Mencari Kedamaian Batin

2009 November 9

*********
*********
*********

Hanya aku sendiri di sini. Melalui detik-detik di bawah teduh atap kamar dari sengatan bisa dunia. Suara-suara yang hilir mudik di jalanan berdebu sana, tak sampai menembus dinding kaku kamarku. Umpatan dan makian dari majelis pengumpat dan pemaki, juga tak hinggap barang sekejap sepotong muqoddimah-nya pun ke sini. Aku disini, sendiri memaknai waktu. Dengan caraku, juga gayaku.

Hanya suara-suara yang terekam dalam memori sadarku, antara yang nyata dan imaji, sambar menyambar. Debat-debat pemikiran yang sungguh melelahkan itu. Bantah-bantahan yang tak kunjung usai itu. Genderang perang yang bertalu-talu itu. Sangkakala pemangkal sabung nyawa. Denting pedang beradu. Desing peluru yang menyelasar. Dentum mortir sahut menyahut. Raungan sirene ambulance. Isak tangis tertahan. Rintih pilu mengaduh. Jerit histeris meregang nyawa. Laki-laki. Perempuan. Yang tua. Yang muda. Yang bayi. Semuanya sayup-sayup di bawah dominasi suara kipas angin yang kubeli dari toko kecil di bilangan Tjokroaminoto.

Diiringi visualisasi kejadian-kejadian, antara fakta dan imaji. Potret kaku, juga video berantai. Buram dan Baru, susul menyusul. Sorban dan jenggot yang khas. Ruangan masjid yang nyaman, dengan Kursi dan AC yang nyaman pula. Kitab-kitab yang khas. Jama’ah yang berkerumun takzim. Seragam militer lengkap. Tank tempur. Pesawat pengintai. Pembom. Granat. Bangkai manusia disantap anjing. Organ tubuh yang berceceran. Perang. Darah. Air mata. Mayat. Bendera. Dan seterusnya… Pandanganku pun mentok pada dinding bercat kusam.

Mangkir dari kenyataan bahwa dunia ini tengah dilanda kegoncangan. Membenarkan sisi-sisi kamar yang memberi bukti, bukan janji, kedamaian. Aku pun merebahkan diri di tilam tebalku. Memejamkan mata untuk mencari kedamaian batin. Mengunci panca indera dari sesuatu yang mengganggu kedamaian. Bahwa dunia ini indah, damai, ideal, dan aku suka dunia seperti ini. Dunia seputar kamar, masjid, dan segala hal yang menjanjikan kedamaian. Alunan murottal yang dibacakan seorang Qori dengan fasih, tartil, dan menyentuh kalbu di kamar segi empatku ini. Kumandang tarahim, adzan, dan iqomah yang mengudara lewat TOA. Atau senandung sajak dan syair kehidupan. Asal Bukan Suara Kegoncangan (ABSK)!!!

Aku suka menjadi diriku yang seperti ini. Diri yang fokus pada pencarian kedamaian batin. Menjauhi goncangan. Mengeratkan sandaran. Rebahan pada kata kedamaian. Hingga lelap tidurku. Hingga jauh mimpiku mengelana. Ke taman-taman asing yang indah yang aku tak tau namanya, entah dimana, bilamana. Hanya kata indah dan damai yang menenteramkan. Itu saja deskripsinya. Indah benar. Menenteramkan hati. Menenangkan batin. Sungguh melenakan. Sembari memuji-muji Asma-Mu, Yaa Allah…

Namun sungguh sial teramat sial! Bisa-bisanya mimpiku buyar diporak-porandakan pasukan si Bush. Taman itu dibom. Aku tak terima. Aku bangun. Kehilangan selera tidurku. Masih menggerutu dan menggaruk-garuk kepala yang tak pasti gatal. Nyalakan TV. Sial lagi!!! Palestina membara!!! Makin membuatku tak nyaman. Lalu Online. Lebih Siaaaaal!!! Bukan hanya Palestina yang membara!!! Ada Cechnya, Afghanistan, Irak, Kashmir, Mindanao, Somalia, Pattani, dan sejumlah nama negeri. Itu, negeri itu, negeri dimana Saudara-Saudara se-aqidah-ku dibantai. Sungguh tak terima!!! Surfing makin jauh ke pelosok dunia maya. Menemukan aneka kebusukan dan pembusukan. Penyelewengan dan pengkhianatan. Fitnah, dengki, khurafat, kemusyrikan, kema’siatan, dan aneka sajian jahiliyah lainnya.

