanggung-tanggung: isteri kaum ningrat feodal!!!
Tapi lihat, apa yang bisa Anda perbuat jika saat ini ada semut merah yang iseng menggerayangi tubuh Anda—sementara Anda tengah menikmati saat-saat intim dengan Helen of Troy di alam impian—secara leluasa, kemudian sang semut merah menyusuri lekuk-lekuknya, memasuki rongga terdalam telinga Anda, dan dengan ketangkasan yang jitu bak seorang kesatria Achilles yang kenamaan itu memporak-porandakan bagian terdalam dari telinga Anda itu??? Atau, ada seekor King Cobra yang kelaparan menghampiri Anda? Tak usah kusebut lagi tentang kemungkinan-kemungkinan yang sangat mungkin—faktanya sering terjadi di alam nyata—peristiwa-peristiwa naas semacam: kebakaran, gempa, maling bersenjata siaga memasuki rumah Anda, atau misalkan secara mendadak serdadu Amerika Serikat kalap menembaki kota Anda sebagaimana kegemaran yang mereka pertontonkan di Irak dan Afghanistan??? Ini mungkin terjadi, Kawan! Dimana kebanggan Anda itu: kekuatan, kepintaran, ketampanan, kekayaan, dan atau kekuasaan???
Seorang anak Adam yang tidur, tidaklah cukup tangguh untuk diandalkan sekedar menjaga dirinya sendiri dari kemungkinan terburuk yang bisa jadi hanyalah kondisi remeh temeh baginya dalam keadaan terjaga. Manusia yang tidur adalah manusia yang lumpuh dan tidak berguna bagi sekitarnya sepanjang detik-detik ketidurannya. Keberadaannya di atas tilam empuk itu tak lebih dari seonggok tubuh, seonggok beban, yang menekan eksistensi busa kasur, penyebar polusi CO2 ke udara, dan penambah angka pengangguran sesaat yang sama sekali tidak produktif bagi kemaslahatan sekitarnya.
Tak ada bedanya seorang lumpuh total yang terjaga dengan seorang sehat, normal dan tanpa cacat yang tengah terlena dibuai bunga-bunga mimpi di atas tilam empuknya bagi lingkungan sekitarnya! Keduanya sama-sama tak berkontribusi apa pun bagi sekitarnya. Tak peduli ia berpendidikan atau bukan. Tak peduli ia buruh atau pemilik modal. Tak peduli juga dia rakyat jelata yang melarat ataukah seorang Presiden yang kaya raya!!!
Lantas, apa yang akan terjadi jika suatu kaum memilih tidur secara berjama’ah? Pemimpinnya tidur, para ulamanya tidur, segenap rakyat yang hanya bisa menjadi makmum pada shaf yang kesekian di belakang shaf-shaf kaum ningrat berpengaruh pada suatu jama’ah ikut imamnya pula mengamalkan ritual tidur panjang tersebut??? Akan tibakah fajar perubahan menghampiri mereka? Mungkin saja. Mungkin saja mereka tengah bersulang merayakan kejayaan di mimpi yang tak putus barang sedetik pun dalam jarak zaman yang mereka tempuh dalam kondisi mati suri berjama’ah itu: ”Negeri kita ini adalah negeri yang adil, makmur, aman, damai, sentosa, dan terberkati!” Aku tak berani menyebut nasib kaum ini lebih baik dibanding fiksi sang peraih Nobel, Jose Saramago, tentang kebutaan putih massal yang dirangkum dalam Blindness-nya yang fenomenal itu.
Dengan demikian, peluang terwujudnya suatu perubahan konkret berbanding terbalik dengan frekuensi dan periode tidur berjama’ah suatu kaum. Semakin sering dan lama suatu imam memimpin ritual tidur berjama’ah—alamat semakin banyak lah peluang keterjadian dan semakin lama lah kesempatan untuk menikmati mimpi-mimpi abstrak tentang harga diri dan kemakmuran kaum itu—maka semakin kecil lah peluang terwujudnya perubahan konkret dalam kehidupan yang sesungguhnya!!!
Benarlah penuturan Al-Ghazali—semoga Allah menempatkannya di tempat yang mulia—di dalam Ihyaa’ Ulumiddiin, tentang perlunya seseorang yang ingin mencapai derajat kemuliaan di sisi Rabbnya memperhatikan soal tidur ini. Kesimpulan dari semua ini adalah: ”Tinjau ulang lah porsi tidur Anda!”
Jakarta, 04 Juni 2009
Jam 22:27 WIB
Ikhwan Muslim Nasution

