Pudarnya Mimpi-Mimpi, Terbitnya Iming-Iming

2009 Juni 3

Bisa kau saksikan anak-anak muda itu seperti di lemparkan ke masa kanak-kanak mereka? Seakan belum cukup wajib belajar 9 tahun + 3 tahun belajar tak wajib menurut pemerintah sebagai sarana pelatihan gerakan kaku patah-patah dengan komando kaku satu arah itu. Seseorang berbaret merah bertampang kaku di depan, yang dengan bangganya mengumumkan kepada khalayak bahwa jika ia kelak mati akan dimakamkan di pekuburan pahlawan bangsa, dengan lagak El-Comandante yang dipaksakan, secara kaku membentakkan kalimat-kalimat perintah kaku itu. Anak-anak muda itu pun hanya tampak diam. Pasrah dalam gerakan kaku patah-patah itu…

Seperti yang engkau tau, Sobat. Anak-anak muda itu didatangkan dari berbagai planet dimana mimpi-mimpi adalah magnet gravitasi yang menstabilkan posisi planet itu. Di Jurang Mangu, mimpi-mimpi mereka dicoba samaratakan dengan sebuah iming-iming bagus: “sebuah tanah yang dijanjikan”. Mereka dibekali denah lokasi dan kompas satu arah menuju “tanah yang dijanjikan” itu. Sementara mereka lalai dalam persetujuan senyap itu, planet-plenet mereka telah berpindah orbit, hilang, hancur bertabrakan berkeping-keping, atau lenyap dijarah Alien. Sebabnya tak lain dan tak bukan adalah mimpi-mimpi yang t’lah musnah, berganti iming-iming.

Entah kemana kini panji warna-warni yang dulu mereka usung sewaktu pertama kali mendarat di Jurang Mangu. Entah karena terpancang kaku terlupakan di lembah kritis itu sehingga warna-warninya pudar oleh cuaca, aku kurang tau, Sobat. Atau, entah, mereka memang sengaja mencampakkannya, membakarnya, menyembunyikannya, menyimpannya, atau mengamankannya, aku pun kurang tau.

Saat ini, aku hanya bisa mengabarimu dengan sesuatu hal yang—menurutku—agak pasti: “anak-anak muda itu hanya diam saja ketika disuruh masuk ke kolam berisi cat berwarna spesifik yang teramat sangat disakralkan itu. Diam mereka ini, Sobat, adalah diam yang sangat manis. Karena mimik muka mereka masih terlalu muda untuk mahir berbohong.

Kebanyakan dari anak-anak muda ini memiliki mimik muka yang monoton, kaku, dan satu arah dengan komando kaku itu. Aku pun—entah ini akan disebut keterlaluan—memberanikan diri menyimpulkan secara sepihak bahwa mereka-mereka ini adalah bagian dari anak-anak muda yang tunduk patuh sepenuhnya pada komando satu arah yang kaku itu (untuk tidak menyebut mereka sebagai para tertakluk yang menyedihkan!), khususnya ketika prosesi mencelupkan diri ke kolam cat dwi-warna yang teramat sangat disakralkan itu. Aku agak ngeri mendengar komando “pengecatan” ini, seperti suara pembaptis di gurung sahara!!!

Beberapa dari dua ratusan anak-anak muda ini memiliki mimik tersendiri yang khas. Bukan mimik kelelahan atau keluh kesah  karena keduanya adalah sikap-sikap yang manusiawi belaka. Mimik mereka yang beberapa jiwa ini mencerminkan “bara di dalam sekam”. Aku masih meraba-raba berapa jumlah mereka. Ini kusebut sebagai sikap diam yang misterius, berbeda dengan sikap diam takluk mayoritas hadirin lainnya. Khas sekali. Hanya beberapa, yang aku sendiri tak pasti berapa mereka-mereka ini. Aku hanya bisa merasakannya dari dekat tapi tidak terlalu dekat.

Meski sedikit terasa berat mengakuinya, aku berada dalam barisan dua ratusan lebih anak-anak muda ini. Tentang pada sikap diam yang mana aku memihak, biarlah angin sore menjelang maghrib ini membisikkannya secara pelan kepadamu, Sobat.

Surat Terbuka Untuk Sahabatku, Toufan Sougi Saputro,

Jakarta, 03 Juni 2009

Ikhwan Muslim Nasution

2 Tanggapan leave one →
  1. 2009 Juni 3
    ogi permalink

    cat dwi warna?? haha.. tengkukmu sedang diinjak, tanganmu dipasung.. mimpimu diberedel bayonet?? jangan berontak dl, bro.. demi kemaslahatan, tapi biarlah catatan gaibmu jd saksi amal terbesar manusia, amal hatimu. luka di kedua genggaman tanganku jadi saksi aksi pemberontakan aqidah thdp cat2 dwi warna itu. tdk kulupakan panasnya aspal jakarta jam 1 siang, waktu disiplin push up diberikan karena terlambt makan siang dg alasan sholat fardu jumat.

    di tempat baru ini aku temui byk hal realistis yg layak diperjuangkan, medan tempur yg terlalu nyata.. dan sungguh berat ketika aku harus melakukan nya seorang diri. ditambah hati yg selalu terseret ke arah tenggara Batam, JAKARTA.. amantu billah, tsuma staqim.. aku percy akan ada ledakan disana jika kau mulai bicara, jd taatilah sejenak.

    • 2009 Agustus 6
      risalahperjalanan permalink

      Terimakasih, Bro.
      Terimakasih banyak.

      Tetap Semangat!!!

Tinggalkan Balasan

Note: You can use basic XHTML in your comments. Your email address will never be published.

Berlangganan umpan komentar ini melalui RSS