Sambil mengelus dada, dan berkali-kali menyebut, detik-detik penuh kedamaian dan keindahan itu pun buyar sudah. Buyar sudah!!! Sebuyar-buyarnya!!!!! Klo sudah begini, mangkir bukan lagi pilihan. Karena dunia tidak senyaman kamar dan ruang masjid ber-AC. Bukan pula setenang taman-taman bunga imaji. Ini bukan soal uzlah atau tidak uzlah lagi. Pokoknya mangkir bukan pilihan. Titik.

*********
*********
*********

Yaa Tuhaaaaan…
Berapa jam tadi aku tertidur sambil ngelantur???!!!
Ini sudah masuk waktu Ashar belum ya???
Astaghfirullohal ‘adzhiiim….

Kisaran, 8 Nopember 2009
Ikhwan Muslim Nasution

KRITIK dan OTOKRITIK

2009 Oktober 27

Mengkritik sesuatu yang dipandang tidak ideal di luar diri, itu perlu. Bahkan wajib hukumnya mengingkari kemungkaran. Karena sikap membenarkan, apalagi mendukung kemungkaran, berarti memproklamirkan diri sebagai musuh Al-Haq. Islam adalah Al-Haq. Memususi Al-Haq berarti memusuhi Islam, dan berpaling kepada barisan Thogut yang dikecam oleh Allah swt dalam Al-Qur’anul Kariiim.

Kritik untuk membangun, adalah pengejawantahan sikap mental pribadi yang khas. Khas dalam penentangan terhadap ketidakidealan. Mengkritik bukan sekedar mencaci maki. Menawarkan solusi itulah inti kritik. Idealnya bagaimana. Itu termasuk partisipasi dalam membangun peradaban. Tidak betul juga jika dikatakan para kritikus itu adalah jama’ah omong doank. Justru tanpa kritik, sendi-sendi peradaban ideal akan runtuh, berganti peradaban busuk yang membusukkan manusia-manusia di dalamnya.

Idealnya, mengkritik “mereka” senantiasa dibarengi dengan aktivitas yang proporsional: berani mengkritik “aku”. Seringkali ego diri menutup kebijakan kita untuk memandang dengan jernih. Aneka judgement dipalukan di mahkamah jalanan terhadap pihak-pihak yang melanggar batas idealisme. Itu bagus, jika dibarengi dengan solusi. Dan akan semakin bagus, jika sebelumnya diawali dengan keberanian yang lebih untuk “menelanjangi diri sendiri” di hadapan kaca diri.

Agak emosional ketika kita mendapati orang lain salah. Apakah kita seemosional itu jika kita mendapati diri kita salah? Menarik menyimak ulang rekam jejak kita. Sudah sejauh mana kita melakukan otokritik terhadap risalah perjalanan kita? Apakah kritik itu solutif? Ataukah destruktif? Itu kritik atau makian belaka? Menarik, sangat menarik merenungkannya.

Meski demikian, tidak dibenarkan juga mempersalahkan diri berterusan atas ketidakidealan diri yang gemar mengkritik tanpa tau diri untuk otokritik. Dalam satu sisi, lebih baik seseorang berani mengkritik—meski dirinya belum lagi berani otokritik—daripada pihak-pihak yang hanya berani bungkam (bahkan mendukung) kemungkaran bertahta. Masih lebih baik yang itu. Itu fase awal menuju lompatan yang lebih besar: otokritik (muhasabah diri).

Jadi, selain kritik dalam rangka muhasabah li hukkam, barengilah diri dengan melakukan otokritik dalam rangka muhasabah diri. Nikmatilah sensasinya.

Kisaran, 27 Oktober 2009
IKHWAN MUSLIM NASUTION

Nuansa Pagi (yang diguyur hujan)

2009 Oktober 14

Antara pagi kemarin dan pagi ini, hujan menjadi pembeda. Pada pagi-pagi sebelum pagi kemarin, telah tak terhitung jumlah pagi yang diguyur hujan. Pada bulan-bulan yang lalu, pada tahun-tahun yang lalu, pada abad-abad yang lalu, pada millennium yang lalu, pada…

Hanya pengisi bumi saja yang bergantian menyaksikan pagi diguyur hujan. Atau usia pengisi bumi. Atau aktivitas pengisi bumi. Atau kondisinya. Perubahan-perubahan itu ada pada pengisi buminya, bukan pada pagi yang diguyur hujan.

Seperti perubahan-perubahan yang terjadi pada diri Anda, misalnya. Pada suatu pagi yang diguyur hujan, Anda masih meringkuk dalam dekapan hangat Ibunda. Pada pagi lainnya, Anda tengah asik bertelanjang dada menikmati guyuran hujan dari langit bersama teman-teman masa kecil Anda. Pada pagi yang lain, Anda tengah dalam perjalanan ke sekolah. Di pagi berikutnya, Anda tengah merangkai puisi pertama Anda, diam-diam, di bilik kamar yang sunyi.

Di pagi berikutnya, sebagai mahasiswa, Anda merasa perlu untuk menghadiri Aksi Sosial di jalan yang penuh oleh gejolak darah muda. Pada pagi yang lain, Anda tengah menulis artikel tentang pembebasan manusia dari system dzalim yang melilit kemanusiaan kita, tentang kritik social, tentang tema perubahan, dan tentang analisis dan solusi berbagai problema sosial kemasyarakatan.

Pada suatu pagi yang diguyur hujan, Anda tengah bersiap-siap untuk berangkat ke kantor. Mengecek sekali lagi kelengkapan yang tak boleh alpa dibawa hari ini. Pada suatu pagi berikutnya, Anda tengah bermesraan dengan isteri Anda. Pada pagi yang lain, Anda menikmati kebersamaan bersama isteri dan anak, bercengkerama melewatkan waktu, memaknai waktu, menikmati kebersamaan dengan orang-orang yang dicintai.

Kehidupan di bumi pada suatu pagi yang diguyur hujan akan berlanjut, dengan atau tanpa kehadiran Anda. Sehat atau tidaknya Anda. Baik atau bejatnya Anda. Karena Anda bukanlah pusat pergerakan system kehidupan. Semakin Anda meresapi makna-makna yang terkandung dalam nuansa pagi, seperti pada pagi yang diguyur hujan ini, semakin Anda menyadari, bahwa Anda hanyalah satu titik dari ketakterhitungan banyaknya titik-titik yang diikutkan dalam perjalanan singkat di bumi yang fana ini.

Seperti pergerakan kehidupan Anda. Dari seseorang yang mesti didekap Bunda pada suatu pagi yang diguyur hujan, menjadi bukan siapa-siapa lagi dalam dekapan Bumi, pada suatu pagi yang diguyur hujan juga. Memaknai hidup berarti menyadari keterbatasan diri. Artinya juga, mengikis ego diri yang terlampau sarat dengan ambisi yang sulit dicerna: seperti tidak ingin mati (padahal akan mati), tidak ingin begini (padahal begitulah adanya), dan lain-lain lagi.

Maka, sebaik-baik pagi yang diguyur hujan adalah sebuah pagi dimana engkau mengucurkan darah dan menghembuskan nafas yang terakhir kalinya di medan jihad. Atau, pada suatu pagi yang diguyur hujan, dimana Anda damai dalam Khusnul Khatimah…

Kisaran, 14 Oktober 2009
Pada suatu pagi yang diguyur hujan

IKHWAN MUSLIM NASUTION

Nuansa Malam

2009 Oktober 1
oleh risalahperjalanan

Sebenarnya, kegelapan mengepung sekitarmu. Tapi jadi tak mengurungmu dalam kemencekaman. Cahaya lampu listrik hasil karya anak manusia, membuatmu tak lagi akrab dengan kegelapan. Sebenarnya kesunyian mengepungmu. Tapi setiap orang di zaman ini, tak begitu akrab lagi dengan kekosongan suara. Pengeras suara dari alat-alat elektronik memecah sunyi, menyemarakkan malam yang tak lagi gulita.

Hujan masih terus mengguyur bumi. Tapi hanya sesuara rerintik yang terdengar di luar sana. Kau kini aman dalam kehangatan kamar. Meringkuk dalam kepulasan tidur di tilam tebal yang lunak, lembut, dan memanjakan. Malam yang gelap, sunyi, dan diguyur hujan, kini tinggal keadaan yang hanya tersangkut dalam goresan pena seorang penyair. Atau seorang yang bukan penyair, namun agak dekat dengan suasana yang galau di hamparan kaki langit hati yang mendung dirundung gerimis: kebingungan yang tak berpangkal tak berujung itu…

Aku di sini, mencoba merasakan lagi sensasi orang-orang zaman dulu. Ketika listrik belum ada, dan pengeras suara elektronik belum lagi hadir untuk memecah keheningan malam di lereng-lereng bukit yang disekap kabut embun. Seperti berada di keaslian rupa dunia. Tanpa embel-embel palsu. Alami. Khas. Murni.

Tapi sayang, aku tak bisa berlama-lama di negeri dan zaman itu. Karena aku bukan anak negeri dan zaman itu. Aku hidup di negeri dan zaman yang penuh dengan ketidakalamian, ketidakaslian, ketidakkhasan, dan ketidakmurnian. Disinilah aku, bak satu noktah kecil pada papan iklan komersial raksasa: “Produk Tata Rias Zaman”.

Hanya bisa tercengang sesaat melihat manusia-manusia kasak-kusuk memperjuangkan kosmetik zaman. Bergulat. Berbohong. Memfitnah. Membunuh. Berperang. Bersandiwara. Menjual nurani. Menggadaikan martabat. Menistakan kemanusiaan. Melecehkan ketuhanan!!!

Tercengang seperti itu di keramaian orang lalu lalang, walau sesaat, sungguh membuatmu tampak bodoh. Lebih parah, engkau pantas malu kalau ternyata engkau menyadari bahwa tindakan itu hanya kepura-puraan: pura-pura asing dengan adat kebiasaan modern. Modern??? Istilah baku merujuk pada kasak-kusuk menatarias dunia: agar keriputnya tenggelam dalam sapuan kosmetik. Si nenek tua tampak awet muda: Layaknya Perawan 17-an. Haha…sebentuk pengkebiran nurani juga!

Lalu aku pun melangkah. Tanpa arah. Hanya menggenapkan keberbauranku dengan sesama. Sama-sama tunggang langgang di panggung kemasabodohan. Mengumpulkan pernak-pernik tata rias zaman. Hanya agar tak terlalu ketinggalan zaman di mata orang-orang. Agar eksis di panggung zaman.

Ah, aku lelah berputar-putar di alam sadarku. Aku ingin katakan kepadamu, Kawan. Bahwa sebenarnya, engkau tau apa yang kumaksudkan itu bukanlah tentang gelap, sunyi, dan efek hujan yang lenyap di alam modern ini. Ini murni tentang analogi nurani yang tak sempurna dijabarkan. Tentang nurani para pemuka agama. Tentang nurani para politisi. Tentang nurani rakyat banyak. Itulah. Memang itulah…

Malam masih sama, Kawan. Langitnya gelap, pada puncaknya sunyi, dan hujan malam ini mengguyur dunia yang kian renta. Tapi, nuansanya berbeda sekali….

Kisaran, 30 September 2009

Ikhwan Muslim Nasution

Ruhaniyah dan Jawwu Imani

2009 September 30
oleh risalahperjalanan

Mafahim Islamiyah

Mafahim Islamiyah

Kesadaran hubungan seorang manusia dengan Allah swt (idrak shillah billahi) merupakan pangkal dari ketaatan manusia kepada Tuhan-nya. Melalui ketaatan inilah seorang manusia akan mencapai keluhuran tingkah laku. Dan sebaliknya, melalui ketidaktaatan ini pula lah manusia mengawali tindak-tanduknya di muka bumi ini sebagai manusia yang berakhlak bejat.

Allah swt mengajak manusia untuk berpikir tentang keadaannya dan sekitarnya. Merenungkan fenomena-fenomena alam. Bagaimana dia tercipta. Bagaimana langit dan bagaimana gunung. Bagaimana kematian datang secara tiba-tiba. Dan tentang berbagai hal yang terdekat hingga yang terjauh dari jangkauan inderanya.

“Hai manusia, jika kalian dalam keraguan tentang kebangkitan dari kubur, maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menciptakan kalian dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, supaya Kami jelaskan kepada kalian, dan Kami tetapkan dalam rahim apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kalian sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) sampailah kalian pada kedewasaan…” (QS. Al-Hajj: 5)

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhan-mu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah”. (QS. Al-‘Alaq: 1-2)

“Sesungguhnya dalam penciptaan semua langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” (QS. Ali Imran: 190)

Kesadaran manusia digugah dengan mengajaknya berpikir dan merenungi keadaan diri dan sekitarnya. Memahami hakikat alam semesta. Dari penciptaannya hingga kematiannya. Dan akan seperti apa keadaan hari yang kemudian kelak. Setelah kesadarannya digugah, manusia pun diberi peringatan tentang hubungannya dengan Allah swt dan semua makhluk. Hubungan ini disebut hubungan penciptaan (shillatu khalqi).

Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan. Dan langit bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan? Dan bumi bagaimana ia dihamparkan. Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya engkau hanyalah orang yang memberi peringatan”. (QS. Al-Ghasyiyah: 17-21)

Islam dihadirkan untuk menuntut ummat manusia. Tuntutan itu berisi suatu perintah yang tegas agar manusia mengikatkan diri pada segala perintah Allah swt dan segala larangan-Nya. Suatu tuntutan yang tegas agar manusia memadukan materi (ingat! Manusia adalah sistem hidup yang terbentuk dari materi) dengan kesadaran hubungannya dengan Allah swt (idrak shillah billahi).

“Ikutilah apa yang diturunkan kepada kalian dari Tuhan kalian dan janganlah kalian mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya” (QS. Al-A’raf: 3)

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang beriman dan tidak (pula) bagi perempuan yang beriman, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka.” (QS. Al-Ahzab: 36)

Melalui aktivitas berpikir tentang dirinya, sekitarnya, dan alam semesta, manusia akan menemukan dirinya dalam kekerdilan yang nyata dibanding Yang Maha Agung. Perasaan manusia akan keagungan, kekuasaan dan pengetahuan dari Yang Maha Agung, yakni Allah swt, ini merupakan nilai rohani (ruhaniyah). Ketika perasaan ini terus berkesinambungan, manusia bisa hidup dalam kondisi iman (jawwu imani). Perasaan ini akan mendorong manusia untuk mengikatkan diri dengan segala perintah dan larangan Allah swt. Dengan penuh kesadaran, keridhoan, dan ketenangan (thuma’ninah). Sedangkan aspek ruhiyah (spritual) pada segala sesuatu ialah segala sesuatu itu merupakan makhluk dari al-Khaliq, yakni Allah swt. Aspek ruhiyah ini hanya bisa dipahami oleh mereka-mereka yang beriman kepada eksistensi al-Khaliq.

Wallohu a’lam bi ash-showaab…

Kisaran, 29 September 2009

Ikhwan Muslim Nasution

Bahan bacaan: Mafahim Islamiyah karya Muhammad Husain Abdullah

Ruh sebagai Sirrul Hayat

2009 September 29

Fenomena

Fenomena

“Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: ruh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kalian diberi pengetahuan (tentang ruh) melainkan sedikit..” (QS. Al-Isra’: 85)

“(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat, sesungguhnya Aku telah menyempurnakan kejadiannya dan Ku tiupkan padanya ruh (ciptaan) Ku, maka hendaklah kalian tersungkur dengan bersujud kepadanya” (QS. Shad: 71-72)

Indera manusia yang serba terbatas tidak mampu memahami realita ruh ini. Manusia hanya mampu memahami eksistensi ruh itu melalui penampakan-penampakannya (mazhahir). Mazhahir ruh itu antara lain tumbuh, bergerak dan bereproduksinya manusia. Ketika mazhahir ini sudah tidak ada pada diri manusia, maka dikatakan manusia itu tidak hidup lagi dan pada dirinya sudah tidak terdapat ruh.

Ruh adalah rahasia kehidupan (sirrul hayat). Bukan bagian dari diri manusia, sebagaimana anggapan orang Barat dan orang-orang sebelum mereka, yakni orang-orang Yunani pada masa lampau. Mereka, Barat dan Yunani tempo doeloe, menyatakan bahwa manusia terbentuk dari materi dan ruh. Ruh itu sendiri merupakan pancaran (emanasi) dari zat Allah swt. Luhur tidaknya tingkah laku seseorang ditentukan oleh seberapa kuat pengaruh ruh pada materi. Apabila ruh menguasai materi, maka manusia menjadi luhur tingkah lakunya mendekati kesempurnaan ketuhanan (kamal ilaahiyah), dan sebaliknya.

Ruh yang mereka propagandakan eksistensinya tidak ada sama sekali. Ruh tersebut—yang mereka maksudkan—bukanlah rahasia kehidupan (nyawa), karena secara faktual manusia itu tidak terbentuk dari materi dan ruh. Ruh (rahasia kehidupan) tidak bertambah dan berkurang dikarenakan merosot atau meningkatnya keluhuran manusia. Atau dengan penjelasan lain: ruh itu tidak bertambah atau berkurang sehingga mempengaruhi keluhuran dan kebejatan manusia.

Yang mempengaruhi luhur tidaknya tingkah laku manusia bukanlah ruh sebagai sirrul hayat (rahasia kehidupan), melainkan kesadaran hubungan dengan Allah swt (idrak shillah billahi). Kesadaran hubungan dengan Allah swt ini merupakan sifat thariaah (sifat buatan yang melekat). Manusia dapat meraihnya dari luar dirinya yang mana sifat inilah yang mempengaruhi luhur atau bejatnya tingkah laku manusia. Dengan sifat ini manusia bisa mengontrol naluri-naluri (gharizah) dan kebutuhan-kebutuhan jasmaninya.

Jadi, ruh yang dipropagandakan oleh orang-orang Barat itu bukan merupakan bagian dari manusia, melainkan suatu sifat yang bisa ia peroleh dari luar dirinya yang merupakan kesadaran hubungan dengan al-Khaliq, Allah swt. Ruh tidak bertambah dan tidak berkurang, dan tidak mempengaruhi baik tidaknya tingkah laku seseorang.

Wallohu a’lam bi ash-showaab

Kisaran,   September 2009

Ikhwan Muslim Nasution

Bahan bacaan: Mafahim Islamiyah karya Muhammad Husain Abdullah

Pengantar “Mafahim Islamiyah”

2009 September 25

Bismillahirrohmaanirrohiiim

Washsholaatu wassalaamu ‘alaa rosuulillaah…


ich_sada@yahoo.com673Sebagaimana telah kita pahami bersama, satu hal yang paling mencolok yang menjadikan manusia berbeda dari makhluk Allah swt yang lain adalah kemampuan manusia untuk berpikir. Kemampuan ini adalah keunggulan tersendiri bagi manusia sebagai makhluk terbaik yang Allah swt ciptakan. Tumbuhan dan hewan tidak diberi karunia ini. Demikian juga dengan Malaikat dan Syaithon. Adapun Syaithon, mereka “terlahir untuk menyesatkan ummat manusia”, bukan untuk berpikir layaknya manusia.

Sederhananya, berpikir adalah menghukumi atas realita. Adapun sarana berpikir adalah bahasa. Bahasa itu sendiri bukanlah merupakan suatu pemikiran, melainkan hanyalah alat untuk menggambarkan suatu pemikiran. Sebuah pemikiran bisa memiliki pemahaman, bisa juga tidak. Contoh sederhananya, perkataan “Manusia adalah hewan yang berbicara” dapat disebut pemikiran. Hal ini dikarenakan kalimat tersebut memiliki penunjukan (madlul), yang mana penunjukan ini adalah pemikiran. Penunjukan ini sendiri memiliki realita eksternal yang dimengerti oleh akal manusia: bahwa secara fisik manusia memiliki kemiripan dengan hewan (kera), dan manusia bisa berbicara (dalam bentuk bahasa dan dialog). Terlepas dari shahih tidaknya pemahaman ini, ia adalah sebuah pemikiran yang memiliki pemahaman.

Apabila pemikiran itu tidak memiliki penunjukan seperti perkataan, “Manusia itu terbentuk dari materi dan ruh”, maka pemikiran ini tidak memiliki pemahaman dikarenakan indera manusia tidak dapat menemukan realita penunjukan ini. Akal manusia tidak dapat menemukan pembenaran yang pasti tentang terbaginya manusia ke dalam jasmani dan ruh yang disebut sebagai pembentuk manusia. Oleh karena itu, pemikiran yang menyatakan bahwa “Manusia itu terbentuk dari materi dan ruh” adalah pemikiran yang tidak memiliki pemahaman. Bisa dikatakan, bahwa pemikiran-pemikiran Plato dalam bukunya Republik bukanlah pemahaman-pemahaman karena penunjukan dari pemikiran-pemikiran Plato dalam buku tersebut—pemikiran yang diekspresikan dalam bahasa dalam buku tersebut—tidak memiliki realita yang bisa diindera dalam kehidupan. Dengan perkataan lain, pemikiran tersebut tidak berdasar dan karenanya disebut tidak memiliki pemahaman selain rekaan semata.

Mafahim (pemahaman-pemahaman) itu bisa diperoleh dari tiga jalur. Yang pertama, pemahaman yang diperoleh dari penunjukan-penunjukan pemikiran yang dapat ditemukan secara langsung oleh akal manusia di dalam realita eksternal. Seperti perkataan, ”Manusia itu terbentuk hanya dari materi”. Ungkapan ini bukan hanya makna-makna lafadz, tetapi merupakan ekspresi dari pemahaman yang memiliki penunjukan di dalam realita eksternal, dan akal manusia dapat menemukannya secara langsung.

Yang Kedua, pemahaman-pemahaman itu dapat diperoleh dari penunjukan-penunjukan pemikiran yang akal tidak dapat menemukannya secara langsung. Hanya saja, akal dapat menemukannya melalui jejaknya (atsar) atau dari penampakan-penampakannya (mazhahir), seperti pada perkataan, “Pada diri manusia terdapat potensi (khasiyat) yang dinamai naluri seksual (gharizatun nau’)”. Manusia dengan akalnya tidak dapat menemukan naluri seksual secara langsung karena indra-indranya tidak bisa menjangkaunya. Hanya saja, akal dapat menemukan penampakan-penampakannya. Akal sehat kita mengerti, bahwa manusia sangat mencintai anak-anaknya, menyayangi orang tuanya , dan cenderung kepada lawan jenis. Dengan adanya mazhahir inilah akal kita memahami bahwa spesies manusia akan terjaga keberlangsungannya. Akal memahami keberadaan potensi ini, yakni naluri seksual (gharizatun nau’). Termasuk ke dalam kategori yang kedua ini adalah pemahaman tentang ruh (rahasia kehidupan/nyawa). Manusia menemukan eksistensi ruh dengan menemukan keberadaan penampakan-penampakannya, yaitu bereproduksi, tumbuh, dan bergerak. Ditambah lagi, seorang mukmin dikuatkan oleh dalil naqli (yang merupakan jalur Yang Ketiga) yang berasal dari Al-Qur’an dan hadits mutawatir yang memberi kepastian tentang pemahaman akan ruh.

Yang Ketiga, seperti disinggung di atas, ada pemahaman-pemahaman yang diperoleh melalui pemberitaan dalil naqli yang telah dipastikan keabsahannya. Keabsahannya tidak mampu lagi ditentang oleh akal sehat kita, meski akal sehat kita tidak mampu menjangkau apa yang disampaikan dalil naqli itu secara langsung atau melalui atsar dan mazhahir. Seperti perkara ghaib tentang surga, neraka, dan malaikat yang disampaikan oleh ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits mutawatir. Dalil naqli tersebut memberikan penunjukan yang pasti sehingga pengertian lafadz-lafadznya tidak dapat dipahami selain hanya satu arti.

Tak bisa dipungkiri, tingkah laku manusia senantiasa bertalian dengan pemahaman-pemahamannya tentang kehidupan, karena mafahim itu merupakan standar bagi tingkah laku. Upaya mengubah tingkah laku manusia dari tingkah laku yang rendah kepada tingkah laku yang luhur, harus berangkat dari upaya yang sungguh-sungguh untuk mengubah mafahim-nya tentang kehidupan: dari mafahim yang keliru dan mundur kepada mafahim yang benar dan luhur. Setiap muslim senantiasa harus menanamkan di dalam dirinya bahwa sebaik-baik mafahim adalah Mafahim Islamiyah. Bukan yang lain!

Wallohu a’lam bi ash-showaab.


Kisaran, 24 September 2009

Ikhwan Muslim Nasution

Bahan bacaan:

Mafahim Islamiyah karya Muhammad Husain Abdullah

Seorang wanita muda, berbakat, mandiri, dan mapan…

2009 September 16
oleh risalahperjalanan
Edisi Terbatas!!!

Edisi Terbatas!!!

Seorang wanita muda, berbakat, mandiri, dan mapan bercerita pada seorang wanita muda yang tak seberuntung dirinya dari hitung-hitungan kalkulator zaman: masih muda, pembantu, dan hidup seadanya. Tentang keindahan kota-kota turis yang telah dilanconginya. Tentang ceritera karier dan beban kerja di kantor. Tentang penghasilan yang jauh di atas rata-rata. Tentang kemapanan yang tiada tara. Tentang bintangnya yang terang benderang. Dengan satu intonasi yang sama: tentang superioritasnya dibanding si jongos…

Di bilik lain kehidupannya pun demikian. Kepada semua manusia yang berjenis kelamin laki-laki diproklamirkan: kalian semua sama, tak lebih dari sekumpulan buaya darat yang bisa kutaklukkan! Sebuah tamparan tendensius kepada lain jenis: termasuk Ayah dan Kakek kandungnya sendiri tentunya!!! Kepada semua wanita di luar komunitasnya dikumandangkan: bintang kalian meredup seketika di sisiku. Sebuah kebinalan yang nyata meski dibungkus dengan aneka rupa bentuk dan warna.

Suatu kali, pada sebuah perjalanan ke sebuah kota besar di Nusantara, si wanita muda, berbakat, mandiri, dan mapan itu kembali unjuk gigi. Bukan di hadapan seorang jongos muda seusianya, tapi di sekeliling sesama abdi negara yang tak seberuntung dirinya. Egosentris yang kembali mengundang kontroversi di ruang sempit zaman: tentang ke—the best—an dirinya dibanding khalayak. Lagi-lagi masih soal melukai hati sesama: tentang kesombongan dan keangkuhan yang dipentaskan, lagi-dan lagi. Gonjang-ganjing miring tentang dirinya pun merebak: bahwa ada masalah dengan kesehatan jiwanya, bahwa wanita waras tidak demikian, bahwa…

Menyedihkan sebetulnya, ketika sebuah talenta muda berbakat menjadi antagonisme pada secarik tema ringkas yang hilir mudik di arus zaman: KESOMBONGAN dan KEANGKUHAN. Seakan lupa, bahwa manusia yang satu tak lebih mulia dari manusia lainnya dalam pandangan Allah swt, kecuali dari takaran taqwanya. Seakan lupa, bahwa keglamouran hidup akan berakhir di bilik sempit-sunyi di bawah kulit bumi yang dipijaknya. Seakan lupa, bahwa sekeras apapun suara dalam mempropagandakan keangkuhan duniawi akan berhenti pada satu titik: kematian.

Dan, beberapa masa sebelum ajalnya menjemput: dia telah mendahului ajal dalam hati manusia-manusia waras di sekitarnya. Wal’iyazu billah…

Kisaran, 16 September 2009 / 26 Ramadhan 1430 H
Ikhwan Muslim Nasution

SELAMAT IDUL FITRI 1430 H

2009 September 14

MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN
MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN

Kuburan dan Kematian

2009 September 10

Tadi pagi, seperti kemarin-kemarin, aku berangkat ke kantor. Jalan kaki saja. Dari tempat kos ke kantorku kurang dari 5 menit berjalan kaki. Sekalian menggerakkan badan di pagi hari. Untuk tidak menyebutnya sebagai bagian dari pengiritan. Karena ternyata penduduk di sini cukup langka yang berjalan kaki meski sebetulnya jaraknya hanya sekitar 5 menit berjalan kaki. Untuk soal berjalan kaki, mereka kalah dari anak-anak STAN Bintaro. Bayangkan anak-anak yang kosnya di sekitar Komplek Pondok Safari dan Jalan Ceger Raya jalan kaki ke kampus. Ada juga kafilah-kafilah yang dengan alasan menikmati kebersamaan pada suatu hari yang biasa saja, jalan kaki ke Bintaro Plaza. Memanglah…

Di antara kosku dan kantor, di pinggir jalan, ada penjual “pernak-pernik” kuburan: batu nisan dan pembatas kuburan. Hampir tiap hari aku melihatnya. Bentuknya ada beberapa macam. Namun bisa dikelompokkan pada dua identitas: yang ada corak kubahnya untuk yang muslim, yang ada corak salibnya untuk yang Kristen, disitu jauh lebih banyak dipajang yang bercorak kubah: untuk yang muslim!

Sejujurnya, kemarin-kemarin aku merasa biasa saja melihatnya. Seperti melihat toko-toko kelontong yang menjual pernak-pernik kehidupan. Meski tak seantusias melihat warung makan atau toko buku. Menarik perhatianku, ya. Tapi kesannya sampai disitu-situ saja. Gak jauh dan gak dalam. Gitu doank! Baru tadi pagi…

Aku merasa perlu untuk berpikir tentang pernak-pernik kuburan itu. Kuburan! Kuburan! Kuburan!!! Sungguh celaka, aku bahkan telah terbiasa untuk menjauhkan kata kuburan dari keseharianku. Kematian seperti sesuatu yang meski disingkirkan dari keseharian. Asing, dan tidak relevan dengan keseharianku. Kehadiran kata itu hanya akan mengganggu suasana nyaman saja. Diri ini pun benar-benar telah lalai pada dua kata itu: kematian dan kuburan. Disibukkan soal-soal duniawi: kuliah, ujian, diklat, kerja, dan aktivitas-aktivitas pura-pura sibuk lainnya…

Kalau sudah mati tempatnya di kuburan. Tempatnya jasad. Begitu saja? Alangkah sederhananya kalau begitu. Lantas kemana ruh kita ini bersemayam? “Alam Barzakh”. Lupa-lupa ingat pada nama tempat ini. Yang jelas tempat ini tidak ada di sekitar Jalan Ceger Raya Pondok Aren, tidak ada di sekitar Jalan Perintis Kemerdekaan Kotanopan, tidak juga di Jalan Dr. Mansur Medan, tidak pula di Jalan HM. Yamin Kisaran tempat penjual pernak-pernik kuburan itu. Pokoknya tidak di tempat-tempat dimana sebelumnya aku pernah tertawa ria terlalai dari kata kematian dan kuburan. Tempat itu pun jadinya, asing dan misterius.

Lalu begitulah jadinya. Kuburan dan kematian yang misterius dan hampir terlupakan itu, membayang-bayang. Kematian itu pasti. Kuburan itu menanti. Apa yang harus kupersiapkan? Harta? Tahta? Kuasa? Pengakuan duniawi? Bagaimana dengan Anda???

Wallohu a’lam…

Kisaran, Ramadhan 1430 H / 10 September 2009

Ikhwan Muslim Nasution